Penyimpangan esoterik

Esoterisisme telah menjadi filosofi kafir yang paling berpengaruh dan biasa hari ini. Filosofi tersebut memiliki pengaruh yang melatarbelakangi konstitusi kita, bentuk pemerintahan kita, politik, ekonomi, dan moral kita. Dari filosofi awal toleransi agama berevolusi kepada hak asasi manusia yang akhirnya berkembang menjadi badan pertama legislasi dunia.

Esoterisisme secara bertahap berkembang menjadi suatu badan doktrin selama abad kedelapanbelas, dengan latar belakang krisis identitas keagamaan di negara-negara bangsa yang baru muncul. Reformasi kristen telah menghancurkan homogenitas agama di Eropa sejauh bahwa identitas keagamaan tidak bisa lagi berlaku sebagai identitas warga negara nasional. Di tempat-tempat seperti Perancis minoritas agama berpengaruh telah menjadi kekuatan yang harus diperhitungkan dan menuntut status yang sama. Paling penting karena konsekuensi yang kemudian adalah fakta bahwa beberapa minoritas ini, terutama kalvinis dan yahudi, telah bertumbuh menjadi lebih kuat di atas industri yang baru berkembang yaitu perbankan, mengikuti contoh yang luar biasa dari Low Countries pada abad ke-17. Hukum agama yang melarang riba atau sangat didiskriminasikan terhadap pelajaran non-katolik secara bertahap mulai dihilangkan. Membayar pajak menjadi praktek baru identitas. Perkenalan teknik pemajakan baru yang lebih efektif, terutama sistem uang kertas, mendorong negara-negara bangsa untuk menghilangkan semua perbedaan lain. Dalam suasana ini ide dari ‘toleransi’ berkembang: ‘kita mentoleransi setiap orang yang membayar pajak dan mematuhi hukum’. Hal itu menjadi hukum di atas hukum agama: Hukum Negara. Pemajakan ada di atas hukum agama. Hukum Agama tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan negara.

Pengelompokan Freemasonik dan pseudo-masonik mengembangkan tubuh homogen doktrin esoteris. Doktrin esoterik ini menyediakan bagi negara dengan filosofi yang dengannya membenarkan identitas barunya. Esoterisisme menjadi agama yang tidak dipermasalahkan dari negara modern di atas semua agama lain yang hanya sebatas ditoleransi. Konstitusi telah menjadi bibel dari agama esoterik baru.

Esoterisisme memperoleh hal aneh lain tetapi sekutu yang sangat kuat: sistem perbankan. Sistem perbankan lebih dari siapapun memerlukan penghilangan hukum-hukum agama, yang telah gigih mengharamkan riba selama berabad-abad (Hukum Islam dan hukum kristen lama tidak mengizinkan riba). Esoterisisme menyediakan suatu bingkai moral baru yang dengannya membenarkan perubahan. Filsuf moral seperti Jeremy Bentham (1757-1831), bapak utilitarianisme, membela riba dengan semangat. Dia menyepelekan hukum agama dan secara sederhana mengaburkan keuntungan dengan keadilan, membenarkan hal ini bagi orang-orang yang menginginkan kenyamanan moral dengan ‘jika sesuatu itu menguntungkan maka itu tentu adil’. Ada hubungan aneh antara ekonom dan filosofi awal toleran. Prinsip pertama agama toleransi dihadirkan oleh ekonom. Orang yang sama yang membenarkan perbankan dan pemaksaan toleransi dari sistem uang kertas menciptakan sarana pendukung untuk piagam Hak Asasi Manusia (Rights of Man). Hubungan ini masih berlanjut.

Stempel esoterisisme adalah negara dan bank. Esoterisisme adalah dimensi spiritual ekonomi. J.P. Proudhon (1809-1865) menyebutkan ekonomi sebagai sebuah sekte, dan hal ini adalah benar. Ekonom adalah sekte esoteris. Mereka membenci semua hukum agama dan mereka memproklamasikan sebuah tatanan baru dari origin rahasia dan kepemimpinan rahasia. Negara dan bank sebagai cara hidup memiliki sebuah agama, dan agama tersebut adalah esoterisisme. Di manapun Anda melihat mereka Anda melihat stempel agama esoterik. Esoterisisme hadir di dalam hidup kita melalui sistem hukum. Semua konstitusi memiliki asal esoterik, termasuk Konstitusi Islam Iran. Jika Iran mengikut Hukum Islam mereka tidak membutuhkan konstitusi. Hanya negara, bank dan mata uang kertas yang membutuhkan konstitusi. Semua negara adalah bagian dari PBB yang telah menerima aturan esoterisisme. Penerimaan terhadap PBB adalah suatu penolakan otomatis terhadap Islam. Akibatnya, persamaan semua agama yang diproklamasikan oleh hak asasi manusia berarti penghapusan praktis semua agama. Kita tidak memerlukan semua agama karena kita mengetahui bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang diridhai di sisi Allah. Eropa juga mencoba selama berabad-abad untuk menyingkirkan kristen. Tetapi hal tersebut membebaskan semangat anti kristen dari orang Eropa yang mau tidak mau membimbing mereka kepada Islam, sebagaimana yang terjadi sekarang, telah menyimpang ke esoterisisme, doktrin pa

lsu dari fondasi dualis, yang melumpuhkan orang-orang dengan nilai-nilai nihilistik sehingga kehilangan kebijaksanaan. Freemasonri juga memainkan peran fundamental dalam perkembangan esoterisisme. Kemenangan freemasonry adalah juga kemenangan esoterisisme. Kita juga dikelilingi oleh simbolisme masonik dan ikut serta secara mendalam dalam struktur hukum masonik sehingga kita menjadi sedikit bingung oleh subjek tersebut. J. P. Proudhon, yang memutuskan bergabung dengan freemason dengan pemahaman bahwa freemason ada di mana-mana, memasukkannya dengan cara berikut:

“Masyarakat masonik, ditempatkan di bawah kekuasaan dan perlindungan dari pejabat tinggi, bukan lagi rahasia. Kata sandi mereka, istilah kabalistik mereka, sinyal-sinyal dan sentuhan mereka, semua ini diketahui, dicetak dan diterbitkan dan diteriakkan di jalanan. Adapun untuk doktrin, setelah toleransi menjadi prinsip hak publik di seluruh dunia, dan deisme sepetak kecil rumah sementara untuk orang-orang yang telah meninggalkan agama orang tua mereka, kami dapat berkata bahwa doktrin tersebut telah memasuki sirkulasi umum.”

