Metode Esoterik

Esoterisisme memiliki metode pemahamannya sendiri dan mewakili realitas. Esoterisisme pada dasarnya terdiri dari simbolisme dan penggunaan analogi dan korespon dari simbol atau prinsip antara diri mereka sendiri dan simbol atau prinsip dan ‘kesatuan (contingent)’.

Metode yang diterapkan kepada semua agama ini membolehkan agama untuk diformulasikan ulang dalam bentuk prinsip-prinsip yang siap untuk ‘mengungkapkan’ realitas baru yang muncul dari prinsip-prinsip itu. Esoterisisme bermakna penerapan metode ini dalam arah tertentu: menuju pusat interior . Menuju pusat atau interior berarti menuju sifat sinkretik dan umum yang berasal dari eksterior dan pola rumit hidup manusia.

Simbolisme

Simbolisme adalah penggunaan simbol untuk menafsirkan realitas. Simbol-simbol ini adalah gambar-gambar, kata-kata atau prinsip-prinsip.

Penafsiran simbol tersebut adalah terbuka kepada kemungkinan yang tidak terbatas. Simbol itu menciptakan kemungkinan yang menggelikan untuk melihat hubungan antara simbol-simbol yang berbeda dari budaya-budaya atau agama yang berbeda, terutama ketika sifat hubungan ini juga terbuka untuk spekulasi.

Juga kata-kata dengan makna simbolik membiarkan pengiriman informasi yang dikodekan. Hal ini menyebabkan produksi baru simbol yang mampu menyuguhkan makna ganda, menyembunyikan sesuatu pada saat yang sama bahwa mereka mengirimkan sesuatu yang lain. Blavatsky berkata tentang terminologi tersembunyi khusus:

“‘Jargon kita’ adalah kebutuhan ganda: (a) untuk menggambarkan dengan jelas fakta-fakta ini ke orang yang berpengalaman dalam terminologi tersembunyi; dan (b) untuk menyembunyikan fakta-fakta ini dari hal yang tidak sopan.”

Simbol dan penafsirannya telah diangkat kepada tingkatan ‘ilmu pengetahuan’ oleh umat mereka. Majalah guĂ©nonian Symbolo, yang diterbitkan di Spanyol, diperkenalkan, dalam beberapa artikel persoalan-persoalan simbolisme:

“Simbol tersebut adalah instrumen yang melaluinya ide tinggi turun ke dunia nyata, dan pada waktu yang sama adalah kendaraan yang membawa manusia dari realitas materialnya menuju kesejatian yang spiritual. (his true and spiritual being)”

Mempertimbangkan hubungan yang dimiliki oleh simbol tersebut dengan esoterik dan eksoterik, penulis di atas menulis:

“Esoterik adalah internal dan tidak terlihat; energi yang menyembunyikan interiornya; sisi abstrak yang disintesiskan dan dibuat menjadi aktual oleh simbol tersebut. Esoterik dihubungkan kepada rahasia, misterius dan kekuatan-kekuatan ajaib yang dikandung oleh simbol keramat tersebut, dan untuk dapat melihatnya, perlu untuk menembus dan melangkahi penampilan dan terhubung dengan esensi tak terlihat. Sebaliknya eksoterik adalah bagian eksteriornya, pakaian formal yang dikenakan untuk berwujud dalam hal-hal yang dapat dikenali oleh panca indera, wajah cerah dan bercahaya, yang bervariasi dan terkenal. Yang pertama adalah kualitatif dan sintetik; yang kedua adalah kuantitatif dan ganda. Tetapi keduanya adalah satu wajah, gelap dan bercahaya, dari koin yang sama, dan, sebagaimana yang terjadi dengan lawan yang berpasangan apapun, perlu mengerti mereka agar dapat memahami tujuan mereka yang sesungguhnya.

