Motif-motif Esoterik

Universalitas Agama-agama

Definisi
Salah satu dari prinsip-prinsip karakteristik yang utama dari esoterisasi adalah doktrin menyimpang universalitas agama-agama. Doktrin ini melakukan penampakan dengan wajah-wajah yang berbeda, tetapi kesemua wajah itu mewakili ide dasar dari universalitas esensial dari agama-agama dan karenanya semua wajah itu memiliki nilai yang sama. Menurut prinsip ini setiap agama atau tradisi adalah sah dan terhubung kepada wahyu ketuhanan. Wahyu yang demikian adalah unik bagi setiap agama. Setiap wahyu memberikan segel khusus, struktur khususnya dan juga fungsi yang berbeda beserta nasibnya dalam periode khusus dalam sejarah. Setiap agama mengikuti siklusnya sendiri, dilahirkan, berkembang, dewasa dan lalu mati. Tetapi ada sesuatu yang selalu tetap dan umum bagi semua agama. Ini adalah apa yang disebut ‘penyatuan transendental agama-agama’. Penyatuan transendental agama ini bukan sekedar keseragaman, walaupun memiliki keseragaman di dalamnya. Penyatuan transendental ini bermakna bahwa semua agama-agama ini datang dari sumber yang tunggal. Ini adalah yang Guénon sebut sebagai Tradisi Primordial, yang termanifestasikan bukan dalam bentuk dan ritual-ritual yang telah diadopsi oleh keadaan waktu dan tempat, tetapi dalam penyusunannya sebuah sofia perenis yang merupakan pusat lebih internal dan lebih dalam dari masing-masing agama atau tradisi.

Apa yang terjadi dengan freemasonri adalah bahwa freemasonri tidak memiliki sifat religius dan karenanya mampu beradaptasi dengan tradisi apapun, baik itu tradisi yang bersifat religius atau bukan. Simbolisme freemasonri terkait kepada seni konstruksi dan telah berfungsi sebagai selubung yang telah membolehkannya mengadaptasi setiap agama dan setiap dogma religius atau eksoterik tanpa harus berkonflik. Freemason dapat menjadi kristen dan penganut kristen dan dapat menjadi Muslim dengan Muslim. Kepercayaannya tetap tidak berubah karena tidak satupun tradisi dan agama yang merubah tingkat esoterik dari Tradisi Primordial dan sofia perenisnya.

Untuk mempelajari universalitas agama-agama ini kita akan menguji tiga tingkatan yang berbeda: Agama – Tuhan – Kitab-kitab yang mana Tradisi Primordial perenial dan sofia perenisnya, hadir di semua agama; kesatuan keyakinan dalam tuhan pada semua agama dan jalan spiritual; dan validitas universal dari semua Kitab suci dan wahyu ketuhanan.

PERENIALISME

Istilah ‘Filosofi Perenial’ diciptakan oleh Leibniz tetapi dipopulerkan oleh Aldous Huxley, yang menurutnya berkaitan dengan perhatian utama “dengan satu, Realitas ilahi substansial terhadap aneka ragam dunia hal dan kehidupan dan pikiran. Tetapi sifat dari satu Realitas ini adalah sedemikian rupa sehingga tidak dapat langsung atau segera ditangkap kecuali oleh mereka yang telah memilih untuk memenuhi kondisi tertentu, membuat mereka sendiri mencintai, murni dalam hati, dan miskin dalam spirit.”

Ide dari filosofi perenial adalah terletak di depan abad ini. Aslinya digambarkan dalam universalitas dan konsistensi dari proses pengetahuan langsung dari Tuhan, melalui para pendukungnya’ memiliki ide ‘penerangan (iluminasi)’, yang mereka pandang ada pada semua agama dan jalan spiritual. Ide iluminasi ini didasarkan kepada pengalaman momentari dan personal dari ‘penyatuan dengan Tuhan’ atau ‘penyatuan dengan pikiran Tuhan’ atau varietas dari ide yang sama. Filosofi Perenial membuktikan perlunya untuk kembali ke bentuk ‘primordial, tunggal dan eternal’ dari agama atau ‘realitas sempurna’ dari Tuhan atau Pikiran Universal, atau yang seperti itu. Dan bahwa agama adalah ‘sofia perenis’ yang mereka katakan selalu ada, tidak berubah, di dunia, sebelum dan setelah Islam.

Sofia perenis adalah sebuah filosofi, yang dipelihara oleh para pendukungnya, yang tampak kembali, melapisi kembali dan memperbaiki diri sendiri sepanjang waktu, melintasi spektrum yang luas dari penerima lintas budaya atau agama seperti kristen, hinduisme, Islam, dan termasuk jalan spiritual lain seperti masonri. Secara alami ide ini dikepung dengan teori-teori yang saling bertentangan, kepercayaan dan secara tetap merubah pendapat tentang hampir segala sesuatu, yang membuat ide filosofi perenial sangat terbuka.

René Guénon mendukung ide esoterik ‘sofia perenis’ dalam doktrin Tradisinya. Untuk mempersamakan:

“Prinsip fundamental adalah bahwa ada Tradisi Primordial yang selalu ada dan umum bagi semua tradisi tertentu. Semua bentuk-bentuk tradisi tertentu, yang merupakan adaptasi aneh bagi zaman tertentu atau mentalitas tertentu, berasal dari Tradisi Primordial. Bentuk-bentuk tertentu yang berbeda ini adalah satu hal yang mereka sebuh tradisi Cina, tradisi Kristen, tradisi Islam, dll. Semua bentuk-bentuk religius berhubungan kepada sejumlah ekuivalen dari wajah-wajah Tradisi Primordial, yang merupakan pusat dari kesemuanya. Setiap dari bentuk-bentuk religius itu diabsahkan oleh hubungan mereka kepada Pusat. Gagasan tentang Pusat ini juga sangat penting bagi Ilmu Pengetahuan Tradisional dan tidak dapat dipisahkan dari gagasan batin dan rahasia (esoterik). Ide Tradisi juga berimplikasi kepada keberadaan rantai yang dibentuk oleh “inisiasi” yang mencengkeram Ilmu Pengetahuan esoterik yang tidak diketahui oleh orang lain. Setiap agama memiliki wajah esoterik dan wajah eksoterik. Aspek lain dari Tradisi adalah bahasa khususnya yang merupakan sebuah bahasa simbolik.”

