Fenomena Esoterik

Islam adalah satu-satunya Deen yang sah. Allah berfirman dalam Qur’an:

Hari ini telah Kusempurnakan deen mu untukmu
dan menyelesaikan rahmat-Ku kepada mu
dan Aku rido dengan Islam sebagai sebuah deen untukmu.
(Qur’an 5, 4)

Allah telah memilih Islam sebagai satu-satunya agama yang dapat diterima di sisi-Nya dan menyelesaikan serta menyempurnakan Deen yang disampaikan kepada Rasulullah, sallallahu ‘alayhi wa sallam. Islam dimenangkan di atas semua agama lain. Allah telah menganugerahi kita nikmat kuasa-Nya dan kemenangan-Nya dan dengan demikian menyelubungi mereka dari kita dengan selubung batasan-batasan pribadi kita. Bagi alasan ini, kita adalah sumber dari kesengsaraan kita sendiri! Kufr tidak dapat berdiri di hadapan Islam. Itu adalah suatu bid'ah (inovasi) bagi Muslim untuk dikalahkan atau diperintah oleh kuffar; hal tersebut adalah suatu kemustahilan, karena hal tersebut sama saja mengakui bahwa Islam bukanlah deen terbaik di sisi Allah. Islam adalah lengkap dan karenanya Allah telah meletakkan dalam jangkauan kita semua sarana yang kita perlukan untuk memenuhi tugas kita. Kita tidak menyalahkan kuffar untuk masalah-masalah kita. Mereka bukanlah kekuatan yang dapat dibandingkan bagi kita. Islam adalah mungkin dan hidup di sini dan sekarang, sebagaimana sudah berlangsung dan akan terus berlangsung. Islam tidak dapat dikurangi menjadi seperangkat keyakinan abstrak atau sebuah ide yang hilang di masa lalu atau masa depan.

Tidak ada keraguan dalam Kitab-Nya bagi orang-orang yang takut kepada Nya. Bagi orang-orang ini penafsiran dan perintah Qur'an adalah diketahui dan jelas, dan mereka yakin pada penafsiran dan perintah tersebut dan mereka berjuang untuk menunaikan perintah tersebut. Bagian dari pengetahuan Allah terkandung dalam Qur’an adalah untuk mengenali bahwa Dia memiliki kuasa atas segalanya, dan bahwa Dia menjalankan kuasa-Nya tanpa usaha apapun. Adalah kedunguan mengatakan apa yang halal adalah tidak mungkin. Bagaimana bisa Allah memerintahkan kita untuk melakukan sesuatu dan pada saat yang sama membuatnya tidak mungkin bagi kita? Allah telah menjadikan yang halal tidak hanya mungkin tetapi yang termudah. Tinggal dalam haram adalah sulit. Allah telah memberikan semua sarana yang kita perlukan dan kepatuhan adalah resep untuk menemukan sarana-sarana ini ketika sarana-sarana ini tidak jelas bagi kita. Ketundukan kepada Allah memerlukan kerelaan kita untuk patuh kepada poin di mana kita mempertimbangkan bahwa segala sesuatu yang muncul sebagai hambatan hanyalah ilusi belaka. Mengingat hal ini, satu-satunya alasan kenapa Islam tidak ditegakkan adalah kegagalan kita mematuhi Allah, subhanahu wa ta‘ala. Mematuhi Allah, sebaliknya, adalah keberhasilan itu sendiri. Contoh, menegakkan Dinar Islam Emas sebagai media pertukaran adalah akhir instan dari sistem riba yang memperbudak rakyat Muslim hari ini. Apa yang membedakan posisi ini dari posisi orang-orang yang menentangnya adalah kufr. Kufr menyelimuti kenyataan dalam berbagai bentuk, seperti berpura-pura bahwa tidak mungkin mematuhi Allah, atau bahwa tidak mungkin, atau bahwa hal tersebut hendaknya ditunda.