Dalam simbol keramat tersebut aspek eksoterik bukan sembarangan, atau biasa-biasa, sebaliknya, dikatakan bahwa harus ada kesesuaian antara simbol formal dan energi yang dilambangkan oleh simbol itu; tetapi apa yang penting adalah bahwa esoterik adalah anterior dan secara hirarki superior, karena hal itu yang memberikan makna kepada yang eksterior dan dapat dilihat, dan eksoterik selalu disubordinasikan untuk itu.”

Simbolisme, dalam pandangan mereka, membawa kepada penemuan Tradisi Primordial :

“Buku-buku keramat menggunakan perumpamaan dan metafora, puisi dan mitologi yang mengirimkan pandangan dunia dan alam semesta, bahwa dalam aspek-aspek penting mereka adalah identik pada semua orang. Adalah mengherankan bahwa kebetulan dapat ditemukan antara simbol-simbol dari budaya-budaya yang berbeda, yang walaupun mereka berbeda dalam bentuk namun identik dalam esensi, karena mereka merujuk satu cara, atau lain cara, kebenaran yang unik dan sama.

“Kesamaan yang mendalam antara bermacam budaya, yang dapat dipandang secara internal ketika perbedaan superfisial telah dilampaui, telah membawa para pemikir tertinggi untuk menghadirkan ide kehadiran perenial dari Tradisi Primordial yang Unik. Melalui setiap tradisi tertentu mungkin untuk mencapai hubungan dengan pusat asli dan tidak berubah dari mana semua berasal. Tapi agar ini bisa dialami, adalah perlu bahwa cara simbolik membimbing kita kepada yang paling interior, tersembunyi dan daerah rahasia dari makhluk; yaitu, realitas metafisik dimana identitas tertinggi semua tradisi dan dari diri kita sendiri ditemukan.” Ilmu pengetahuan simbolisme dan penyampaiannya memiliki karakter inisiatik:

“Aspek lain dari simbol keramat, yang secara istimewa ditekankan oleh simbolika (ilmu pengetahuan simbolisme) adalah karakter inisiatik. Inisiasi terjadi tepatnya ketika kami mencoba meninggalkan dunia kotor yang tidak berbentuk, dan kita memasuki bagian dalam dari kuil atau gua — batiniah kami sendiri.”

Analogi

Unsur kedua dari metode esoterik adalah penggunaan indeks dan analogi. Indeks dan analogi itu membolehkan penonjolan perspektif yang berbeda menggunakan simbol dan kemudian menghubungkan simbol itu kepada realitas. Penggunaan analogi dalam esoterik adalah lawan dari penggunaan analogi (qiyas) dalam fiqih.

Fiqih Islam didasarkan pada penghargaan bahwa kesempurnaan manusia dicapai pada jaman Rasulullah, sallallahu‘alayhi wa sallam. Qiyas dalam fiqih diorientasikan menuju penyesuaian atau reformasi dari realitas saat ini kepada model sempurna dari Rasulullah, sallallahu ‘alayhi wa sallam. Analogi dalam Hukum Islam memiliki arah dan tujuan.

Sedangkan analogi esoterik adalah spekulatif dan anti-dogmatik. Spekulatif berarti bahwa analogi tidak memiliki tujuan yang ditentukan di awal, yang hanya menawarkan ‘perjalanan kepada interior batin’ yang umum. Analogi esoterik harus mengizinkan dan mengenali setiap perspektif untuk menerangi jalan sebagai sah. Analogi esoterik ini disebut anti-dogmatik karena menolak setiap bentuk dogma. Metode mereka pantang mengecualikan kemungkinan-kemungkinan; sebaliknya membolehkan beberapa penafsiran-penafsiran. Itulah sebabnya mengapa simbol menempati ruangan dari formulasi dogmatis. Sampai kepada simbol tersebut masih membolehkan beberapa cara menggambarkannya. Arsitek Agung Alam Semesta (The Great Architect of the Universe) dapat dijelaskan dari beberapa perspektif, setiap perspektifnya adalah sah, merespon kepada kondisi pribadi anda. Simbol tersebut juga menghasilkan beberapa penafsiran sah sebagai tujuan selama tidak dipaksakan kepada yang lain.