Simbolisme adalah pusat perenialisme. Menurut pandangan ini simbol bahasa manusia tersebut diulangi sepanjang jaman oleh orang-orang dari semua ras, gender, budaya dan kepercayaan religius. Perenialisme menggabungkan kata-kata Sufi, dari ajaran Zen atau penganut budha Mahayana, Indian guru, penganut tao, hindu dan mistik kristen untuk membentuk gambaran mengenai apa yang mereka pahami untuk menjadi sebuah pengalaman ‘perenial’. Mereka merujuk kepada pengalaman ini sebagai berikut: “The immanent eternal self diwujudkan sebagai satu hal dengan prinsip absolut dari semua eksistensi, dan nasib akhir dari setiap manusia adalah menemukan fakta ini bagi diri mereka sendiri.”

Frithjof Schuon menyediakan bagi kita definisi yang belimpah-ruah mengenai sofia perenis:

“... the scientia sacra atau filosofia perenis, bahwa pengetahuan alam semesta yang selalu ada dan selalu akan ada. Dia juga menulis:

“Sepanjang pekerjaan-pekerjaan kami, kami telah berurusan dengan agama perenial, secara eksplisit maupun implisit, dan dalam hubungan dengan agama-agama yang beragam yang di satu sisi menyelubunginya dan di sisi lain mengizinkannya untuk menyinari; dan kami percaya kami telah memberikan eksposisi yang cukup dan homogen dari Sofia universal dan primordial ini, meskipun dengan cara terputus-putus dan sporadis kami mengacu pada itu. Tetapi Sofia perenis adalah cukup jelas tak ada habisnya dan tidak memiliki batasan-batasan natural, bahkan dalam sebuah eksposisi sistematis seperti Vedanta. Lebih jauh lagi kualitas sistematis ini bukan soal kelebihan dan kekurangan; bergantung pada kandungannya dapat menjadi satu atau yang lain; kebenaran adalah indah dalam semua bentuknya. Kenyataannya, tidak ada doktrin besar yang bukan merupakan sistem, dan tidak satupun yang mengekspresikan diri dengan cara yang ekslusif sistematis.”

Dia juga menulis:

“Setelah apa yang telah kita katakan, pertanyaan yang mungkin ditanyakan apakah sofia perenis adalah sebuah ajaran “humanisme”, jawabannya secara prinsip “ya,” tetapi kenyataannya “tidak” karena humanisme dalam arti konvensional dari istilah tersebut kenyataannya meninggikan manusia yang jatuh. Humanisme manusia modern secara praktis adalah utilitarianisme yang ditujukan pada manusia terfragmentasi; keinginan membuat diri sendiri sebisa mungkin berguna bagi manusia. Adapun bagi antropologi integral, kami bermaksud, tepatnya, memberikan penjelasan tentang hal itu dalam buku ini.”

Setelah meninggalnya Schuon, Sayyed Hussein Nasr telah menjadi tokoh yang paling berkomitmen dalam pencurahan hidupnya menyebarkan pengajaran Schuon. Sofia perenis adalah nama dari Jurnal Akademi Filosofi Kekaisaran Iran | Journal of the Imperial Iranian Academy of Philosophy, yang diterbitkan di tahun 70-an selama masa-masa Shah dan dipimpin oleh Sayyed Hussein Nasr. Le Gai Eaton, seorang Sufi perenialis penganut ajaran guénon menulis:

“Islam ...mengklaim dengan implikasi menjalin hubungan langsung kepada ‘filosofi perenial’ ini, sejak Islam mendefinisikan diri sebagai wahyu terakhir dari pesan abadi yang mana umat manusia ‘diperingatkan’ lagi dan lagi oleh ‘para Utusan Allah’ yang tidak terbatas. Qur'an mengakui tanpa ambiguitas bahwa hukum dan praktek-praktek dari kristalisasi yang berbeda dari din al-fitrah telah berbeda berdasarkan waktu dan tempat, tetapi kebenaran yang bersumber dari Kesatuan Ilahi (Divine Unity) dan prinsip-prinsip yang menentukan yang berasal dari hal ini tidak berubah, belum berubah, dan tidak akan pernah berubah. Doktrin Kesatuan adalah unik, demikian. Semua yang lain adalah ilusi.”

Michel Valsan, juga seorang pengikut ajaran guénon menulis:

“Doktrin Islam adalah formal pada poin bahwa semua Utusan-utusan Ketuhanan telah membawa secara esensial pesan yang sama dan bahwa semua tradisi juga merupakan esensi yang satu...Sehubungan dengan bentuk Islam tradisi ini adalah dalam hal apapun awalnya dan pada dasarnya didasarkan pada doktrin Identitas Agung (Supreme Identity)...”

John Esposito adalah salah seorang dari para master perbandingan agama yang bertujuan pada memformulasikan ulang Islam. Posisi berani semacam posisinya Esposito tidak akan berkelanjutan jika posisi itu bukan untuk kolaborasi eksplisit dari Muslim tertentu. Ada suatu kampanye bagi dialog kristen-Muslim dan diskusi yang dipromosikan ke seluruh dunia. Satu dari tokoh utama adalah seorang perenialis terkenal dan profesor Studi Islam di Universitas George Washington, Sayyed Hussein Nasr, murid yang paling terkenal dari Frithjof Schuon, dia sendiri adalah murid dari René Guénon. Sayyed Hussein Nasr menulis pengantar bagi buku terakhirnya Shaykh Hisham Kabbani, presiden dan pendiri Yayasan Haqqani dari Amerika dan khalifa utama dari Shaykh Nazim al-Haqqani. Kolaborator lain dari Esposito adalah Cardinal Keeler, seorang katolik roma yang sama terlibat dalam dialog Muslim-katolik yang mencapai puncaknya pada Assisi Interfaith Service for Peace, dipimpin oleh paus John Paul II di tahun 1986. Yang paling menonjol di antara para peserta adalah Mufti Besar Syria, Shaykh Ahmad Kuftaro, yang bersama dengan rekannya Keeler adalah pendukung antusias dari even-even semacam itu. Titik tinggi dari hubungan mereka begitu jauh ketika, dengan ditemani Cardinal Lucas Neves, mereka melantunkan bersama doa Ave Maria (“Hail Mary, Mother of God...”).