Kepatuhan kepada Syari‘at diterangi oleh pemahaman akan Haqiqat, dan ini adalah ilmu pengetahuan Tariqat. Tasawwuf, atau Sufisme, adalah tentang pengetahuan mengenai Allah atau ma’rifatullah. Ma’rifatullah menempati kedudukan sangat penting dalam Islam. Dengan Izin Allah pengetahuan ini diterima oleh ‘ibadah dan dzikir menurut kapasitas spiritual laten seorang manusia untuk mengetahui Allah, dengan pemahaman langsung atau pengecapan spiritual (dhawq) dan penyingkapan pandangan spiritual nya (kashf). Pengetahuan ini bukanlah berdasarkan pengalaman dari penggalian rasional. Pengetahuan ini bukanlah bersifat kejiwaan tetapi diperoleh dengan metode pemurnian nafs. Pembinasaan nafs adalah istilah dari keadaan Sufi untuk penyingkiran selubung yang membolehkan kita memiliki pengetahuan akan Allah. Keseluruhan urusan ini terjadi dengan Shari‘ah di tempat. Tetapi jika Shari‘ah tidak ditegakkan di sekitar kita, tugas pertama kita yang dituntut oleh pengetahuan ini adalah pemulihan Shari‘ah sebelum yang lain. Sufi kenyataannya adalah pembela pertama Shari‘ah. Itulah sebabnya kenapa tidak jarang menemukan mereka di garis depan Jihad, hanya karena mereka mengetahui bahwa tidak bisa ada pengajaran tanpa perlindungan terhadap Shari‘ah.

Orang-orang yang ingin memisahkan Haqiqat dari Shari‘at adalah keliru. Orang-orang yang ingin melakukan itu atas nama Tasawwuf bahkan lebih keliru lagi, karena hal tersebut tidak benar. Beberapa dari mereka telah menyajikan gambar salah bahwa Jihad al-nafs harus dilakukan sebelum Jihad melawan kuffar, tetapi dalam kenyataannya, Jihad al-nafs adalah untuk menginginkan Jihad melawan kuffar. Mereka khususnya salah ketika mereka berkata bahwa Shari‘ah tidak dapat ditegakkan sekarang karena kita masih belum siap, atau dalih lain semacam itu yang sering didengar dari syi‘ah dan orang yang bersimpati dengan mereka. Ini karena, dalam kosmologi mereka, mereka menunggu Mahdi. Tetapi kita tidak. Ini adalah cara lain mengatakan bahwa ‘apa yang halal adalah tidak mungkin’ dikarekan adanya sejumlah alasan. Tasawwuf menegaskan lagi perorangan dalam pencariannya untuk menjadi hamba Allah ke titik di mana hal-hal yang merupakan hambatan bagi orang lain menjadi fasilitas yang diberikan oleh Allah ta'ala bagi mereka yang ingin mematuhi-Nya dalam membangun Shari'ah. Dengan demikian Haqiqat dan Shari‘at adalah berbarengan dalam Islam.

Dunia Muslim hari ini adalah sebuah dunia tanpa Khalifah. Hal ini adalah suatu keadaan abnormal bagi Muslim. Restorasi Kekhalifahan adalah isu tunggal terpenting yang dihadapi Muslim hari ini, karena Kekhalifahan adalah kondisi penting bagi penegakan Dar al- Islam, dan Dar al-Islam adalah kondisi penting yang tanpanya Islam tidak dapat secara lengkap dipenuhi. Penyimpangan esoterik adalah sebuah bagian penting dari pemahaman terungkapnya peristiwa yang terjadi sebelum dan sesudah penghapusan Kekhalifahan.

