Apa itu Esoterisisme?

Gagasan Esoterisisme

Substantif dari ‘esoterisisme’, seperti kata sifat ‘esoterik’, membawa arti-arti yang berbeda di dalam konteksnya, dan ini adalah penyebab utama kebingungan (bukan hanya pada orang-orang yang berada di luar bidang, tetapi bahwa pada orang-orang yang memang mengkhususkan diri pada pengkajian hal ini). Setidaknya lima arti dapat dibedakan dari penggunaan saat ini, hanya arti terakhir yang merujuk kepada subjek buku ini.

Pertama: ‘esoterisisme’ biasanya digunakan oleh penjual buku dan penerbit sebagai sinonim untuk ‘hal gaib | okultisme’; dalam hal ini, kata esoterik berfungsi untuk hal umum untuk koleksi difus tulisan berkaitan dengan paranormal, ilmu gaib, berbagai tradisi kebijaksanaan eksotis, spiritualitas zaman baru kontemporer, dan sebagainya.

Kedua: Kata sifat ‘esoterik’ (mungkin sesuatu yang lebih sering digunakan ketimbang substantif) dapat dipahami sebagai merujuk kepada pengajaran rahasia dan ‘disiplin ilmu misterius’ dengan perbedaan antara initiates dan non-initiates. Ketiga: Dalam wacana studi agama ‘perenialis’ atau ‘tradisionalis’, esoterik adalah konsep metafisika yang merujuk kepada ‘kesatuan transenden | transcendent unity’ dari agama esoterik.

Keempat: Dalam pendekatan ‘para ahli agama’ kepala studi agama, esoterisisme cenderung digunakan sebagai sinonim dekat makrifat dalam menguniversalkan cita rasa dari sebuah kata (yaitu menyelubungi bermacam fenomena agama yang menekankan pengalaman ketimbang mode pengetahuan rasional dan dogmatis, dan mendukung mistik/simbolik atas bentuk-bentuk diskursif ekspresi). Lima: Dari perspektif ketat sejarah, esoterisisme digunakan sebagai konsep wadah yang meliputi kompleks arus saling terkait dan tradisi dari periode modern awal hingga hari ini, asal sejarah dan fondasi asal sejarah dan dasar yang terletak dalam fenomena sinkretis dari Renaissance, 'hermetisisme' (dalam arti luas dan inklusif kata).

Semua definisi-definisi ini mewakili aspek-aspek yang berbeda dari esoterisisme, tetapi kami lebih suka memandang fenomena ini sebuah kecenderungan dalam domain pengetahuan dan pemikiran, dengan pengaruh jelas Aristotelianisme, untuk menemukan dalam setiap wacana ‘sebab-sebab pertama’ — satu sebab universal — di satu sisi dan di sisi lain meninggalkan ‘penyebab sekunder’ — sebagai sebab tertentu yang kebetulan.

Hal ini diungkapkan dalam bahasa esoterisisme sebagai pembagian realitas kepada dua domain atau tingkatan: satu esoterik atau domain internal dan dua eksoterik atau domain eksternal, sementara mencari esoteris atas yang eksoteris. Esoterisisme adalah sebuah kecenderungan berfikir untuk menemukan prinsip universal, dipahami sebagai apa yang umum dan unik di antara banyak. Hal ini tersirat bahwa dalam proses esoterik aneh dari penemuan terletak rahasia tersembunyi, sebagai kebenaran dan tujuan penemuan. Esoterisisme adalah cara berfikir, maksudnya cara menginterogasi. Kami akan mengembangkan karakter dua kali lipat menjadi interogasi esoterik.

Pertama, esoterik dibedakan dari eksoterik. Esoterisisme [adalah] ketertarikan dalam menemukan penyebab interior atau primal daripada deskripsi tak berujung dari fenomena. Setiap pertanyaan esoterik adalah interiorisme sebanyak ia bergerak menjauh dari deskripsi yang mudah dan lahiriah atau jawaban dalam hal bagaimana segala sesuatu atau fenomena muncul. Kedua, bahwa penyelidikan esoterik menjadi penyebab prima yang dipahami sebagai pencarian ke dalam apa yang bersifat universal untuk banyak. Dari awal kami menyimpulkan bahwa penyelidikan esoterik adalah pencarian batin untuk universal.

Selama universal dipandang sebagai perennial, cara berfikir ini dapat disebut ‘filosofi perenis’. Filosofi ini dapat diterapkan kepada domain berfikir apapun, tetapi secara khusus diterapkan kepada persoalan-persoalan yang berhubungan dengan agama. Tanya jawab seputar esoterik benar-benar berbeda dari tanya jawab ilmiah yang paling umum saat ini. Cara mereka memperlakukan objek-objek yang dipertanyakan berbeda secara fundamental. Ilmu pengetahuan akan saling bertanya kepada disiplin ilmu yang berbeda tentang tujuan praktis yang mapan dari masing-masing disiplin yang khas. Tidak satupun disiplin atau bidang ilmu yang mendahului satu sama lain. Pemikiran esoterik mendahului semua bentuk lain pertanyaan dan dengan demikian tampak menjadi pokok. Dalam pemikiran esoterik kami mendekati apa yang esensial dan universal dalam semua hal. Dan ini lebih unggul daripada apa yang kebetulan dan aneh bagi suatu hal atau peristiwa tertentu.