Dia melanjutkan argumentasi bahwa “deisme dan toleransi sekarang adalah pengajaran resmi.” Menentang masonri adalah menentang konstitusi dan negara: artinya menentang negara itu sendiri, yaitu menyangkal hak asasi manusia. Masonry kehilangan glamor teori konspirasi yang baik karena itu menjadi prestasi besar. Proudhon juga menunjukkan bahwa doktrin freemasonry di pertengahan abad ke-19 didominasi oleh dua konsep: toleransi dan deisme. Keduanya mempunyai fondasi esoterik.

Esoterisisme menemukan sekutu yang luar biasa selama perkembangannya yang mengizinkannya menjadi filosofi paling dominan sekarang. Esoterisisme juga harus menghadapi Islam. Ketika esoterisisme datang ke tanah kita dia menyesuaikan bentuknya menjadi penyimpangan esoterik dalam Deen Islam. Sekutu yang sama yang mempromosikannya di Eropa juga mempromosikannya di tanah Muslim. Tatanan esoterik

Setelah Perang Dunia Pertama jarahan Kekaisaran Usmani dibagi menjadi duapuluh tiga negara besar dan kecil baru, dan akhirnya orang-orang menyebutnya sedemikian rupa sebagai merdeka, padahal kenyataannya mereka bukan dibebaskan. Akan tetapi, ‘kemerdekaan’ mereka artinya kewajiban implisit untuk menerima bingkai hukum dari PBB.

Saat merdeka, mereka secara bersamaan ada dalam sebuah peraturan unik, yang diakui oleh PBB. Mereka diterima sebagai anggota negara dibawah PBB yang dianggap sebagai bukti kemerdekaan mereka. Diam-diam, kedaulatan penting — artinya kekuasaan untuk memutuskan kasus-kasus luar biasa — diserahkan kepada badan baru, bukan kepada metropolis kolonial klasikal tetapi kepada Dewan Keamanan Permanen anggota PBB. PBB dengan demikian menjadi bingkai legal baru yang ditujukan untuk menghapus tatanan kolonial imperial yang sebelumnya. Ide tatanan dunia baru ini berdasarkan PBB pertama kali disusun dan dipromosikan oleh Amerika Serikat dan dimodelkan dalam citra mereka sendiri dan keserupaan. Kriteria ‘demokrasi, hak asasi manusia dan ekonomi pasar bebas’ yang telah ditentukan untuk menjadi landasan dari tatanan dunia baru, bangunan dimaksudkan untuk selesai di abad ke-21, telah jadi, sekarang, prioritas yang tidak terpisahkan dari dunia kontemporer. Dengan demikian kita sekarang hidup dalam tatanan yang diatur oleh sistem politik dan hukum yang diciptakan oleh Amerika Serikat dan semua yang diwakilinya. Tiga unsur ini, yang juga dapat disebut perwakilan politik, toleransi dan riba, telah mewujud, sejak Locke, bergabung bersama dan secara moral mereka terintegrasi. Tatanan dunia yang berasal dari konsepsi bersama ini pada dasarnya perintah esoteris.

Esoterisisme, yang melalui PBB dan UDHR memperoleh status hukum tertinggi, memiliki entri yang lebih sederhana dalam urusan-urusan tingkat dunia. Cita-cita dari egalité, liberté and fraternité tidak diikuti oleh kedamaian dan saling cinta, melainkan sebaliknya. The Reign of Terror dan peningkatan semangat nasionalis merupakan hasil politis pertama dari ide-ide revolusioner. Namun, mereka bertahan. Menjelang 1848 ide Republik Universal (negara dunia) adalah tujuan milenialis blak-blakan dari ide-ide esoterik yang sebelumnya diekspresikan oleh persaudaraan umat manusia dan universalitas semua agama. Perang dan konflik agama yang mengikuti tampaknya tidak mengguncang prevalensi cita-cita, tetapi justru membantu menegaskan pentingnya cita-cita tersebut untuk diwujudkan. Itu bukan keinginan belaka untuk perdamaian yang membuat cita-cita esoteris makmur, karena tidak didasarkan pada penolakan perang, sebaliknya, komitmen total pada perang (perang total) muncul. Apa yang penting untuk penyebaran cita-cita ini adalah menemukan sekutu kunci yang menemukan bahwa semua cita-cita ini penting untuk perkembangannya: kapitalisme perbankan. Ekonom, atau sekte tersebut, bergerak bersama dengan perkembangan cita-cita esoterik dan membantu mereka berekspansi meskipun terjadi kemunduran politik akibat perang dan konflik-konflik lain. Aliansi sesat ini menutup takdir mereka bersama-sama:

esoterisisme dan kapitalisme adalah terikat. Esoterisisme, yang tidak pernah menang dalam panggung politik dan telah gagal total, ini diatasi hanya oleh harapan milenialis penipu. Janji masa depan yang gemilang, tidak terjangkau dan belum dekat, menjauhkan tekanan dari kekacauan ini. Tatanan esoteris yang tidak dapat dicapai dengan cara politik menemukan cara sukses dalam ekonomi kapitalisme itu sendiri. Tatanan dunia akan dicapai dengan kesuksesan mutlak dari tatanan ekonomi.

Memahami realitas ganda ini yang mempengaruhi dunia ekonomi adalah esensial untuk memahami cita-cita esoterik tersebut. Yahudi, yang merupakan pembawa utama riba di Eropa, bisa membebaskan diri dan melegalkan praktek riba hanya dengan penghapusan agama, dan ini merupakan basis dari Hak Asasi Manusia. Sebagaimana telah saya katakan, proklamasi yang menyebabkan semua agama bernilai identik adalah seperti berkata bahwa tidak satupun dari agama-agama itu yang benar, dan karena itu berarti penghapusan praktis agama. Dengan demikian sekularisme adalah ungkapan hukum dari universalitas semua agama. Secara historis hal itu bermakna eliminasi semua agama ‘yang berprasangka buruk’ menentang riba. Juga dengan persaudaraan umat manusia datang emansipasi politik yahudi dan kalvinis yang bergabung dengan Yahudi dalam upaya untuk dominasi riba. Ini adalah bagaimana perbankan menjadi institusi dominan di tahun-tahun berikutnya, sampai sekarang. Tidak diragukan bahwa perbankan tidak akan berbentuk seperti yang kita kenal sekarang tanpa penyingkiran hukum-hukum agama yang melarangnya. Karena itu tidak diragukan, bahwa cita-cita esoterik adalah instrumen sempurna untuk menjamin bahwa transformasi yang berarti pendirian kapitalisme. Esoterisisme adalah agama dari bentuk terakhir dari kapitalisme perbankan. Dan itulah sebabnya kenapa kita dapat menegaskan bahwa cita-cita esoterik walaupun suatu kegagalan politik tetapi menjadi suatu sukses ekonomi.