DOKTRIN TENTANG ‘KESATUAN KEPERCAYAAN PADA TUHAN DITEMUKAN DI SEMUA AGAMA’

Menurut doktrin ini semua agama sesungguhnya menganut tuhan yang sama. Tuhan adalah simbol yang umum bagi semua agama dan setiap agama menawarkan perspektif yang berbeda, yang masing-masingnya sama diterima dan sah. Dari sini mengikuti ide ‘kesatuan kepercayaan kepada Tuhan dari semua agama dan jalan spiritual’.

Hal ini adalah palsu bagi kita. Kuffar tidak menyembah apa yang kita sembah. Doktrin ‘kesatuan kepercayaan kepada Tuhan yang ada di semua agama dan jalan spiritual’ bukanlah doktrin Sufi. Ini adalah penyimpangan serius berdasarkan perenialisme, yang jelas-jelas menentang apa yang Allah firmankan dalam Qur’an:

Katakanlah!: "Hai orang-orang kafir!".
• Aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah.
• Dan kalianpun tidak pula akan menyembah apa yang aku sembah.
• Aku bukan penyembah apa yang kalian sembah.
• Kalianpun bukan penyembah apa yang aku sembah.
• Untuk kalian agama kalian dan untukku agamaku pula. (Q.S. Al-Kafirun)

Doktrin palsu ini adalah serangan pada integritas Islam. Ketika doktrin ini diterapkan kepada agama apapun, doktrin itu membawa proses bertahap esoterisasi, merubah agama kepada ‘sofia perenis’. Ketika diterapkan kepada Islam maka seumpama tahap pertama ‘mengkristenkan Islam’, yang merendahkan Islam kepada keadaan impoten kekristenan. Secara bertahap merubah dan merusak Hukum melalui metode esoterik, membuat aspek kuncinya menjadi non esensial dan akhirnya menggantikan aspek-aspek itu dengan formula-formula pragmatik dan nihilistik. Walaupun doktrin itu tidak esensial bagi esoterisisme namun doktrin itu membuka pintu kepada ekumenisme, sebagaimana diusulkan oleh Sayyed Hussein Nasr:

“Jika segala debat-debat teologikal dari beberapa dekade lalu antara Islam dan Kristen mendemonstrasikan dengan jelas bahwa, untuk mengulangi ucapan Frithjof Schuon, keselarasan menyeluruh antara agama-agama adalah tidak mungkin dalam atmosfir manusia tetapi hanya dalam stratosfir Ketuhanan (Divine). Lebih jauh lagi ekumenisme agar berkhasiat, yang mencapai kesatuan batin tanpa melakukan ketidakadilan kepada perbedaan bentuk-bentuk eksternal yang diwahyukan oleh Langit, tidak dapat kecuali menjadi sebuah “ekumenisme esoterik”. Jika kita ingat bahwa dalam iklim Kekristenan pasti ditemukan dalam kesucian dan dalam Islam kesucian dalam esoterisisme yang ditemukan utamanya dalam Sufisme.”

Tak perlu dikatakan, untuk mengusulkan bahwa Sufisme adalah esoterisisme adalah absurd, dan ekumenisme bukanlah sebuah urusan dalam Islam. Meskipun demikian ada cara umum berfikir pada basis etos modern yang mempengaruhi setiap orang, apakah mereka sadar akan hal itu atau tidak. Hal ini cukup mudah, dalam iklim pemikiran saat ini, untuk meyakinkan orang bahwa cara untuk menyelesaikan krisis dunia adalah melalui toleransi agama, namun agama-agama yang tidak berhubungan dengan toleransi telah mewujud. Seorang Muslim yang berkata bahwa doktrin vedanta atau mahayana buddisme jauh di bawah dibandingkan Islam sekarang diminta untuk meninjau kembali penilaiannya, di atas basis yang dia nilai menggunakan standar-standar yang dia peroleh dari Islam, dan dengan demikian bahwa kesimpulannya terlalu jauh, atau lebih jelasnya berprasangka.

Mengambil pandangan ini berarti menerima eksistensi dari poin referensi di atas Islam yang darinya kita dapat menilai semua agama, termasuk Islam. Dan dari pandangan itu, mereka berharap, kita dapat melihat bahwa mereka sesungguhnya ‘secara esensial sama’. Semua yang perlu orang lakukan adalah memisahkan esensial dan unsur-unsur umum dari unsur-unsur non-essential dan unsur-unsur aneh: esoterik dari eksoterik. Menurut pandangan ini, bukan hanya kristen dan yahudi (ahli Kitab) yang dapat disertakan, tetapi setiap agama dan jalan spiritual; hanya tergantung pada tingkat abstraksi non-berprasangka yang diterapkan. Ide ini sering diungkapkan sebagai kesatuan esensial dari kepercayaan kepada Tuhan dalam semua agama.