Hukum Islam adalah satu-satunya Hukum Universal, yang selalu diterapkan di setiap tempat. Tidak seperti hukum manusia di mana pun, tidak memerlukan persetujuan siapapun dan tidak seorangpun dapat lari darinya. Kebenaran dan keandalannya melebihi hukum gravitasi dan adil sebagaimana tidak seorangpun yang waras akan meloncat dari jendela, tidak seorang pun yang mengetahui akankah, dalam pikiran benarnya, melawan Hukum Allah. Namun kita hidup di jaman riba, yang merupakan kejahatan yang diharamkan oleh Allah. Allah telah berfirman dalam Qur’an (2, 274):

“Allah telah menginzinkan perdagangan dan mengharamkan riba.”

Kita jelas berlawanan dengan: kami telah mengharamkan perdagangan (diganti dengan distribusi monopolistik) dan kami telah mengizinkan riba (sistem perbankan).Bukan kebetulan bahwa pada masa penyimpangan esoterik riba barangkali adalah kejahatan paling biasa. Penyimpangan dan kejahatan ini memiliki kesamaan sejarah dan memiliki tujuan yang sama. Tidak ada standar moral yang dapat didasarkan pada bersikap pasif terhadap riba. Tetapi, alhamdulillah, riba begitu ekstrim hari ini sehingga lebih jelas ketimbang sebelumnya. Hal ini berarti pada gilirannya yang menjelaskan aspek penerapan hukum Islam yang dinyatakan akan tetap paradoks atau tidak jelas. Pelaku riba bukan hanya bankir, setiap orang yang menggunakan sistem perbankan adalah pelaku riba. Hal ini adalah jelas dalam hadits. Kutukan riba adalah, menurut Rasulullah, sallallahu ‘alayhi wa sallam, atas orang yang menawarkan dan orang yang menerima. Dan menurut versi lain dari hadits yang sama dalam Al-Muslim, kutukan atas dua saksi. Untuk memenangkan pertempuran ini kita tidak dapat berada di atas tempat para pelaku riba, kita harus menciptakan jalan keluar dari sistim perbankan dan ini adalah Perdagangan Islam. Hal terpenting untuk dipahami bahwa pemenuhan Hukum adalah sarana untuk menyingkapkan masa kini kita dan keadaan serta peristiwa di masa lalu, dan hal itu melapangkan jalan ke depan. Kepatuhan kepada Allah berimplikasi pada peninggalan riba. Pendekatan esoterik entah itu menyepelekannya, atau berkata, “saya menentang riba” tetapi tidak melakukan apapun untuk itu karena anda tidak dapat melakukan apapun yang efektif untuk melawannya.

Tidak mengetahui apa yang hendak dilakukan untuk menentang riba atau tetap pasif dengan perasaan ketidakberdayaan dan impotensi adalah bagian dari sakit dari penyimpangan esoterik. Untuk menghalangi jalan kepada kepatuhan, artinya berkata, kehilangan kapasitas mematuhi Hukum untuk alasan ini itu adalah aspek paling khas dari penyimpangan ini. Penyimpangan ini tidak meniadakan Islam, tapi sekedar menyangkal bahwa Islam dapat dicapai di sini dan sekarang. Dan ketika ingin tampil kredibel, Islam diredusir menjadi semata prinsip-prinsip dan hak-hak, yang tidak berarti apapun bagi kita ketika dibandingkan dengan kepatuhan.

Allah dalam kebijaksanaan-Nya telah mendeklarasikan perang terhadap para pelaku riba. Kita dapat melihat bahwa hal tersebut persis seperti yang terjadi sekarang. Hal tersebut memberi kita kesempatan untuk melihat dengan jelas, dan menawari kepada orang-orang yang takut kepada-Nya suatu pemahaman akan keputusan untuk berbuat di sini dan sekarang. Halal dan haram keduanya adalah bukti dari kuasa Allah. Kita akan melihatnya dengan jelas jika kita melihat dengan benar. Dan jika anda tidak dapat melihat dengan jelas tidak perlu ada misteri, karena hal-hal menjadi jelas bagi anda dan tidak menjadi rumit lebih jauh lagi. Apa yang kita perlukan adalah Allah! Kita tidak memerlukan yang lain lagi. Bergantung pada-Nya adalah kemenangan, karena Dia mengasihi kita meminta kepada-Nya. Kepercayaan dan ketergantungan pada-Nya adalah metode keberhasilan. Dan ini adalah lawan dari pengajaran penyimpangan esoterik.