Esoterisisme menimbulkan ancaman yang lebih berbahaya bagi Islam ketimbang permusuhan dengan maksud meniadakan Islam seperti halnya Perang Salib. Pendekatan esoteris menyamarkan karakter bermusuhan yang mungkin ada, di bawah selimut dialog dan toleransi. Esoterisisme tidak secara kentara meniadakan Islam. Esoterisisme mengklaim diri sebagai Islam, tetapi sebenarnya adalah versi yang telah dimodifikasi. Di bawah hak asasi manusia praktek agama, termasuk Islam, dipertahankan — atau lebih banyak terinspirasi oleh organisasi hak asasi manusia — tetapi hanya sebanyak Islam tidak lagi menampilkan diri sebagai satu-satunya agama yang benar dan tak terbantahkan yang diterima Allah. Penerimaan awal akan tatanan PBB adalah syarat yang tanpanya pengakuan ramah suatu negara atau posisi politik tidak dapat terjadi. Tatanan seperti ini menghendaki lawan menyerah sebelum tatanan tersebut dipertanyakan. Dengan demikian sifat kontrak menjadi sekunder setelah perjanjian tidak lagi ditentukan oleh kesepakatan bersama, tetapi sebagai suatu prasyarat. Tatanan ril nya membentuk diri sendiri yang terlepas dari perasaan nasional atau populer, melampaui batas-batas negara bangsa dan suara serta pengawasannya, ke dalam sistem keuangan dan perbankan yang terintegrasi yang masih berkembang saat ini terhadap akhir yang tidak dapat diubah sendiri.

Esoterisisme dan Kapitalisme

Mimpi dari budak-tuan di perkebunan adalah memerintahkan para budak bahagia: mereka akan bekerja lebih baik. Ini tidak terjadi kepada tuan budak yang menulis dalam Konstitusi AS 'hak untuk mengejar kebahagiaan' yang mungkin bisa berarti bahwa kebahagiaan adalah untuk semua orang atau yang ada hubungannya dengan perbudakan. Perbudakan adalah situasional, bukan masalah tentang pilihan. Sekarang masih ada perkebunan dengan keadaan jauh lebih buruk daripada orang-orang di Amerika; kita menyebutnya tempat kerja. Perbedaannya adalah budak sekarang disebut buruh. Buruh ini adalah kelas para pekerja. Kebebasan, sebagaimana dipahami dari situasi gilda jaman pertengahan yang menjunjung tinggi etos sosial di mana hubungan mualim/mubtadi mendominasi hubungan majikan/karyawan yang merendahkan hari ini, telah mengungguli ‘hak-hak’. Tetapi gilda dipandang sebagai resistansi terhadap pemusatan kekuasaan negara dan karena itu dalam pandangan mereka merupakan halangan untuk kemajuan. Kata liberté, égalité, fraternité bermakna sangat sedikit melebihi kertas kata-kata itu ditulis. Dalam nama mereka gilda yang mendominasi jaman pertengahan dihapuskan guna memberikan jalan bagi sistem upah kapitalis. Kami telah menerima gagasan bahwa kerja adalah tujuan yang layak untuk para penganggur, tanpa menghadapi kenyataan bahwa kerja adalah bentuk terendah dari kegiatan ekonomi: artinya, seorang manusia direndahkan menjadi fungsi mesin, kehilangan kapasitas untuk sepenuhnya menikmati hasil karyanya. Fakta ini sekarang disepelekan, tidak dimengerti maupun tidak disadari oleh analis modern dalam etos ekonomi baru. Dan namun orang ini, yang merupakan budak dari kebanyakan standar di masa lalu, dianggap bebas karena dikatakan demikian di dalam konstitusi. Ketidakmampuan melihat dan memahami kenyataan, atau bersendiri menghadapi kenyataan itu adalah tujuan dari esoterisisme. Itu juga sesuatu yang kapitalisme harus berterimakasih sangat, karena tanpa itu pemberontakan populer akan tak terelakkan.

Jika sekarang kita membandingkan seorang pekerja jujur di sebuah perusahaan software di Seattle dengan pekerja lain, di tambang emas di Afrika Selatan di mana mereka menghitung jumlah minggu sejak kematian terakhirnya, kami menyadari bahwa, apapun standar Anda, dalam perburuhan mereka adalah sama. Bahkan saat Anda harus memutuskan siapa yang lebih baik keadaannya, uang akan kehilangan porsi nilainya (inflasi,kata mereka) tak peduli apakah Anda suka atau tidak. Itu adalah ‘uang’ yang tidak pernah Anda lihat atau sentuh, Anda hanya dapat membacanya di atas selembar kertas: ‘saya berjanji untuk membayar kepada pemegang kertas ini.’ Ini seperti hak untuk memiliki pekerjaan atau mengejar kebahagiaan. Tetapi jika pajak anda dibayarkan untuk membunuh beberapa ribu perempuan dan anak-anak sipil di Iraq atau Hiroshima, Anda mungkin berjuang sedikit untuk mengucapkan kata ‘toleransi’, dan kita masih memiliki seseorang yang bingung memikirkan hal apakah ia membunuh mereka atau apakah negara melakukannya di luar kemauannya. Ketika kekuasaan politik anda sebatas mencontreng atau mencoblos kertas dan memasukkannya ke kotak suara setiap lima tahun, yang dengannya kebebasan telah mencapai puncaknya. Dan erosi kebebasan ini terjadi pada saat ketika kata kebebasan dilihat di banyak tempat melebihi sebelumnya. Esoterisisme telah membolehkan beberapa orang secara salah menyelamatkan wajah dan entah bagaimana terus merasa layak di tengah-tengah penyerahan eksistensial ini kebebasan pribadi kita yang menyertai maskulasi politik dan ekonomi kita sekarang, situasi yang menyamarkan sifat sejatinya dibelakang nama demokrasi.