Semua persoalan ini diterangkan dalam Firman Allah berikut:

Dialah yang menurunkan kitab Al-Qur'an kepadamu Muhammad. Di antaranya ada ayat-ayat yang tandas tegas Tidak memerlukan takwil., itulah pokok isi Al-Qur'an. Yang lainnya adalah ayat-ayat samar kurang tegas Samar-samar, tidak tegas kadang-kadang tidak dapat dicapai oleh pemikiran, misalnya ayat-ayat yang berhubungan dengan hal-hal yang gaib, hari kiamat "Arsy dsb. Ayat-ayat ini dapat ditakwil.. Adapun orang-orang yang di dalam hatinya ada maksud-maksud yang tidak jujur, selalu mengikuti ayat-ayat samar untuk mengadakan kehebohan dengan memberikan tafsiran-tafsiran yang diselewengkan. Padahal tidak ada yang dapat memberikan tafsirannya, hanya Allah saja. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya mengatakan dengan terus terang: "Kami percaya kepada kitab, semuanya datang dari Tuhan kami". Hanya orang-orang yang berpikir saja yang dapat mengerti. (Qur'an: 3,7)

Beberapa orang telah mencoba menggunakan ayat-ayat metaforik untuk mengajukan keberadaan informasi misterius dalam Qur’an, dan dengan itu membentuk inti tersembunyi atau ‘umm dari Qur’an, yang hanya dapat diakses oleh keanggotaan khusus. Muslim terlindungi dari kesalahan ini oleh Tawhid yang manjur. Tauhid terdiri dari dua unsur: “Tiada tuhan kecuali Allah”, yang menyiratkan bahwa kita tidak menyembah tuhan kecuali Allah, dengan pengecualian mutlak apa pun selain Nya. Dan juga “Muhammad adalah Rasul Allah” yang bermakna bahwa untuk percaya kepada Allah anda perlu menerima Muhammad sebagai Rasul terakhir Allah. JIKA ANDA MENYANGKAL SALAH SATU, ANDA MENYANGKAL YANG LAIN. Orang yang mengatakan sebaliknya adalah kafir. Tidak ada keraguan mengenai hal ini.

Islam adalah satu-satunya agama yang diridloi Allah. Semua agama lain telah dibatalkan, dan bagi semua penganut agama-agama itu, wajib untuk menerima Allah dan Rasul-Nya. Kami menyeru kuffar untuk meyakini Tawhid kepada Allah secara tepat karena mereka telah meninggalkannya. Mereka telah meninggalkan pengajaran asli dari para nabi, yang memberi tanda-tanda kedatangan Rasul Allah, sebagaimana dinyatakan dalam Qur’an. Kami menyeru kuffar untuk menerima Tawhid ini dan tidak yang lain, karena agama lain tidak lagi memiliki Tawhid yang utuh. Ibrahim bukanlah yahudi atau kristen, dia adalah seorang Muslim. Menerima keyakinan semua agama adalah seumpama tidak menerima semuanya, seperti modernis yang mengklaim mereka mempertahankan semua madzhab, tetapi dalam kenyataannya menyangkal semua madzhab dan membuat sendiri madzhab baru.

Syahadat adalah fondasi Deen kita. Syahadat tidak dapat ditawar-tawar. Kita tidak dapat menerima perubahan paling ringan sekalipun kepada syahadat. Kita harus mempertahankannya dengan segenap daya dan upaya. Jika kita tidak melakukannya, Islam akan pergi dari genggaman kita. Setiap saran yang Tasawwuf atau Sufisme tawarkan berupa pandangan berbeda kepada Tawhid, apakah bersifat tersembunyi atau terang-terangan, adalah pernyataan palsu. Ada orang-orang yang mempromosikan ide-ide perenialisme ini dan perbandingan agama dengan seribu satu macam cara. Kebanyakan mereka adalah kuffar. Kita harus memisahkan diri kita dari orang-orang ini dan kita harus mencela mereka. Ada beberapa penggunaan Tasawwuf untuk memperkenalkan ide-ide ini kepada Islam. Kita harus mencela validitas mereka dan perkumpulan yang mereka jaga.

Ada alasan bagus untuk menjadi teliti dan keras terhadap perenialisme. Banyak orang di dunia bekerja sangat keras menggunakan filosofi perenialisme untuk menemukan sebuah agama baru. Tujuan utama mereka adalah untuk memformulasikan ulang Islam sebagai doktrin politik jinak, dengan aneka masalah palsu yang dirancang dengan hati-hati dan penyesalan puritan yang melumpuhkan. Dalam hati kecil, mereka tahu bahwa Islam tidak dapat dikalahkan, karenanya mereka mencoba untuk melembutkannya. Apa yang anda lihat di atas adalah doktrin mereka, dan itu sangat luas.

Tidak ada kejahatan yang lebih besar daripada berbohong tentang Allah. Allah berfirman dalam Qur'an:

Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang berbuat bohong terhadap Tuhan, karena hendak menyesatkan manusia yang lain tanpa pengetahuan? Sesungguhnya Allah tidak akan menunjuki orang-orang yang zalim. (6, 145)

SEMUA KITAB-KITAB YANG DIWAHYUKAN DITERIMA

Para pengarang esoterik berkata bahwa semua Kitab-kitab yang Diwahyukan datang dari Allah, semuanya adalah Bimbingan Ilahi (sebuah ungkapan favorit dari Maududi). Semuanya harus diterima dan dibaca.

Muslim tidak mendorong siapapun untuk membaca semua kitab-kitab ini. Karena walaupun kita mengakui bahwa aslinya kitab-kitab ini adalah wahyu, kita tahu bahwa kitab-kitab yang ada sekarang telah dirubah. Dan karena kitab-kitab itu telah dirubah, kitab-kitab itu tidak dapat diterima.

Berikut ini beberapa contoh mengenai bagaimana persoalan ini diperlakukan oleh beberapa esoteris:

Shaykh Muhammad ‘Abduh berkata:

“Saya berharap melihat dua agama besar, Islam dan Kristen bergandeng tangan, saling berpelukan. Kemudian Taurat dan Injil dan Qur’an akan menjadi kitab-kitab yang saling mendukung satu sama lain dibaca di setiap tempat, dan dihormati oleh setiap bangsa.” Dia menambahkan bahwa dia sedang “berharap melihat Muslim membaca Taurat dan Injil.”

Shaykh Kuftaro berkata:

“Juga dalam kepemilikan anak-anak Ibrahim adalah Kitab-kitab yang diberikan kepada mereka oleh Allah untuk panduan bagi umatnya. Kitab-kitab yang diwahyukan ini memerintahkan kebajikan yang sama dan melarang kejahatan yang sama.”