Apa dasar bagi hal yang interior? Ada artikulasi tiga kali lipat: awal, penyebab (beginnings), dan ‘yang dimiliki oleh keduanya’. Dan dasar apa yang ditunjukkan atau diberikan oleh domain ini? Domain ini adalah transendensi. Ini berarti bahwa transendensi dianggap sebagai domain yang lebih asli dan lebih komprehensif dari interior.

Masalah dengan interior transendental adalah bahwa hal itu tidak meninggalkan bingkai metafisika tradisional. 'Interior transendental' dipandang sebagai 'prinsip nalar' atau 'prinsip tertinggi' tampaknya menghalangi sejak awal pencarian terhadap rahasia. Rahasia yang diarahkan dan didefinisikan oleh cara berfikir ini.

Karena rahasia itu adalah tujuan akhir dari pertanyaan esoterik, dia harus dapat diajukan dalam penyelidikan esoterik. Jika hal itu bukan bagian dari pertanyaan esoterik, pertanyaan semacam itu tidak akan pernah mampu mencapai rahasia itu. Maka rahasia itu harus dapat diajukan sebagai hasil pencarian ‘transendental interior’.Penentuan sebelumnya mengenai apa yang menjadi interior berlabuh pada ‘konsep fundamental’ dan ini menentukan pengetahuan itu yang disajikan di tangan. Artinya, bahwa penentuan interior pengetahuan diatur sendiri oleh cara mendasar yang mana pertanyaan diarahkan menujunya: prinsip perenial dan universal realitas.

Ketika secara khusus diterapkan kepada agama prinsip itu menandakan rahasianya hanya dengan mengacu pada apa yang umum bagi semua agama. Dan hal ini dipandang sebagai 'fakta-fakta'. Setiap realias apapun adalah 'fakta minor' tidak layak dipertimbangkan dengan intensitas yang sama seperti fakta esoterik. Perbedaan ini muncul sebagai alat kritis untuk menganalisa dan membedah agama apapun. Ini selanjutnya menunjuk pasti, disadari atau tidak, untuk penciptaan atau pengakuan eksistensi sebelum sinkretisme. Apa yang esensial bagi semua agama adalah, apakah berkembang ke masa depan atau mengalihkan ke masa lalu, oleh sifat sinkretik. Kenyataan ini pada akhirnya menggantikan setiap realitas lain dari agama. Hal ini menyangkal Islam, karena menyangkal bahwa Allah telah menjadikan Islam bentuk akhir agama-agama yang terdapat dalam dan dibatalkan oleh Islam. ‘Fakta esoterisisme, subsisten faktual dari sebuah pemahaman agama terkandung di dalamnya dan karenanya tidak dapat menjadi sumber penerangan untuk pengetahuan esoterik secara apriori. Sebaliknya esoterisisme hanya dapat menjadi rangkaian berputar dari pemikiran-pemikiran yang diciptakan sendiri. Pendekatan semacam itu sendiri harus tetap tunduk pada kritik konstan dalam bentuk analogi dan perbandingan tetapi tidak dapat mencapai melebihi sistem yang diciptakan sendiri tanpa meninggalkannya. Esoterisisme tetap menjadi disiplin rasionalis yang terkandung dalam kerangka tradisional metafisika. Hal ini secara fundamental berbeda dengan Islam. Ketaatan kepada Allah dan keutuhan 'Amal atau kenyataan hidup Islam tidak dapat memiliki validasi atau bernilai apapun dalam pemahaman esoterik. Esoteris tidak dapat melihat Islam sebagai sebuah ‘fakta’.

Islam tetap tersembunyi kepada mereka karena cara melihat realitas dalam agama. Ketika esoteris melihat Islam mereka hanya melihat prinsip Islam dan teologi unitarian.

Pada tingkat yang lebih personal, esoterisisme adalah rute melarikan diri di akhir pekan dari realitas yang dinikmati oleh para intelektual ‘pasca revolusi seksual’. Esoterisisme adalah bagi mereka bagaimana mengelola supaya merasa layak di dunia, sesuai dengan ide ketertiban dan kehormatan, karena telah menyerah pada cara hidup berhala. Mereka tidak dapat menghadapi fakta bahwa dunia yang membuat mereka menyerah adalah sangat berhala dan bahwa mereka begitu melekat padanya sehingga mereka tidak melihat jalan keluar kecuali dalam kumpulan akhir pekan esoterik mereka.