Kita diminta untuk percaya bahwa praktek masyarakat yang radikal dan baru yang datang dengan liberté, égalité, fraternité dalam Revolusi Perancis keluar secara tiba-tiba tanpa diharapkan, konsensus spontan di antara jutaan orang yang beraksi di luar rutinitas normal dan yang karenanya mungkin wajar seharusnya sudah bertindak sebagai individu untuk sekali, melakukan sesuatu yang benar-benar ingin mereka lakukan. Kontras dengan penindasan Rejim Lama, gambaran kebebasan yang menghibur mengaburkan kemungkinan dari motif terselubung manusia dan men sahkan tindakan apapun yang berusaha menghilangkan rejim jahat. Dengan demikian peristiwa-peristiwa politik, sepenting apapun, telah melenyapkan peristiwa revolusi ekonomi. Setelah revolusi, negara absolut mengambil alih monarki absolut. Sedikit yang mengatakan dalam kaitannya dengan tahun 1789 untuk mengingatkan kita bahwa itu adalah tahun di mana hukum yang menentang riba dihapuskan; parlemen baru diambil alih, bukan hanya gereja, tetapi gilda-gilda dihapuskan, dengan demikian sistem kesejahteraan rakyat dihapuskan; dan tahun pertama di mana asignats, uang yang mem-back-up negara — uang kertas — diperkenalkan. Penjelasan sosial dari peristiwa-peristiwa ini tidak dapat memuaskan berdasarkan spontanitas populer atau kecelakaan, sebaliknya mereka menunjukkan bahwa kepentingan selain liberté dll. hidup berdampingan selama Revolusi.

Kalau dipikir, evolusi dari praktek riba klasik kepada perbankan berdasarkan penciptaan uang dari ketiadaan, memiliki efek lebih besar bagi masyarakat ketimbang penghilangan pemerintah dari dari Old Bourbons. Pada saat kekuasaan luar biasa dari penciptaan kesejahteraan dari ketiadaan telah ditemukan, artinya perbankan, diikuti dengan negara bangsa. Dengan cara yang sama perang menjadi peperangan total, perbankan menjadi ‘perbankan total’ ketika perbankan diberi sumber daya yang hampir tidak terbatas dan komitmen total dari negara. Negara menjadi bank, dan dengan demikian negara modern lahir. Hubungan antara bank dan negara modern ini sangat penting kepada suatu pemahaman dari institusi yang kita warisi sekarang. Itu adalah hal yang signifikan sehingga satu dari hasil langsung dari Revolusi Perancis adalah legalisasi riba. Riba adalah yang pertama dilegalkan di Perancis dalam tiga bulan pertama Revolusi. Episode sejarah yang tidak diceritakan ini berarti legalisasi kejahatan (riba) yang dalam Islam adalah lebih buruk dari menzinai saudara kandung (muhrim), dan karena itu membuat bayangan di atas prinsip-prinsip besar liberté, égalité dan fraternité.

Perubahan persepsi kejahatan riba mengilustrasikan secara sempurna perubahan terbaru dalam fokus dari realitas kepada moralitas, artinya, nihilisme. Sebelum hari Revolusi, tahun 1745, paus Benedict XIV menulis sebagai berikut tentang kejahatan yang masih secara ketat dihukum, termasuk dalam pengucilan:

“Dosa riba meliputi percobaan mendapatkan — berdasarkan alasan dan pinjaman — jumlah yang lebih dari jumlah yang diberikan dan tidak menghormati kondisi kontrak ini yang menuntut kesetaraan antara apa yang diserahkan dan apa yang dikembalikan.” Berlawanan dengan hal di atas, Jeremy Bentham, bapak dari utilitarianisme, menulis di tahun 1816 dalam bukunya Defence of Usury: “Saya mengetahui dua definisi yang mungkin dapat diberikan kepada riba. Satu adalah, mengambil bunga lebih besar melebihi yang diizinkan oleh hukum: hal ini definisinya dapat ditata secara hukum atau politis. Satunya lagi adalah, memungut bunga lebih besar daripada biasa bagi pria untuk memberi dan menerima: hal ini dapat ditata lewat moral: dan hal tersebut, di mana hukum tidak ikut campur, adalah cukup jelas sebagai satu-satunya aturan.(...) Satu hal, maka, sederhana jadinya: sehingga dapat didahului pertumbuhannya dari konvensi, karena itu tidak ada itu yang namanya riba; sebab tingkat riba ditentukan dari tepat tidaknya tingkat bunga yang diambil?”

Perubahan ini adalah perubahan nilai esoterik: realitas riba digantikan oleh moral riba, dan dengan demikian riba menjadi tidak riba. Riba tidak lagi dipermasalahkan karena banyak orang yang melakukan, tinggal prinsip moral apa yang melatarbelakangi tindakan riba tersebut. Ini adalah filosofi praktis yang siap untuk diperluas kepada konsekuensi finalnya. Bahkan akhirnya geraja pun beralih kepada nilai esoterik baru ini: menyepelekan Hukum Ketuhanan yang melarang setiap penambahan yang tidak dapat dibenarkan, sekecil apapun, dan untuk menyesuaikan diri dengan penafsiran moral. Dengan demikian bagi Bapa Katolik Ballerini, dia berfikir bahwa “adil atau tidak adil dalam memungut bunga adalah tergantung niat seseorang.”

Esoterisisme mencapai tenaga penuh dalam kepuasan orang yang ingin merasa layak tanpa memaparkan cara hidup mereka. Esoterisisme menyediakan sebuah fondasi yang darinya dapat menjelaskan bahwa masalahnya bukanlah riba, tetapi bagaimana kita merasakannya. Apa yang perlu berubah, kata mereka, adalah bagimana kita merasa tentangnya. Lupakan ekonomi, masalahnya adalah persepsi anda tentang dunia. Namun dalam Islam, padangan seperti ini adalah tidak mungkin. Badan Syariah dan fiqih luar biasa merincikan deskripsi fakta-fakta. Artinya mengakui motivasi individu tetapi menghakimi fakta-fakta. Hal ini tidak berarti bahwa beberapa Muslim tidak mengambil pendekatan esoterik. Beberapa Muslim esoteris telah mencoba untuk meyakinkan kita bahwa ekonomi bukanlah masalah. Kelakukan yang demikian adalah tanda yang membedakan dan memperjelas posisi Muslim esoterik.