“Islam tidak datang untuk membatalkan atau menghancurkan mereka, tetapi untuk menyatukan dan menyeru kepada keyakinan dan perbuatan sesuai dengan risalah dari semua Rasul Tuhan (God’s Messengers). Qur’an mendesak umat penganut Taurat dan Injil untuk mengikuti kitab-kitab mereka sungguh-sungguh dan mencela orang-orang yang lalai untuk mematuhi kitab-kitab itu.”

Shaykh Nazim berkata:

“Itulah sebabnya kenapa semua Kitab Suci menunjukkan jalan ke Surga.” “Jika Kitab Suci benar-benar dari Surga, kitab-kitab itu tentu memiliki pengaruh. Guru spiritual dapat menggunakan Kata-kata Suci dari Kitab-kitab Suci itu, dan dia dapat memerintahkan kepada para pengikutnya untuk mengulangi kata-kata itu, dan akan ada sebuah reaksi dan hasil. Itulah sebabnya kenapa kita menggunakan kata-kata seperti itu dan itulah arti dari zikir.” “Anda boleh seorang Kristen, Yahudi atau seorang Muslim, anda dapat bertasbih dengan Kata-kata Suci apapun yang ada di Kitab-kitab Suci itu.”

PERBANDINGAN AGAMA

Dalam proses build-up menuju Agama Dunia, Perbandingan Agama dan gerakan Antar-kepercayaan telah menjadi esensial. Perbandingan agama bukan hanya sebuah seruan untuk menghindari konflik di masa lalu antara kelompok-kelompok agama. Lebih dari itu. Kemana mengarahnya perbandingan agama? Siapa yang terlibat?

Perbandingan agama telah diizinkan untuk ‘mendemonstrasikan’ bahwa semua agama memiliki ‘prinsip-prinsip’ yang sama. Dan hal ini telah menciptakan dasar bagi sejumlah besar kelompok-kelompok agama yang tidak sepakat untuk membentuk struktur Agama Dunia baru. Alice Bailey menulis di tahun 1947:

“Kemanusiaan adalah mengakui perlunya pendekatan yang lebih penting kepada Tuhan dan disajikan secara cerdas; manusia sudah lelah dengan perbedaan dogmatis dan doktrinal beserta pertengkarannya; studi Perbandingan Agama telah mendemonstrasikan bahwa kebenaran fondasional dalam setiap keyakinan adalah identik. Karena universalitas ini, mereka membangkitkan pengakuan dan respon dari semua manusia di manapun. Satu-satunya faktor dalam realitas yang menentang kesatuan spiritual dari semua manusia di manapun adalah organisasi klerikal yang eksisten dan sikap militan mereka kepada agama dan kepada keyakinan selain keyakinan mereka.

Terlepas dari semua ini, struktur dari Agama Dunia Baru (New World Religion) sedang diangkat oleh kelompok-kelompok yang berbeda pendapat dalam gereja institusional, ...

Agama Dunia Baru juga diungkapkan melalui karya dari kelompok-kelompok esoterik di seluruh dunia karena penekanan khusus mereka pada fakta dari Hierarki spiritual, ...

Dalam jumlah keseluruhan kelompok-kelompok ini — di dalam atau di luar gereja — harus ditemukan inti Agama Dunia Baru. Kepada hal ini hendaknya ditambahkan aktifitas gerakan spiritualistik, ...”

Secara hati-hati Muslim terpilih dan non-Muslim kini terlibat dalam gerakan ini, didukung oleh PBB dan dilindungi dari apa yang Alice Bailey sebut sebagai ‘Hierarki spiritual Bumi (spiritual Hierarchy of the Earth)’.

Persaudaraan umat manusia

DEFINISI

Terkait dengan universalitas semua agama adalah ide persaudaraan umat manusia. Persaudaraan umat manusia adalah antitesis dari persaudaraan dalam Islam. Kapitalisme menuntut identitas berbeda dari identitas agama. Freemasonry memiliki persaudaraan di mana pecahan agama tidak menjadi masalah. Mereka semua adalah saudara masonik meski berbeda agama. Universalitas persaudaraan masonik adalah persaudaraan umat manusia.

PARA PENDUKUNG PERSAUDARAAN UMAT MANUSIA

Sejak Perang Dunia Kedua telah terjadi ledakan agama dan kelompok spiritual yang berbeda, semua menguraikan prinsip-prinsip yang sama persaudaraan umat manusia dan kesatuan transendental semua agama. Tidak berarti bahwa bahwa ide-ide ini mulai setelah perang, tetapi peningkatan yang signifikan pada kelompok-kelompok ini berlangsung. Ini sejajar dengan peningkatan baru kapitalisme sebagai sistem global dan penciptaan institusi pertama dari negara dunia masa depan. Beberapa dari kelompok-kelompok ini adalah tua dan sebagian lainnya benar-benar baru, dan beberapa lainnya adalah formulasi sinkretik baru sebagai langkah lebih jauh kepada prinsip kesatuan transendental dari agama-agama.

Siapa yang menganjurkan ‘persaudaraan umat manusia’ dan ‘universalitas agama-agama’? Masyarakat Teosofikal, freemasonry, jaman baru, Rosicrucian Fellowship (christian mystics), the Haqqani Foundation (Sufi perenialis), ismailis, druzes, ahmadiyah, agama bahai, Parlemen Agama-agama Dunia Elder Brothers of Humanity, UNO dan UNESCO.

Pada bagian ini saya akan mengumpulkan beberapa tulisan mereka, setelahnya saya akan menguraikan secara garis besar persaudaraan dalam Islam.

Masyarakat Teosofikal

Masyarakat Teosofikal telah eksis sejak November 1875, telah didirikan di New York dengan tujuan-tujuan berikut ini: Pertama: Untuk membentuk inti dari sebuah PERSAUDARAAN KEMANUSIAAN UNIVERSAL, tanpa membedakan ras, keyakinan, kasta atau warna. Kedua: Untuk mempromosikan pembelajaran Aryan dan sains, agama, serta literatur Timur lainnya dan mendemonstrasikan pentingnya pembelajaran tersebut.