Pengalaman esoteris

Sebagaimana saya sebutkan di awal, karakteristik kunci dari filosofi esoterik adalah pemisahan antara sebuah domain esoterik dan eksoterik. Eksoterisme secara hierarki diposisikan di bawah esoterisisme, dan dalam beberapa kasus disampaikan sebagai sebuah lawan bagi jalan esoterik. Esoterisisme adalah, meskipun ada sejumlah kebingungan pada subjek, sesuatu yang terpisah dari agama dan Islam. Ia memiliki pemahaman otonom sendiri pengetahuan yang independen dari apa yang mereka lihat sebagai bentuk eksterior, norma dan ritual agama tertentu, meskipun mungkin membuat beberapa kegunaan hal-hal ini. Semua unsur-unsur eksterior agama jatuh di bawah domain eksoterik. Esoterisisme berada dalam filosofi ini, di atas semua unsur eksterior, yang dianggap berguna tetapi tidak perlu dan terkadang menjadi penghalang bagi ‘pengetahuan yang sebenarnya’. Esoterisisme, mereka berkata, ada di atas agama. Ini adalah alasan mengapa pengalaman esoterik muncul sangat mirip dengan yang ada pada agnostik. Esoteris, seperti agnostik, tidak ingin atau tidak memerlukan kepatuhan. Bagi esoteris kepatuhan kepada Allah tidak dianggap dalam dirinya sendiri sebagai bagian integral dari pengetahuan, tidak seperti dalam Islam, tetapi hanya sebagai alat dengan referensi simbolik kepada makna esoterik tersembunyinya. Alasan kenapa esoteris tidak patuh adalah: karena tidak penting, atau tidak mampu untuk, atau bukan waktu yang tepat. Ini adalah semua aspek dari pengalaman esoterik.

Pengarang Perancis dari buku L’esoterisisme menulis: “Kita tinggal di sebuah medan peperangan di mana cahaya dan kegelapan bertarung. Cahaya membutakan, tidak ada yang dapat dilihat; kegelapan membingungkan, tidak ada yang dapat dilihat. Bagaimana melihat?” Dunia terlihat oleh esoteris bahwa dunia berada dalam konflik, dipimpim oleh pasukan jahat atau setan. Gambar ini begitu kuat sehingga mendominasi pandangannya. Dengan demikian tidak biasa bagi mereka menyebutkan setan lebih dari mereka menyebutkan Allah. Umumnya, mereka tidak dapat memenuhi tugas-tugas mereka karena kekuatan jahat menghalangi mereka. Ketika kita melihat ke bagian kedua dari pernyataan luarbiasa di atas: “Cahaya membutakan, tidak ada yang dapat dilihat; kegelapan membingungkan, tidak ada yang dapat dilihat,” hal tersebut mengungkapkan isu lain. Maksudnya meskipun mereka mengatakan bahwa mereka percaya kepada Tuhan, dan mengatakan bahwa Tuhan adalah Maha Kuasa, “cahaya membutakan”. Mereka sedang mencari sumber lain. Ketika seseorang menguji cara mereka bertindak dan cara mereka melihat tindakan mereka sendiri, adalah jelas bahwa ketika bereka berfikir Allah adalah Yang Maha Kuasa, di dunia chaos ini setan adalah lebih praktis. Bagaimana bisa dinyatakan bahwa mereka menyerah kepada cara hidup yang secara esensial meniru orang-orang yang mereka benci dengan penuh semangat? Bagaimana mungkin mereka menemukan diri lumpuh dari membedakan diri mereka sendiri? Karena cahaya membutakan mereka, mereka tidak dapat menemukan panduan di dalamnya. Antara Cahaya dan Kegelapan mereka tinggal di dalam bayang-bayang. Bentuk ekstrim dari hal ini adalah Setanisme murni, namun kebanyakan mereka barangkali tidak setuju dengan julukan ini.