Pandangan esoterik mengenai riba ini adalah bersifat analog bagi pandangan mereka tentang Tuhan. Riba memberi kita kesempatan untuk memperoleh ide awal dan pemahaman esoteris mengenai Tuhan. Ketika ide awal itu membicarakan Tawhid dalam Islam, pengalaman esoteris memiliki pandangan yang khas. Tauhid dipandang sebagai sebuah prinsip teologis yang disebut monoteisme. Tetapi Tawhid bukan monoteistik ataupun politeistik ataupun ateistik. Tawhid bukanlah teistik sama sekali. Allah bukanlah sebuah ide. Tawhid hidup oleh Muslim. Itulah sebabnya deklarasi keyakinan kita, atau Syahadat, bukanlah sembarang pernyataan tetapi sebuah komitmen sosial yang dibuat di depan umum. Setidaknya sekali seumur hidup, Muslim mendeklarasikan keyakinannya di depan Muslim lain, dan Syahadat tersebut mengikatnya kepada komunitas Muslim dengan melibatkan kewajiban tertentu selama sisa hidupnya.

Tawhid kita menyiratkan keyakinan kepada Allah dan keyakinan kepada Rasul-Nya.

Kedua bagian Syahadat adalah penting. Anda tidak dapat percaya kepada salah satu bagian tanpa mempercayai bagian yang lain. Pernyataan ‘Muhammadun Rasulullah’ adalah suatu pengakuan kepatuhan kepada Rasul dan ulil amri di antara Muslim. Hal tersebut menyatukan keyakinan dan kepatuhan. Muslim berarti orang yang tunduk kepada Allah, yang jauh lebih tinggi ketimbang sekedar menyatakan bahwa seseorang tunduk kepada Allah. Kepatuhan adalah tindakan yang tidak dapat diganti oleh (logos). Tawhid bukanlah ide teologis, penerimaan terhadap Tawhid terhubung kepada tingkah laku. Demikian pula, riba bukanlah suatu ide moral, tetapi riba adalah tingkah laku.

Kaum esoteris merujuk kepada Tawhid dalam istilah teologis semata. Mereka berbicara tentang ‘agama monoteistik’, sebuah nama yang menempatkan Islam bersama kristen dan yahudi. Monoteisme esoterik dengan demikian membolehkan kita untuk berbicara tentang universalitas agama-agama. Hal ini memungkinkan kita untuk menguraikan ide dari domain esoterik yang lazim bagi semua agama dan sama hal nya dengan domain eksoterik, yang kurang penting, yang terdiri dari variasi lokal dan temporal dari ritual dan kewajiban-kewajiban. Karenanya esoterik mengklaim berdasarkan asumsi palsu Tawhid. Memahami Tawhid itu sendiri adalah sebentuk pembongkaran esoterisisme, yang merupakan pemisahan antara keyakinan dan tingkah laku yang membolehkan Bapa Ballerini mendefinisikan ulang riba dan untuk mempraktekkannya tanpa penyesalan.

Esoterisisme dan Tasawwuf

Di atas permukaannya, esoterisisme dan Tasawwuf tidak memiliki hubungan satu sama lain, kecuali bahwa Tasawwuf dapat menawarkan suatu pemahaman dari esoterisisme.

Merupakan tugas yang berat bagi kuffar untuk menjual demokrasi, kapitalisme dan hak asasi manusia dalam satu paket kepada Muslim. Kuffar harus menghapus pengetahuan tentang Allah dari Muslim dan menggantikannya dengan penafsiran antropoligis dan psikologis mereka sendiri dari keberadaan. Menghilangkan pengetahuan tentang Allah adalah menghilangkan pengalaman akan Keberadaan Allah. Targetnya adalah menghilangkan Tasawwuf. Ada dua cara melakukannya: menyangkal dengan cara menempatkannya sebelum Syariah atau mengangkatnya di atas Syariah. Keduanya memerlukan pemisahan Tasawwuf dan Syariah. Pemisahan ini disediakan oleh esoterisisme. Esoterisisme menyediakan pemisahan antara esoterik Islam, yang diwakili oleh Tasawwuf, dan eksoterik Islam, yang diwakili oleh Syariah. Beberapa orang menempatkan apa yang mereka sebut esoterik Islam di atas Syariah; sebagian lagi menerima eksoterik atau praktek Islam sehingga menyangkal pengetahuan Tasawwuf. Keduanya adalah cara menghancurkan Islam dan keduanya adalah penyimpangan dari Islam. Kedua cara tersebut menyangkal Islam. Kedua cara tersebut adalah cara dari penyimpangan esoterik.

Esoterisisme meminjam metafisiknya dari gagasan kantian mengenai realitas dalam arti ‘objektifitas dari pengalaman’, ungkapan terakhir dari ‘subjektifitas’ dalam evolusi metafisik barat. Artinya, esoterisisme berdasarkan gagasan realitas yang dikunci kepada apa yang kita sebut ‘realitas manusia (human reality)’. Artinya bahwa perbuatan ditafsirkan dalam cara antropologi, yang menyangkal la hawla wa la quwwata illa billah. Karenanya, menjadi penentangan multak atas Tasawwuf.

Allah adalah Pemeran. Kita adalah para budak. Kapasitas menakjubkan dari budak adalah bahwa dia dapat mematuhi Allah yang mengarahkannya ke titik di mana dia menjadi bebas. Dia mencapai kebebasan dengan menyerahkan kemerdekaannya. Dan mencapai merdeka — yaitu mencapai kedudukan hambanya yang sempurna — mengizinkan Muslim, saat Allah telah memberikan Persetujuan Nya, untuk memerintah diri dan dunia. Bahwa kekuatan tersebut bukanlah milik si hamba, kekuatan itu hanyalah pinjaman dari Allah dan terselubung dari kami. Berbuat bukanlah sekedar fungsi antropologis. Berbuat adalah ibadah. Jika pemahaman ini disangkal, atau ditunda, atau dikurangi maka Islam ditinggalkan. Perintah atas dirinya sendiri dan dunia dicapai oleh budak melalui kapasitasnya untuk mematuhi. Dia kemudian dapat berkata: “apa yang halal adalah mungkin,” sementara munafik berkata: “apa yang halal tidak mungkin.” Kebebasan untuk bertindak adalah hak istimewa budak yang membebaskannya dari penjara ‘realitas manusia’ dan menyerah kepada yang Nyata (Real). Syariah tidak akan dapat menghadirkan konflik atau masalah kepada budak, Syariah adalah jalan termudah. Budak merindukan Syariat, dan pengetahuan Syariat, untuk mengetahui dirinya sendiri. Orang-orang yang telah mencoba memisahkan Tasawwuf dari Syariah adalah para pembohong!