Ketiga: Untuk menyelidiki hukum yang tidak terjelaskan mengenai alam dan kekuatan psikis laten dalam diri manusia. Seorang teosofis terkenal Irlandia William Q. Judge menulis:

“Di antara banyak ide yang diajukan melalui gerakan teosofi ada tiga yang tidak boleh hilang dari pandangan. Bukan pidato, tapi pikiran, benar-benar menguasai dunia, maka, jika tiga ide ini baik, biarkan mereka diselamatkan lagi dan lagi dari pelupaan. Ide pertama adalah, bahwa ada Penyebab besar — dalam artian enterprise — yang disebut Penyebab dari Keluhuran (Sublime) yang Sempurna dan Persaudaraan Manusia. Hal ini terletak pada kesatuan esensial dari keseluruhan keluarga manusia, dan kemungkinan karena keagungan dalam kesempurnaan dan realisasi aktual persaudaraan pada setiap bidang makhluk adalah satu dan merupakan hal yang sama. Semua usaha oleh pengikut Rosikrusian, Mystic, Mason and Initiate adalah usaha-usaha menuju pertemuan dalam hati dan pikiran manusia dari Order of Sublime Perfection.”

Freemasonry

Bagaimana freemasons mendefinisikan diri mereka sendiri:

“Ajaran dan prinsip Freemasonry dapat sama di setiap tempat, tetapi pendekatan dan kebijakannya serta ritual dan aktifitas dari Mason dan Loge-loge di seluruh dunia dapat berbeda secara dramatis. Kami mempelajari organisasi-organisasi yang kami dilarang untuk kenali sebagai Masonik, tapi tetap mendukung prinsip Masonik yang sama, memperoleh ritual mereka dari sumber yang sama, dan menyebut diri mereka Masons. And have they any less right than we to do so? Kami semua anggota dari Persaudaraan Umat Manusia, tetapi berbeda dengan Persaudaraan Masonry — dan tidak pernah kembaran tersebut bisa bertemu. Tetapi kita dapat bicara! Dan tidak ada Grand Lodge akan menghentikan hal itu untuk terjadi.”

Jaman Baru

Organisasi Renaissans Baru:

“Generasi ini telah melihat penampakan banyak guru dalam semua jenis disiplin ilmu seperti agama, filosofi timur, meditasi transendental dan yoga. Namun, para pengajar spiritual dari Jaman Baru akan mengikuti jalan yang berbeda. Sebagaimana Yesus lakukan dahulu kala, mereka akan mencoba membersihkan gereja dari ortodoksi dan pendekatan materialistik atas hidup, yang memiliki, untuk sekian lama, menghambat kemajuan dan perkembangan spiritual.”

“Hal ini tidak berarti, penggusuran agama besar dunia, sebagaimana mereka sudah dan masih miliki, peranan mereka untuk bermain dalam evaluasi umat manusia. Itu adalah untuk mengingatkan mereka, bahwa misi mereka adalah untuk mengajar dan menasehati, bukan untuk membatasi, atau mengendalikan, perkembangan spiritual dari masing-masing individu. Peranan mereka adalah untuk mengikuti jejak langkah Yesus, dan, melupakan doktrin dan hukum 'manusia' mereka yang kaku, membuka Universalitas dari semua hidup, dan menghasilkan sebuah Persaudaraan sejati dari umat manusia.”

Persekutuan para pengikut Rosikrusian – mistik kristen

“Astrologi menggambarkan “Persaudaraan Umat Manusia” dalam artian bahwa semua unsur horoskopik adalah lazim bagi semua horoskop manusia; setiap orang memiliki Matahari, Bulan, delapan planet, dan lain-lain. ...The Great Abstract Horoscope tidak membuat rujukan apapun kepada aspek-aspek — kebaikan, kejelekan, atau acuh tak acuh. Hal tersebut tidak dapat mengatakan apapun tentang kebaikan atau karma jahat, hari mujur atau sial, jantan dan betina, musuh, terbuka atau rahasia, dan lain-lain. Hal itu semata potret getaran simbolik dari Kemanusiaan yang mengungkapkan kondisi Ideal Diri dalam simbol-simbol.”

The Haqqani Foundation

Dibangun oleh Shaykh Nazim al-Haqqani. Mereka berkolaborasi dengan ‘Sufi’ perennialist seperti Sayyed Hussein Nasr. Mereka memperkenalkan ide-ide mereka di bawah kedok Sufisme:

“Misi dari Haqqani Foundation di Amerika adalah untuk menyebarkan pengajaran Sufi mengenai persaudaraan umat manusia dan Kesatuan keyakinan pada Tuhan yang ada pada semua agama dan jalan spiritual. Usaha tersebut diarahkan kepada membawa beragam spektrum agama dan jalan spiritual kepada harmoni dan kerukunan, sebagai pengakuan atas tanggung jawab umat manusia sebagai pengurus dari planet rapuh ini dan pengurus satu sama lain.”

The ismailis

Bagi mereka Maarifat Al-Urfan (Pengetahuan) terdiri dari: 1- Kesatuan Alam Semesta; 2- keagungan Manusia; 3- Persaudaraan Umat Manusia; 4- Evolusi Agama; 5- Kesatuan Agama-agama; 6- Teladan Kepemimpinan; 7- Cinta Manusia.

The Human Brotherhood: (persaudaraan manusia)

“Keyakinan Ismailisme adalah membuka bagi semua umat manusia, dan kesalehan dipertimbangkan dalam istilah apa yang seseorang dapat lakukan untuk menolong orang lain. Nabi Muhammad berkata: “Semua makhluk manusia adalah rakyat Tuhan. Yang paling dicintainya adalah yang paling berguna bagi yang lainnya.” Dan Imam Ja’far Assadek juga berkata: Sesama mu'min adalah bersaudara, karena ayah dari keduanya adalah cahaya (Imam) dan ibu mereka adalah Rahmat (Nabi).”