Esoterisisme adalah jalan dari dunia yang gagal. Yaitu jalan tanpa kepemimpinan. Yang menawarkan gerbang palsu kepada spiritualitas tanpa menemukan masalah yang sesungguhnya dengan cara membahayakan mengadopsi cara hidup masyarakat pagan. Karenanya esoterisisme adalah cara hidup hamba dunia dan merupakan instrumen perbudakan. Untuk alasan inilah ide ‘Esoterik Islam’ benar-benar tidak masuk akal.

Fondasi paling umum dan mendasar dari esoterisisme adalah pemisahan antara dua domain, eksoterik atau eksterior, dan esoterik atau interior. Itu adalah metode pendekatan kepada kenyataan yang hanya bertindak memisahkannya, untuk menghindari tertangkap basah oleh intelektual. Sifat alaminya tidak bertujuan apapun, karena sebagian besarnya hanya prasangka saja.

Frithjof Schuon menyediakan beberapa definsi esoterisisme dari perspektif tradisionalisme guénonian:

“Pertama-tama harus jelas dulu mengenai arti kata “esoterisisme”: setiap orang mengetahui bahwa itu menunjukkan suatu doktrin apriori dan metode yang kurang lebih rahasia karena mereka dianggap sebagai melampaui kapasitas terbatas rata-rata laki-laki. Apa yang membutuhkan penjelasan adalah mengapa perspektif ini adalah mungkin dan bahkan perlu, dan bagaimana diterapkan kepada bermacam tingkat eksistensi manusia; semua ini atas pemahaman bahwa hal itu adalah esoterisisme otentik yang dimaksud, dan tidak palsu atau menyimpang, yang diperhitungkan berkompromi dengan kata jika tidak hal itu sendiri, dan yang sering hanya menyanjung kecenderungan untuk pemborosan. Tentu saja, semua esoterisisme tampaknya diwarnai dengan bid'ah dari sudut pandang yang sesuai eksoterisme, tetapi hal ini jelas tidak memenuhi syaratnya jika secara intrinsik ortodoks, dan demikian sesuai dengan kebenaran yang demikian dan dengan simbolisme tradisional yang berkaitan; adalah benar bahwa esoterisisme yang paling otentik kebetulan dapat berangkat dari kerangka ini dan merujuk kepada simbolisme asing, tetapi tidak bisa sinkretis secara substansi yang paling pokoknya. Namun, apa yang menjadi perhatian kami di sini adalah bukan esoterisisme yang begitu banyak dalam sejarah — seperti Pythagorisme, Shivaist Vedanta, Zen — karena esoterisisme yang semacam itu, yang akan kita sebut sofia perenis dan yang dalam dirinya sendiri tidak tergantung pada bentuk-bentuk tertentu, karena memang itu esensi mereka.”

Kami secara khusus tertarik pada esoterisisme yang dikenal sebagai Tradisi. Konsep tradisional dari Tradisi (dengan T besar) pertama kali muncul di akhir abad ke-19. Konsep itu adalah ungkapan modern dari ‘sofia perenis’. Ada tiga jalan tradisi: murni, eklektik dan humanis. Yang pertama diwakili oleh Guénon, Schuon, Nasr dan lain-lain, yang menegaskan kesatuan transendental dari semua agama. Guénon melihat dalam freemasonri dan katolisisme adanya para pewaris, tetapi hanya sebagian, dari ‘Tradisi Primordial’ yang lebih baik diawetkan dalam metafisika hindu. Tradisi bermakna sama dengan kata yahudi Kabbala, bermakna transmisi . Tradisionalisme eklektik diwakili oleh Theosophical Society of Blavatsky dan the World Parliament of Religions of Chicago of 1893. Mereka tidak menekankan pada Tradisi Primordial tetapi mereka lebih menyukai ide ‘keliling belanja’ untuk kesepakatan terbaik (harga paling pas) khas bagi masing-masing individu. Humanis diwakili oleh Gurdjieff dan Jacob Needleman. Sementara para pengikut guénonian bersikeras bahwa dunia sedang berpindah (devolving) dan karenanya solusinya ikut bergerak juga, sedangkan para pengikut gurdjieffian percaya bahwa dunia sedang berevolusi secara spiritual dan mereka menghasilkan solusinya. Mereka semua menggunakan perbandingan agama untuk menegaskan keyakinan mereka dan pandangan khusus mereka. Mereka secara esoterik mengambil apa yang mereka pandang hal biasa bagi semua agama untuk menegaskan pandangan-pandangan pribadi mereka sendiri.

Dalam arti yang lebih luas esoterisisme menyertakan suatu hal yang disebut ‘filosofi gaib (occult)’ dari Renaisans dan pengembangannya yang belakangan: alkemi, paraselsianisme dan rosikrusianisme; kristen dan pasca kristen kabbalah; teosofikal dan aliran iluminis; dan bermacam okultis dan perkembangan yang terkait selama abad ke-19 dan ke-20.