Manusia tidak dapat dipahami kecuali sebagai saksi La ilaha illa’llah, Muhammadun Rasulullah. Ada dua aspek dari Tawhid kita. Kita tidak bisa memisahkan keduanya dan tidak ada syirik dalam kebersatuan keduanya. Penegasan Muhammadun Rasulullah, sallallahu ‘alayhi wa sallam, adalah harapan dari proyek manusia. Harapan tersebut menawarkan model untuk diikuti. Model tersebut dipahami akan cinta kepada nya yang diberikan kehormatan sebagai Rasulullah. Cinta kepadanya mengimplikasikan hasrat untuk menirunya. Hasrat untuk menirunya adalah kebijaksanaan mengenai keberadaan dalam bentuk kedua diskriminasi dan resolusi untuk bertindak. Mengetahui La ilaha illa’llah, adalah lari dari antropologis, batasan-batasan yang diciptakan diri sendiri yang disebut realitas manusia (human reality). Allah adalah Yang Nyata. Hal ini adalah mengetahui bahwa Allah dapat mencapai, sedangkan kita tidak dapat mencapai. Dia dapat dan kita tidak dapat. Tetapi untuk mengetahui bahwa Allah dapat adalah kunci kita untuk mencapai ke seberang batasan-batasan yang diciptakan sendiri dari realitas manusia kita. Hal ini tidak berarti berhenti menjadi manusia atau menjadi manusia super dalam kapasitas. Ini berarti untuk dapat memasuki kapasitas alami manusia hanya ditolak oleh realitas manusia yang dibuat sendiri. Ada tempat dan waktu dari kapasitas manusia yang mengecil dan membesar menurut syarat yang kita tetapkan, dan menolak yang diukur dengan kilometer dan detik, dan namun terus ditolak oleh suatu keharusan Kantian untuk mengukur. Paksaan ini untuk mengukur bahwa perbaikan ruang dan waktu, begitu manusiawi, menyelubungi realitas keberadaan yang menegaskan ketergantungan esensial manusia pada Allah. Kita bergantung kepada Allah, Ini adalah realitas kita. Pengukuran disubordinasikan terhadap realitas waktu dan ruang, tetapi bukan cara putaran lain. Ini adalah apa yang diungkapkan ketika Syaikh kami berkata bahwa “Dzikir hamba Allah di Barat mengobati orang sakit di Timur.”

“Tidak ada pemenang kecuali Allah” adalah motto dari kaum Muslim untuk menaklukkan Al-Andalus. Kemenangan manusia adalah ilusi. Hanya dengan memahami bahwa kekuatan adalah milik Allah dapat membuat kembalinya Darul Islam dan Kekhalifahan secara seketika. Keinginan mu'min lebih kuat dari pasukan orang kafir. Esoterisisme telah gagal. Penggunaan sadar satu Dinar Emas Islam akan menurunkan riba.

Esoterisisme dan dialog antar keyakinan

Hari ini pergerakan antar keyakinan adalah kuat (terbukti dengan jumlah partisipasi besar kepada Parlemen agama dunia), dengan beberapa organisasi yang menjalankan tugasnya, termasuk Kongres Dunia tentang Keimanan yang berbasis di London; Konferensi Dunia tentang Agama dan Kedamaian, di New York; dan Kuil Pemahaman, di luar dari Katedral New York St. John the Divine. Filosofi gerakan ini telah diterima oleh banyak Muslim.

Sebaliknya, Ibnu Khaldun menulis dalam kitab nya Mukaddimah:

“Setelah itu, ada perbedaan di antara kristen sehubungan dengan agama mereka dan kepada kristologi. Mereka terbagi kepada kelompok-kelompok dan sekte-sekte, yang memperoleh dukungan dari berbagai penguasa Kristen terhadap satu sama lain. Pada waktu yang berbeda ada muncul sekte yang berbeda. Akhirnya sekte ini mengkristal menjadi tiga kelompok, yang merupakan sekte kristen. Yang lain tidak memiliki signifikansi. Ketiganya adalah Melchites, the Jacobites, dan the Nestorians. Kita tidak berfikir bahwa kita akan menghitamkan halaman-halaman buku ini dengan diskusi mengenai dogma kufur mereka. Secara umum, mereka terkenal. Ketiganya adalah terkenal. Hal ini adalah jelas dinyatakan dalam Qur’an. Untuk berdiskusi atau berargumentasi mengenai hal-hal tersebut dengan mereka tidak menjadi urusan kita. Bagi mereka adalah memilih antara beralih kepada Islam, membayar Jizyah, atau mati.”

Penting untuk menekankan poin yang disajikan oleh Qadi agung Ibn Khaldun ketika dia menyatakan bahwa “untuk berdiskusi atau berargumentasi mengenai hal ini dengan mereka tidak menjadi urusan kita.” Deen Islam bukanlah untuk diadu argumen, hanya cara hidup kita yang dapat diperdebatkan. Tidak ada dialog kristen-Muslim karena mereka tidak sama dengan kita. Dialog semacam itu hanya menurunkan Islam dan memberikan kristen status bahwa itu tidak layak, dan kita dapat mengatakan bahwa semua dari kebaikan terhadap orang Kristen karena kita ingin mereka menjadi Muslim. Dialog semacam itu hanya bisa melanggengkan kristen dan akan membuat umat Islam kehilangan deen mereka. Ini karena kita tidak dapat mendiskusikan pengetahuan apapun tentang Allah dengan orang-orang yang menyangkal Rasul Allah dan hidup dalam fantasi metafisikal. Tugas kita adalah mengajari mereka, yang menunjukkan berbagai jenis hubungan. Kita akan kembali kepada poin ini nanti untuk mendemonstrasikan bahwa diskusi semacam itu dicetuskan oleh kuffar yang ingin menghancurkan Islam. Hal seperti ini tidak boleh ditoleransi. Sikap kita hendaknya seperti yang diungkapkan oleh Qadi: “Bagi mereka adalah memilih antara beralih kepada Islam, membayar Jizyah, atau mati.” Negara modern menawarkan dilema yang tampaknya lebih manusiawi seperti “anda dapat memilih antara pemajakan, penjara atau mati.”

