Fondasi Esoterik

Pengingkaran

Ide tradisionalis tentang ‘pengingkaran’ berasal dari ide 'Tradisi Primordial' yang awalnya milik manusia. Sejak itu, menurut pandangan ini, ras manusia ada dalam proses tetap pemisahan atau memungkiri kepemilikan kebijaksanaan asli yang meliputi semua, yaitu kebijaksanaan yang sesuai dengan cara hidup orang-orang terdahulu. Keadaan asli ini dapat disamakan dengan konsep pusat primordial atau Tradisi. Pusat primordial ini adalah hal yang dilambangkan, dalam tradisi kristen yahudi, sebagai Surga Dunia.

Menurut pandangan ini, pengetahuan akan prinsip kebenaran telah ada, dari permulaan, milik bersama seluruh umat manusia, dan kemudian telah terungkap dalam sistem teologis tertinggi dan paling sempurna dari zaman sejarah. Tapi kemerosotan alami telah menimbulkan pemisahan esoteris dari yang eksoterik, menghasilkan keterpisahan lebih jauh dari Tradisi asli. Esoterik dan Eksoterik asal muasalnya dari Pengingkaran (the Fall). Pengingkaran menghasilkan pemisahan dari pengetahuan. Di Barat, makna yang lebih dalam menjadi esoterik dan secara bertahap dikurangi terus-menerus hingga menjadi kabur, dan hal-hal ritual menjadi diperkuat sedangkan praktek formal dari ritual-ritual itu terus-menerus dipisahkan dari pengajaran orisinalnya.

Orientalis R.W.J. Austin membuat definisi menarik mengenai pendekatan universalis:

“Dr. Stoddart telah menghasilkan sebuah karya mengenai Sufisme dengan judul [Sufism. The Mystical Doctrines and the Methods of Islam] yang menyediakan informasi bagi para pembaca serius pendekatan universalis sejati, yang di dalam buku itu dia telah menjaga dengan tegas dan jelas dalam pandangan pembawaan Islam dan konteks sufisme, sambil memakai perbandingan dengan tradisi agama lain di mana perbandingan semacam itu menerangi prinsip-prinsip dasar yang umum dan tidak mengaburkan perbedaan-perbedaan yang nyata dan takdir (providential) dari perspektif spiritual, pertimbangan sangat penting dalam setiap studi sah apapun dari agama-agama dunia.”

Dualisme

Penulis Perancis Pierre A. Riffard, sarjana yang menggemari esoterisisme, menulis pada kalimat pertama bukunya yang berjudul L’Esotericisme:

Bagaimana bisa kita tertarik pada suatu hal semacam esoterisisme? Kita hidup di medan pertempuran di mana cahaya (lumières) dan kegelapan (ténèbres) bertempur.”

Daya tarik ini dengan konflik dualisme fundamental adalah jantung dari keseluruhan pandangan dunia esoterik. Sebuah pandangan yang disifati oleh pertempuran metafisika dua sisi, di mana hal yang misterius dan yang tidak dikenal mendominasi hal yang pasti dan dikenal. Akibatnya, upaya untuk mengetahui yang tidak diketahui menimpa urusan-urusan untuk mengetahui yang diketahui. Dengan demikian manusia benar-benar kosong dan kehilangan segalanya karena apa yang tidak dia ketahui menjadi ganti apa yang dia percayai atau apa yang dia lakukan. Dalam skenario ini, dunia adalah rumit, kabur, ambigu dan misterius. Akses kepada atau kemampuan menafsirkan hal yang ambigu atau misterius dipandang sebagai cahaya atau kebaikan itu sendiri, sementara ketidakmampuan mengakses dipandang sebagai iblis.

Itu adalah pendapat palsu di antara beberapa ulama syi'ah bahwa ada dua kekuatan di Alam Semesta: kebenaran dan dusta, dan hal ini sekarang dipeluk oleh beberapa Muslim yang sederhana. Pandangan dualistik ini tidak berdiri. Kepalsuan tidak berdiri di hadapan Kebenaran. Kepalsuan bukanlah kekuatan lain. Allah ta‘ala berfirman di Qur’an Surat Al-‘Isra, “Katakanlah: ‘Kebenaran telah datang dan kepalsuan telah lenyap. Kepalsuan akan selalu musnah.’” Tidak ada kekuatan kecuali bagi Allah. Hanya ada Allah tanpa sekutu atau pembanding. Dualisme adalah pandangan pengikut zoroaster yang asing bagi kita. Kekuatan negatif ini dijelmakan oleh syaitan, atau setan, yang mengambil peranan jauh di luar apa yang disajikan di Qur’an. Setanisme bukanlah ibadah ritualnya syaitan — walaupun mengarahkan kepada hal itu — setanisme memberi setan kekuatan yang terlepas dari kekuatan Allah subhanahu wa ta‘ala. Firman Allah:

Kapanpun engkau membaca Qur’an, berlindunglah kepada Allah dari syaitan yang terkutuk, setan tidak memiliki kekuasaan atas orang-orang yang percaya dan tawakkal kepada Rabbnya, setan hanya memiliki kekuasaan atas orang-orang yang mengambilnya sebagai teman dan karena orang itu menyekutukan yang selain Allah dengan Allah. (Qur’an 16, 98-100)