Esoteris tidak menerima dogma etik agama apapun. Tetapi hal ini adalah sebuah dogma etik. Ini adalah seperti orang-orang yang berkata bahwa mereka tidak memiliki program ekonomi/politik. Tidak memiliki program ekonomi adalah memiliki program ekonomi. Program mereka adalah menerima pandangan pragmatis menerima hal-hal karena datang bersama, membuat yang terbaik dari hal-hal itu. Dari sudut pandang ini esoteris adalah orang yang paling praktis. Ini adalah kunci karakteristik dari cara hidupnya, karena mereka juga memiliki suatu cara hidup. Kepatuhan kepada Allah digantikan dengan suatu moral buatan yang disesuaikan dan lebih mudah, yang berbunyi, “saya melakukan apa yang saya dapat. Dan hal ini adalah lebih baik dari tidak melakukan apapun.” Moralitas ini, yang menghindari kegagalan dengan meng-entengkan tanggung jawab, diatur dalam batasan-batasan yang diciptakan oleh diri sendiri dan stereotips moral. Di antara stereotips-stereotips moral ini, satu dari yang paling disalahgunakan dan biasa adalah apa yang sekarang disebut filantropi. Pelaku esoteris seringkali pelaku filantropis, sebagaimana dalam kasus George Soros, financier yahudi, yang menyebut dirinya seorang filantropis berdasarkan sumbangannya dari uang yang dia peroleh dengan meruntuhkan jutaan orang di Asia Tenggara. Sebuah perkataan dari abad kesembilanbelas diucapkan secara ironis mengenai jenis sumbangan tersebut: “Dia memberi bantuan sumbangan pada hari Minggu kepada orang miskin yang dia hasilkan dari Senin sampai Sabtu.” Filantropi, atau sumbangan tanpa keadilan, adalah munafik. Dalam kebenaran, bentuk tertinggi dari ‘fil-antropi’ adalah mengejar keadilan, sedangkan keadilan milik Allah.

Aspek penting lain dari pengalaman esoterik adalah rahasia dan kerahasiaan. Pengetahuan esoterik secara mendalam terhubung kepada suatu pandangan aneh inisiasi. Pengetahuan esoterik adalah milik orang-orang yang terinisiasi di dalamnya, dengan penekanan pada pengecualian akan orang-orang yang tidak terinisiasi, yang disebut kekudusan (profane). Pengetahuan secara sadar disembunyikan dari kekudusan: pengetahuan dibuat rahasia. Inisiasi yang terlihat dalam jalan ini mengambil karakter pengecualian atau sektarianisme sebagaimana sering diatributkan kepada kelompok-kelompok masonik, dan juga sebuah unsur dari kebutuhan untuk tergabung kepada elit khusus yang dipilih. Inisiasi lebih penting daripada pengajaran, dan memang inisiasi telah menjadi doktrin itu sendiri. Kami membedakan guru yang berkata, “Engkau membutuhkan saya untuk mengetahui” dari guru yang berkata, “Engkau hanya membutuhkan Allah.” Guru yang pertama adalah guru palsu, dan dengannya tidak ada pengetahuan sejati yang mungkin.

RAHASIA DAN IDE KEMAJUAN

Rahasia dan misteri bertahan sebagai kerangka normatif. Rahasia adalah cara berfikir. Hal ini begitu penting dalam esoterisisme sehingga jalan esoterik telah dirujuk sebagai jalan misteri. Rahasia diangkat menjadi sakral, bukan keluar dari diskresi tetapi sebagai bagian dari metode. Rahasia tersebut adalah anti-dogma: rahasianya adalah tidak ada rahasia. Hal tersebut membuka kemungkinan selamanya berada dalam kebutuhan persaingan atau evolusi menuju beberapa bentuk kesempurnaan, yang merupakan basis ide esoterik kemajuan. Kemajuan (progress) adalah bahasa dari tujuan spekulatif yang tidak berbatas.