Organisasi yang terlibat dalam dialog seperti wahhabi World Assembly of Muslim Youth (WAMY) dan Rabita al-Islamiyya dalam pencarian mereka untuk pembenaran interpretasi mereka tentang Qur’an. Mereka berkata bahwa dialog diijinkan dengan dasar ayat berikut:

Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah". Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". (Qur’an 3, 63)

Tetapi ayat ini mereka lanjutkan dengan ayat berikut yang mereka sepelekan:

Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir? Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.

Dan juga mereka berkata bahwa metodologi dialog adalah dijelaskan dalam Qur’an dalam ayat yang mengatakan:

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. Qur’an (16, 125)

Namun, dari bacaan literal ayat ini anda tidak dapat membenarkan dialog agama, begitu pula dari segi fiqih. Kita boleh berbicara dan mengajari kristen tentang Deen dan tentang Allah, yang mana mereka jahil tentang itu, tidak sedikitpun ayat ini yang membolehkan kristen untuk berdialog dengan Muslim, sebagaimana yang dimaksud dengan dialog tersebut.

Dr. Jamal Badawi menulis:

“Bagi Muslim, dialog konstruktif tidak hanya diizinkan, itu adalah terpuji. Dalam Qur’an kita membaca, ‘Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah". Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". (al-i-Imran, 64). Metodologi dari dialog tersebut juga dijelaskan dalam Qur’an; “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (an-Nahl, 125)”

Humanisme esoterik

Humanitas dari humanisme ditentukan oleh interpretasi tetap alami, sejarah, dunia dan entitas dalam totalitas mereka. Karenanya semua humanisme didasarkan di atas metafisik. Humanisme adalah metafisikal. Pemahaman atas manusia yang dibatasi kepada pengalaman vital manusia adalah peniadaan dari nilai tinggi spiritual apapun. Manusia mampu mencapai melampaui definisi praktis mekanis dari ruang dan waktu. Tetapi jika terjebak oleh pemahaman teknis dari dunia, manusia akan memperbaiki makna alam dan dirinya sendiri sesuai dengan proyek teknisnya. Hasilnya akan menjadi representasi subjektif dari dirinya sendiri, tetapi bukan dirinya sendiri.

Perbuatan tidak dapat dinilai hanya dengan kegunaannya, tetapi oleh ibadah kepada Allah. Mengukur perbuatan berdasarkan kegunaan adalah menentukannya berdasarkan standar yang tidak berhubungan. Ini seperti mengukur kapasitas kemampuan ikan berenang dengan melihat bagaimana ikan itu dapat hidup di tanah kering. Untuk utilitarianisme tidak berarti menjadi tidak praktis. Kekakuan pragmatisme yang berlawanan dengan ibadah, bukanlah perbandingan antara teknis buatan atau prinsip pasti dan ide-ide di satu sisi dan prinsip-prinsip tidak pasti dan non teknis dan ide-idenya di sisi lain. Ibadah pertama-tama adalah melibatkan peniadaan akan apapun selain Allah, artinya, meninggalkan prinsip-prinsip dan ide-ide yang muncul sebagai hambatan kepatuhan kepada Allah. Ini adalah sesuatu yang sangat tepat yang memungkinkan kita untuk memenuhi tugas kita kepada Allah. Tetapi mencoba menjadi praktis mematikan kita dari pemenuhan tugas-tugas kita, karena selain dari ketaatan menyela di antara pemenuhan tugas-tugas itu. Kita harus membebaskan diri kita dari penafsiran teknis mengenai perbuatan. Ketidakberdayaan pemahaman ilmiah teknis dunia hanya dapat diatasi dengan mengingat Allah yang membebaskan kehendak manusia dari proyek teknis memaksakan diri dan mengembalikan kehendak manusia atas ciptaan.

Cara berfikir humanistik berpendapat bahwa Islam harus membuktikan predikatnya di hadapan ‘ilmu pengetahuan’. Muslim humanis diburu oleh ketakutan bahwa Islam akan kehilangan prestise dan validitas jika tidak dibenarkan oleh ilmu pengetahuan. Dan mereka percaya bahwa cara paling efektif melakukannya adalah dengan ‘mengangkat’ Islam ke tingkat ilmu pengetahuan. Sehingga mereka berbicara dalam istilah bukti-bukti saintifik dari Qur’an, atau ilmu pengetahuan Islam fiqh, Syariah atau Tasawwuf. Sekarang anda dapat menjadi seorang PhD dalam Tasawwuf di beberapa Universitas Arab. Tetapi usaha semacam itu adalah langkah meninggalkan Deen Islam. Tidak berdasar ilmu pengetahuan bukan berarti menjadi tidak ilmiah atau irasional. Maksudnya adalah bahwa Islam berada di tingkat lain yang lebih tinggi melebihi ilmu pengetahuan. Kemurnian ilmu pengetahuan, artinya, objektifikasi ilmu pengetahuan meliputi penyediaan aksesibilitas seragam atas segala sesuatu bagi semua orang. Proses ini sama saja dengan menghapus kehendak orang. Untuk mengembalikan kehendak tersebut kita perlu mengingat Allah.

Ilmu pengetahuan tidak mensahkan apapun. Baru-baru ini laporan Reuters tertanggal 16 Agustus 2000 menyatakan bahwa: “...babi menawarkan prospek lain. Karena babi itu serupa dalam ukuran dan aspek lain dari biologi untuk manusia, babi telah dipandang sebagai sumber potensial organ dan jaringan untuk transplantasi ke orang. Maret, tim di PPL Therapeutics Plc di Edinburgh, Skotlandia, mengatakan mereka telah menghasilkan sampah dari lima babi menggunakan teknologi kloning. Pada hari Rabu, jurnal ilmiah Nature mengumumkan laporan mereka, yang akan dipublikasikan akhir bulan ini.”