Metode ini membolehkan kemajuan manusia. Realitasnya secara tetap ada dalam proses 'jika aku menjadi'. Dan di dalam batasan-batasan metodologisnya semata tidak membatasi apapun dan karenanya tidak ada komitmen. Harapan selalu menggambarkan masa depan sebagai 'jika aku menjadi'. Dengan membandingkan masa kini sebagai arena yang sama sekali tidak menarik. Masa lalu dan masa depan menawarkan kemungkinan-kemungkinan yang lebih baik. Milenialisme dan mesianisme dibuat menarik kepada pemikir jenis ini ketika tiba saatnya membenarkan kegagalan dan frustasi masa kini. Menunggu datangnya Mesiah, itu sendiri adalah sebuah simbol, menutupi dan menggantikan kurangnya tujuan dalam metode esoterik.

Ketika metode ini diterapkan kepada Hukum Islam maka metode itu merubah praktek eksistensial Sunnah Rasulullah, sallallahu ‘alayhi wasallam, menjadi prinsip-prinsip dan kemudian prinsip-prinsip itu secara bebas dihubungkan kepada situasi analogis. Berikut ini adalah satu contoh, berdasarkan Hadist Rasulullah, sallallahu ‘alayhi wa sallam. Anwar Ibrahim menulis:

“Dengan menjadi moderat dan pragmatis, Muslim Asia Selatan tidak mengkompromikan pengajaran-pengajaran dan cita-cita Islam ataupun menjadi kaki tangan kepada tingkah dan khayalan-khayalan dari jaman-jaman tersebut. Sebaliknya, pendekatan semacam itu perlu untuk merealisasikan cita-cita masyarakat Islam, seperti keadilan, pemerataan kekayaan yang wajar, hak-hak dan kebebasan fundamental. Pendekatan ini didukung dalam sabda Nabi Islam [sallallahu ‘alayhi wa sallam], kepada efek bahwa “cara terbaik untuk menempatkan urusan-urusan anda adalah memilih jalan tengah” (hadist diriwayatkan oleh al-Baihaqi). “Prinsip awsatuha — jalan tengah — yang sesuai dengan Confucian chun yung dan the golden mean dari etika-etika penganut Aristoteles ethics, menguatkan unsur moderat pada karakter Muslim Asia Tenggara dan membentuk pemahaman dan praktek-praktek Islam. Ke-moderat-an ini membawa kepada pendekatan pragmatis dalam kehidupan sosial, ekonomi dan politik.”

Pendekatan pragmatis kepada persoalan-persoalan sosial, ekonomi dan politik menjadi keluaran akhir dari proses-proses esoterisasi. Esoterisasi membawa kepada kepada ide kemajuan langgeng yang berakhir pada nihilisme. Nilai-nilainya tersebut menjadi sekedar pragmatisme.

ANALOGI DAN STUDI-STUDI KOMPARATIF

Studi komparatif ditemukan pada doktrin tradisional yang merupakan sebuah cara mengatakan esoterisisme. Berikut tulisan Dr. Geoffrey Parrinder:

“…di jaman modern sejumlah besar pemikiran ulang atas doktrin-doktrin tradisional dan ungkapan-ungkapan mereka dilakukan, mengadakan dialog antar agama jauh lebih mudah ketimbang berabad lalu. Beberapa doktrin, setidaknya, telah diungkapkan dalam bahasa yang ketinggalan jaman dan sering tidak dapat dimengerti. …Ide bahwa Kristus datang dari ‘atas sana’, ‘turut campur’ di dunia, dan memerankan peran manusia super, mungkin perlu perubahan supaya cocok dengan konsepsi Tuhan sebagai selalu hadir di dunia dan Yesus sebagai manusia seutuhnya dan historikal. Islam boleh berbagi dengan Kristen dalam proses pemikiran ulang ini.”