Kesatuan Agama-agama

“Doktrin religius dan filosofis, kuno dan modern, memiliki dalam keyakinan Ismaili penyebut lazim mereka, karena dalam jangkauan keyakinan ini, ada ruangan bagi semua sekte, keyakinan dan ide-ide, semua agama terbuka dalam esensi, karena semua agama-agama itu memiliki satu tujuan yang merupakan perekat bagi kemuliaan ideal dan imitasi Tuhan sebanyak yang dapat diijinkan oleh kapasitas manusia. (Ikhwan As Safa).”

The druzes

“Istilah-istilah yang mencoba menggambarkan Tuhan sesungguhnya berlawanan dengan konsep maha dari Tuhan. Dan ini adalah apa yang Islam maksud ketika menekankan fakta bahwa Tuhan adalah bukan masalah kualitas (qualityless). Tetapi karena tidak mungkin untuk menyampaikan gagasan Tuhan kepada Manusia tanpa menggunakan kosakata manusia, Islam menggunakan penggunaan seperti itu dengan syarat bahwa kita ingat fakta bahwa hal ini hanya untuk kemudahan pemahaman dan tidak bisa dikatakan untuk menyampaikan sifat sejati Tuhan. Di samping Agama Samawi sebagai basis pewahyuan, ada filosofi kuno agama, dengan tradisi mendasar yang dalam.

Seperti Budhisme, Konfusianisme, Brahmanisme, Pharaonisme dan Kaldianisme dan keyakinan Aramite pada satu Tuhan “Eil” dengan perwakilannya Malky Sadek dll... Semua bertujuan pada Monotheisme dan mencoba menegaskannya melalui bermacam simbol-simbol. Di sini bukanlah tempatnya untuk menjelaskan hal itu secara terperinci. Setelah studi komparatif yang singkat ini dari agama-agama monoteistik utama; kita beralih kepada diskusi, juga secara singkat, divisi utama dari Islam sebagai pembukaan bagi studi Ismailisme.”

Ahmadiyah

Diketahui sebagai ahmadiyah atau qadiyani. Ghulam Ahmad (w. 1908), pendiri ismaili dari qadiyanisme, berkata bahwa tidak fardu (kewajiban dalam Islam) untuk Jihad dengan sarana persenjataan dan bahwa Jihad yang fardu adalah nasihat. Gerakan tersebut muncul di tahun 1879. Dia mengklaim diri sebagai Mahdi yang dijanjikan oleh syi‘ah. Langkahnya yang berikut adalah untuk menegaskan bahwa dia adalah Yesus sang Mesiah. Akhirnya dia mengumumkan bahwa dia adalah seorang Nabi dan telah menyampaikan wahyu agama baru. Dia menuduh bahwa orang-orang yang tidak percaya kepadanya adalah kuffar. Gerakan ini masih menyebar dengan nama gerakan ahmadiyah, terutama di Amerika dan Eropa.

Posisi mereka sehubungan dengan Kesatuan Agama-agama:

“Prinsip bahwa Nabi Suci Muhammad bersaksi akan kebenaran semua pewahyuan yang sebelumnya, menyuguhkan dasar yang kuat bagi keharmonisan antara bermacam agama dunia, dan juga bagi kesatuan ras manusia. Fakta bahwa semua nabi terdahulu bersaksi kepada kebenaran Nabi Muhammad merupakan testimoni yang lebih kuat bagi kebenaran Islam dan kesatuan agama-agama.”

Agama bahai

Bahai, sebuah keyakinan yang benar-benar suatu bikinan, adalah agama Tatanan Dunia Baru, yang mereka klaim sebagai ide mereka sendiri. Ini adalah bagaimana mereka mendefinisikan diri mereka sendiri:

“Menurut pengajaran Baha’i sejarah umat manusia berproses di dalam periode besar, dalam lingkaran universal, yang untuk bagian lingkaran itu dibagi lagi menjadi jaman: ribuan tahun (aeon).

Sebagian kecil dari lingkaran universal beberapa ribu tahun yang lalu itu (aeon) dimulai dengan Adam. Selama itu agama-agama umat manusia yang kita ketahui saat ini mewujud. Nuh, Ibrahim, Musa, Krishna, Buddha, Zoroaster, Kristus dan Muhammad adalah figur sentral dari lingkaran Adamik. Setiap satu dari manifestasi ini memperkenalkan aeon baru yang didalamnya pengajaran perintah mereka adalah standar moral penghabisan standard, baik itu untuk individu maupun masyarakat dari budaya tertentu. Dari poin keuntungan ini kita dapat melihat konsep kesatuan Baha’i yang lainnya, yaitu kesatuan transendental dari agama-agama. Semua agama umat manusia disertakan dalam sejarah penyelamatan religius; semuanya memiliki asal dari Tuhan dan merupakan refleksi namun berbeda bentuk refleksinya dari kebenaran yang sama. Meskipun berbeda varietas penampakan dan ungkapan, dalam bahasa dan peristilahan, dalam metafora dan hukum, mereka memiliki dasar yang lazim: inti sentral yang tidak berubah dari agama Tuhan.”

Parlemen Agama-agama Dunia

Suatu usaha untuk menyatukan prinsip yang sama:

“Buku ini juga akan dibaca di beranda para sarjana Jepang, oleh pantai Laut Kuning, oleh aliran air dari India dan di seberang pengunungan Asia dekat yang menerbitkan habitat prima manusia. Dipercaya bahwa pembaca Oriental akan menemukan dalam volume ini sumber dan kekuatan dari iman yang sederhana dalam Ketuhanan Kebapakan (Divine Fatherhood) dan Persaudaraan Manusia (Human Brotherhood), yang mewujud pada Petani Asia yang merupakan Anak Tuhan yang dibuat secara ketuhanan manjur yang melalui-Nya, mendekap bola dunia dengan ikatan cahaya nirwana (is clasping the globe with bands of heavenly light.)”