Allah menyebutkan syaitan yang terkutuk sebagai melakukan hal-hal yang berikut:

mem-provokasi, menggoda, menyusup (insinuating), menakut-nakuti, membisiki, menyebabkan kesedihan, memicu masalah, menyebabkan orang lupa, licik, ingin menyesatkan Muslim. Allah menyebutkan bahwa syaitan bisa jenis manusia dan bisa jenis jinn, dan bahwa mereka adalah musuh kita dan teman-teman kuffar:

Dengan demikian Kami telah menunjuk sebagai musuh bagi setiap Nabi setan-setan dari jenis manusia dan jinn, yang menginspirasi satu sama lain dengan khayalan dengan memakai ucapan muluk-muluk. Jika Rabb mu menghendaki, mereka tidak akan melakukan itu, jadi tinggalkanlah mereka dan semua yang mereka karang. (Qur’an 6, 113)

Tidakkah Aku membuat kontrak dengan kalian, wahai anak Adam, untuk tidak menyembah setan, yang benar-benar musuhmu yang nyata, dan untuk menyembah-Ku? Ini adalah Jalan yang Lurus, setan telah mengarahkan sebagian besar dari kalian kepada kesalahan. Kenapa kalian tidak menggunakan kecerdasan kalian? (Qur’an 4, 59-61)

Mengapa kamu tidak hendak Berperang di Jalan Allah untuk membela kawan-kawanmu yang lemah, pria, wanita maupun anak-anak padahal mereka telah sama-sama mendo'a: "Wahai Tuhan kami! Keluarkanlah kami dari negeri Mekah yang zalim penduduknya ini. Berilah kami dari sisi-Mu seorang Pelindung dan beri pulalah kami dari sisi-Mu seorang Penolong." Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, sedangkan orang-orang yang kafir berperang di jalan setan. Karena itu perangilah komplotan setan itu. Sesungguhnya daya tempur setan-setan itu amat lemah. (Qur’an 4, 74-75)

Setan tidak memiliki kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Allah. Jihad di Jalan Allah adalah memerangi kawan-kawan setan, kuffar. Tipuan lemah setan adalah menciptakan alasan palsu bagi anda untuk tidak berperang. Orang yang menyembah setan berzikir secara tetap kepada setan. Mereka bicara tentang memerangi kekuatan jahat tetapi mereka menyangkal Jihad melawan kuffar. Ini adalah penyangkalan tersirat dari Jihad melawan kuffar sebagai Jihad fisik melawan orangnya. Lebih jauh lagi mereka mengklaim bahwa Muslim hanya memerangi non-Muslims atas perintah Setan, ketimbang perintah Allah.

Tarekat Tasawwuf adalah bahwa mu'min selamat dari setan dengan perlindungan Allah ta‘ala. Shaykh Ibnu ‘Ata’illah berkata dalam kitab Hikam beliau, “Karena Anda tahu setan yang tidak akan pernah mengabaikan Anda, jangan abaikan Dia yang merenggut jambulmu di Tangan-Nya.” Dia juga berkata, “Serangan nyata terhadap musuh adalah pekerjaan anda dengan cinta Sang Kekasih.”

Setanisme

Setanisme adalah ketika setan diberikan sifat-sifat atau aturan-aturan yang hanya milik Allah. Hal ini bukan hanya membandingkan Allah kepada setan seperti halnya musyrikun, tetapi termasuk kepada menggantikan Allah dengan setan, menunjukkan bahwa perintah Allah bukan benar-benar perintah Allah tetapi perintah setan.

Berikut ini beberapa contoh:

Nazim: seorang Naqshbandi okultis dari Siprus, dia menulis bahwa perang melawan kafir datang dari setan. Naskah tersebut datang dari pembicaraan yang diberikan kepada seorang pendengar kristen dan merujuk kepada kemungkinan perang antara orang beragama (kristen, Muslims, yahudi, dll.), dan naskah itu menegaskan bahwa berperang satu sama lain adalah perintah setan: “Kita berperang satu sama lain atas perintah setan.”

Menurutnya kebencian juga berasal dari setan.

Ada beberapa ayat al-karimat dan hadith ash-Sharif memerintahkan Hubb-i-fillah dan Bughd-i-fillah, yaitu mencintai Muslim karena mereka Muslim dan membenci kuffar karena mereka kuffar.

Hassan Hathout: seorang Ikhwan Mesir dan Penasehat Dewan Urusan Umum Muslim | Muslim Public Affairs Council, dia menulis dalam Pendahuluan bukunya yang berjudul Reading the Muslim Mind:

“Cinta adalah dari Tuhan dan benci adalah dari Iblis”

Menurutnya membenci kuffar adalah aktifitas setan. Tradisionalis seperti Guénon dan Schuon telah mengambil sikap berbeda lebih sesuai dengan apa yang Allah firmankan dalam Qur’an. Schuon menulis:

“Ketika kita menjumpai kejahatan — dan kita memberikannya kepada Tuhan dan kepada diri kita sendiri untuk memeliharan diri kita sendiri dalam Kedamaian — ...janganlah kita melupakan batas-batas dan relativitas kejahatan — vincit omnia Veritas .”