Penting untuk menekankan betapa asingnya ide-ide ini bagi Islam. Islam didasarkan kepada pengetahuan yang diungkapkan (Wahyu). Artinya adalah penegasan mutlak didasarkan kepada keyakinan (yaqin) atas Wahyu. Wahyu bukanlah rahasia. Wahyu ini telah menegaskan bahwa Islam adalah lengkap dan sempurna, karena itu tidak ada rahasia. Dari sudut pandang spiritual ‘kita’ adalah rahasia dari Wahyu, sebagaimana hal nya Qur’an secara tetap menerangi jalan kita menuju pencapaian pengetahuan. Islam menyangkal kemungkinan atas pelengkapan atau evolusi atas kesempurnaan. Karena itu, konsep seperti kemajuan, atau pengembangan atau kesempurnaan ketika diterapkan kepada hidup manusia atau sejarah dalam Islam seharusnya merujuk kepada kedatangan manusia yang lebih dekat kepada jelas serta menegakkan jalan Islam yang permanen dan tidak berubah mengenai cara hidup yang dipraktekkan oleh Rasulullah, sallallahu ‘alayhi wa sallam. Usaha keras ini adalah satu-satu nya hal yang dapat disebut kemajuan.

Kapasitas istimewa manusia adalah bahwa dia mampu untuk mengetahui Allah. Peradaban (civilisation) tidak dapat terdiri dari kemajuan pada penemuan mesin atau peningkatan kecepatan dari penggerak. Peradaban adalah percaya kepada Allah yang mempertahankan sebuah masyarakat tetap bersama; tanpa itu, maju dalam keahlian mesin hanya melengkapi masyarakat dengan lebih banyak senjata untuk merencanakan penghancurannya sendiri. Kemajuan yang sesungguhnya terdiri dari bertumbuhnya pengganti dari ketidaktahuan dan tahayul yang diganti dengan pengetahuan akan Allah dan dengan demikian mengganti kekuatan kasar dan keinginan yang sewenang-wenang dengan ketundukan kepada Hukum Allah. Di kebanyakan negara modern hak-hak fundamental tertentu seperti perlindungan orang dan properti, membenarkan praktek riba meskipun ada perintah jelas yang dibuat oleh semua Nabi-nabi. Apa kegunaan ‘kemajuan mesin’ ketika kemajuan tersebut menyediakan ketidakadilan dari sebuah sistem ekonomi yang kriminal?

Kemajuan, sebagaimana kita akan pahami kemajuan itu di dalam Islam, mengandaikan sebuah situasi di mana Muslim itu sendiri atau masyarakat Muslim menemukan diri mereka bingung atau sesat bukanlah kemajuan. Dalam kasus ini ‘kemajuan’ tidak lain hanyalah kembali kepada Sirat al-Mustaqim, atau sekedar mendekat kepada model sempurna dari Rasul Allah, sallallahu ‘alayhi wa sallam. Usaha keras ini memerlukan suatu perubahan dan pengembangan menuju tujuan itu, tetapi tujuan kita bukanlah berubah atau secara tetap tergelincir dari cengkeraman pencapaian. Bagi kita hidup memiliki arah yang pasti dan tujuan akhir yang harus dicapai. Jika arahnya masih kabur, masih dalam proses mewujud, sebagaimana sekarang, sedangkan tujuan nya pun masih belum final, maka hasilnya adalah kemajuan tidak dapat mewujud, melainkan meraba-raba dalam kegelapan.