Saudara Tua Kemanusiaan (The Elder Brothers of Humanity )

Pernyataan tujuan:

“Kita adalah sebuah lingkaran terbuka dari Kristen yang telah tiba kepada harta karun lembaga pengajaran yang berkelanjutan didiktekan kepada salah satu anggota kami oleh Persaudaraan Manusia yang lebih dulu. [...] Di antara banyak ciptaan universal yang aneh dan fantastik ada banyak aliran kebijaksanaan (wisdom) dari semua cara dari bermacam kondisi dan sumber. Namun di sini, ada semacam kebijaksanaan yang ditawarkan kepada manusia, yang secara ketuhanan praktis — dan esensial bagi kebaikannya sebagai Manusia — dan ini diberikan oleh orang terkemuka yang kami istilahi sebagai SAUDARA TUA. Saudara Tua Kami berinkarnasi, tetapi juga diberdayakan untuk bergerak ke banyak tempat tak terlihat.”

Organisasi PBB dan UNESCO

Dari Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia:

Artikel 1: Semua manusia dilahirkan merdeka serta sama dalam hak dan martabat. Mereka diberkahi dengan logika dan hati nurani dan harus bersikap terhadap satu sama lain dalam semangat persaudaraan.

Artikel 2: Setiap orang berhak atas semua hak dan kebebasan yang diatur dalam Deklarasi ini tanpa pembedaan apapun seperti ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, pendapat politik atau lainnya...



Artikel 18: Setiap orang memiliki hak kepada kebebasan berfikir, hati nurani dan agama; hal ini termasuk kebebasan merubah agama atau kepercayaan...

PERSAUDARAAN DALAM ISLAM

Persaudaraan dalam Islam mengecualikan kuffar. Kuffar bukanlah saudara dan bukan teman. Lihat apa yang Allah Ta'ala firmankan dalam Al-Qur'an:

Wahai orang-orang yang beriman!
Janganlah mengambil yahudi dan nasrani sebagai kawan;
mereka adalah berkawan satu sama lain.
Siapapun di antara kalian yang mengambil mereka sebagai teman berarti salah satu dari mereka.
Allah tidak akan membimbing orang-orang yang melakukan perbuatan salah.
(Qur’an 5, 53)
Dan lihat apa yang Ibnu Juzayy katakan dalam Tafsir nya mengenai Qur’an pada ayat ini (5, 53):

“Asbabun nuzul nya adalah ‘Abdullah bin Ubayy bin Saloul mengambil yahudi dari Bani Qaynuqa’ sebagai teman, sedangkan ‘Ubadah bin as-Samit memutus hubungan sekutu yang telah terjalin antara dia dan mereka. Kata-kata dalam ayat ini adalah umum dan hukum syara' haramnya berteman dengan yahudi dan nasrani yang terkandung di dalamnya belum sepenuhnya tergali. Namun, bertransaksi dengan mereka dalam jual beli dan yang sejenisnya tidak disertakan dalam larangan ini. Ungkapan ‘adalah salah satu dari mereka’ menunjukkan kerasnya ancaman.

Siapapun yang yakin pada keyakinan mereka adalah salah satu dari mereka dalam segala sesuatunya. Siapapun yang tidak setuju dengan keyakinan mereka tetapi mencintai mereka adalah bersama dengan mereka, mereka berada dalam kebencian dan hukuman Allah.” Cinta kafir dan toleransi terhadap umat Islam adalah penipuan. Itu adalah ungkapan kesombongan bahwa mereka sekarang merasa bahwa mereka dapat mendefinisikan ulang dan mengajari kita versi Islam mereka. Islam yang mereka siap untuk terima sungguh sederhana: “Kita semua percaya pada Tuhan yang sama, dan agama lain hanya adaptasi ekterior yang berbeda dari keyakinan lazim itu. Karena alasan itulah kita semua saudara dan kita harus saling mencintai satu sama lain.”

Ini adalah agama lain yang bertentangan dengan Islam. Semua Muslim harus menolak dan memerangi doktrin palsu ini bahkan seandainya pun dilukis di dalam warna yang paling indah. Apa yang Anda lihat di bawah payung kesatuan keyakinan dari semua agama dan persaudaraan umat manusia ini bukanlah apapun melainkan prinsip sekuler kuno yang secara sejarah diusung oleh suatu gerakan yang dinamai pencerahan. Kesempatan kemudian dilihat oleh kuffar dalam esoterisisme, yang membuka pintu palsu kepada Sufisme dengan menyajikan suatu ‘Islam esoterik’, yang dianggap sebagai bentuk yang lebih unggul dari Islam.

Muslim merupakan kumpulan orang-orang yang Allah sebut dalam Qur’an, Ummah. Setiap Muslim individu disatukan dengan setiap Muslim lain dalam ikat unik persaudaraan yang menakjubkan yang melampaui batasan-batasan ras dan bangsa tempat dan waktu yang lebih kuat bahkan dari ikatan keluarga. Kita adalah saudara yang terlibat dalam tujuan lazim yang sama datang dari Allah dan pergi kepada Allah. Ini adalah persaudaraan Islam.

Qur’an dan Tanda yang Jelas dari Rasul Allah, sallallahu ‘alayhi wa sallam, yang membedakan umat manusia. Mengakui perbedaan ini adalah krusial guna memahami eksistensi. Tanpa diskriminasi ini kita tidak akan mampu menghargai Qur’an atau Sunnah. Jika orang yang menegaskannya adalah sama dengan orang yang menyangkalnya, maka Islam hilang. Allah berfirman dalam Qur’an:

Umat manusia adalah satu bangsa yang tunggal.

Kemudian Allah mengutus para Nabi membawa berita baik dan memberikan peringatan, dan dengan perantara para Nabi Allah mewahyukan Kitab dengan kebenaran, untuk memutuskan perkara antara manusia mengenai perbedaan-perbedaan mereka. Dan hanya orang-orang yang diberi itu berbeda tentang hal itu, setelah Tanda yang Jelas datang kepada mereka, mereka bermusuhan satu sama lain. Kemudian, dengan izin-Nya, Allah membimbing orang-orang yang beriman kepada kebenaran dari apa yang membuat mereka berbeda. Allah membimbing siapapun yang Dia kehendaki kepada jalan yang lurus. (Qur’an 2, 211)

Setelah bimbingan itu, umat manusia dibagi kepada dua jalan. Satu milik orang beriman dan lainnya milik kuffar. Dua jalan ini adalah rahmat Allah atas umat manusia.