Rahasia esoterik sebagaimana fondasi transendental juga merupakan desersi tindakan. Rahasianya menentukan dan mengambil alih kehadiran. Rahasianya timbul dengan cara sedemikian sehingga perbuatan nyata menjadi tidak timbul, atau tidak diperlukan dengan segera. Perbuatan nyata ditinggalkan oleh presentasi berturut-turut dari dasar yang tidak diketahui, sang rahasia. Ini adalah suatu bukti lemah syahwat, mungkin kebingungan, dalam menghadapi realitas dan ketaatan kepada perintah yang jelas dari Allah. Semua pelaku esoteris dapat menawarkan penundaaan, yang dijual dengan ide kemajuan, yang diperlukan untuk tanpa henti mendamaikan prinsip-prinsip metafisik tinggi mereka dengan perbuatan mereka sendiri di sini dan sekarang. Secara eksistensial perbuatan mereka mewujud sebagai konsensus pragmatis murni yang disahkan dalam istilah-istilah transendental. Teori aksi mereka memerintahkan fakta menurut salah satu titik fokus: moral ‘apa yang saya dapat lakukan’. Di luar itu, kenyataan berakhir atau diduduki oleh misteri. Walaupun mereka menyangkal ‘kekakuan’ dari Wahyu mereka menempatkan fantasi yang paling tidak nyata pada prinsip-prinsip konseptual seperti demokrasi, toleransi, kemajuan atau hak asasi manusia dalam suatu etos milenarian atau eskatologis.

Ketika bicara kepada Muslim tentang rahasia Surat al-Fatihah, ia tidak mengatakan bahwa ada unsur-unsur dari Fatihah yang tidak hadir, seolah-olah ada potongan-potongan yang hilang atau perlu ditambahkan. Bukan demikian perkaranya. Fatihah diketahui oleh semua Muslim, dan bagi semua Muslim adalah sama. Fatihah, sebagai bagian dari Qur’an, adalah abadi. Tidak akan berubah. Jadi, ketika Muslim bicara tentang rahasia Surat al-Fatihah, dia merujuk kepada kebijaksanaan tanpa akhir yang dapat dia hasilkan dari membacanya dan dari mendengarkannya. Dan ini dianugerahkan, saat Allah telah memberi izin-Nya, oleh keadaan atau kondisi orang yang membaca atau mendengarkan itu. Dengan demikian dua orang yang berbeda dapat membaca Surat yang sama dan mendapat manfaat secara berbeda menurut derajat mereka dengan Allah.

Regulasi dari cara berfikir esoterik ini terletak di dalam reduksi atau pandangan sinkretik yang mengatributkan suatu karakter transendental kepada generalitas dan kepada prinsip-prinsipnya. Hal tersebut menggantikan yang terjadi setiap hari dengan general dan Allah dipandang sebagai beberapa versi dari absolut, suatu prinsip unitarial atau Arsitek Agung (Great Architect) dari Alam Semesta. Ini adalah lawan dari pengetahuan. Allah telah memberikan kepada umat manusia kebijaksanaan dan menyelubunginya dari kita dengan diri kita sendiri. Pembukaan selubung adalah suatu proses kepatuhan dan suatu proses pengetahuan pada waktu yang sama. Prinsip esoterik kadaluarsa dan digantikan oleh prinsip yang lainnya. Kepatuhan bukanlah sebuah prinsip, bukan fenomena empirik maupun positif yang diberikan. Kepatuhan tidak akan kadaluarsa. Esoteris memiliki keyakinan metafisik. Masalah metafisika sebagai dasar perilaku manusia adalah diasosiasi implisit dari penanya atau orang beriman dari pokok bahasan atau keyakinan. Ini adalah apa yang kita rujuk di atas sebagai “saya seorang anti pelaku riba dalam pikiran saya.” Menjadi ‘penentang riba’ adalah prinsip yang luar biasa. Tetapi untuk mencetak sekeping Dinar Emas Islam dan mengedarkannya adalah penegakan efektif dari perdagangan yang memusnahkan riba.