Sementara mereka takut dengan virus retro babi yang dapat menular kepada manusia sebagai hasil dari ‘ilmu pengetahuan’ ini yang bukan takut kepada Tuhan, tetapi hanya takut kepada kematian, yang bagi ajaran humanisme, adalah satu-satunya iblis yang sesungguhnya. Kematian adalah akhir dan mereka tidak menginginkannya berapapun dibayarnya. Karenanya cara apapun untuk manusia dibenarkan.

Muslim takut kepada Allah dan bukan kematian. Muslim lebih baik mati dalam ketaatan, daripada hidup dengan diberi jantung babi. Sayangnya perbedaan antara ilmu pengetahuan humanistik dan Islam terlalu luas untuk dipahami oleh ilmuwan ini Edinburgh dan pendukungnya. Muslim modernis yang mendukung ilmu pengetahuan sebagai alat untuk mereformasi Islam, sangat salah paham mengenai latar belakang ilmu pengetahuan modern. Mereka mengambil ekonomi, sosiologi, biologi, dll. sebagai sarana kepada kemajuan humanistik yang sebenarnya adalah anti Islam pada intinya. Tetapi mereka tidak dapat melihatnya.

Untuk menjadi manusia dalam arti yang beradab dan menanggapi perilaku yang baik berarti, dalam bahasa abad ke-20, menjadi warga negara yang taat hukum, pembayar pajak, dan menjadi pemilih dalam pemilu di negara modern. Sebaliknya untuk menjadi bukan manusia berarti menjadi brutal dan berperilaku berani berkaitan dengan warga negara yang ideal dari negara modern. Apa yang ada dalam pertanyaan ketika kita mengatakan manusia bukanlah jenis kelamin atau spesies dibandingkan dengan hewan. Apa yang dimaksud adalah perilaku mengacu pada negara, itu adalah interpretasi aneh mengenai benar dan salah berdasarkan interpretasi aneh manusia, alam, dunia dan sejarah. Itu berarti bahwa setiap bentuk humanisme didasarkan pada metafisika yang menduga penafsiran sesuatu tanpa mengacu pada Allah. Negara dan bank tidak dapat menjadi manusia dengan merujuk kepada pernyataan dan temuan ilmiah, tetapi hanya dengan rujukan kepada Allah. Dan tidak ada yang lain lebih penting.

Sekali kita menerima bingkai metafisik dari versi humanisme kita mengakui kemungkinan intrinsik versi lain dari humanisme juga. Kita dapat membuat setiap orang terlihat sama sebagai manusia berdasarkan jenis humanisme yang berbeda berdasarkan retorika marxis atau sekedar masalah lingkungan. Yang menjadi persoalan bagi kita adalah bahwa cara penetapan semacam ini tidak memiliki kesahihan di hadapan Islam. Islam menyangkal humanisme. Dengan menyangkal humanisme bukan berarti kita tidak menjadi manusiawi, kejam atau berkelakuan barbar, tetapi lebih kepada peniadaan dasar metafisik yang mendasari penilaian mereka mengenai tingkah laku. Islam berada di atas semua itu. Islam bukanlah berdasarkan pada spekulasi metafisik, tetapi berada di atas ketaatan kepada Allah.

Jika tingkah laku manusia diisolasi dari ketaatan kepada Allah, maka kita masuk kepada metafisik sekuler. Setiap definisi sosial atau politis atau biologis mengenai manusia adalah reifikasi manusia, yang menyiapkan dasar bagi penjelasan sekuler atas realitas. Hal itu juga membolehkan kita untuk menjelaskan kenyataan dalam istilah domain esoterik dan eksoterik, dan mempersiapkan untuk penemuan dewa metafisik. Esoterisisme tidak ditemukan tanpa sengaja di jantung perkembangan sejarah dari humanisme dan apa yang disebut hak asasi manusia. Hak asasi manusia berakar pada esoterisisme.

Islam bukan hanya menyangkal humanisme, tetapi yang lebih penting lagi Islam menyangkal kemungkinan pandangan yang mengecilkan manusia semacam itu. Jika manusia tidak diberikan haknya dengan Allah dia direndahkan menjadi alat utilitarian. Begitu pula jika manusia direndahkan menjadi perangkat utilitarian maka Allah disangkal. Islam menyangkal kapitalisme yang merupakan standar dari humanisme modern: tidak ada hal semacam kapitalisme baik dalam Islam. Kristen dan masyarakat ini pada umumnya telah menerima bankir yang baik, dan sekarang bankir adalah filantropi. Ini adalah gejala nihilistik dari esoterisisme. Tetapi Allah yang menetapkan. Kita bukanlah yang menetapkan, kita adalah yang diberi ketetapan, yang berarti bahwa kita mencintai dengan cinta Allah dan kita membenci dengan bencinya Allah, kita seperti apa yang Dia suka dan kita membenci apa yang Dia benci, kita membolehkan apa yang Dia bolehkan dan kita melarang apa yang Dia larang.

Penerimaan akan bankir dalam batasan-batasan humanisme adalah bukti kepalsuannya. Karena kita tidak menerima logika yang menerima riba bersama dengan kelakuan baik kita dapat digambarkan sebagai terpasang dalam irasionalisme. Dan karena kita menentang ‘nilai-nilai’ kapitalis yang ditegakkan oleh hak asasi manusia kita dapat digambarkan sebagai tidak memiliki nilai. Tetapi bagi kita, apa yang mereka sebut manusia, atau hak-hak, atau logis, atau nilai-nilai, atau kebaikan adalah kosong dari makna. Upaya aneh mereka untuk membuktikan secara objektif kekebalan hukum pada riba memanifestasikan sifat artifisial dari nilai-nilai mereka. Untuk mendasari nilai-nilai ini mereka harus mengambil jalan “saya” atau “kami” memutuskan, atau “saya” atau “kami” berkata. Mereka tidak bisa menyeru Allah dan untuk alasan ini humanisme akan menentang Islam selamanya.

Moralitas humanistik adalah moralitas “saya melakukan apa yang saya dapat”: etika yang dibuat-buat supaya sesuai sehingga dapat mengakomodasi setiap tingkah laku pragmatis. Tidak ada yang menerima keadaan ini dapat menjadi tidak manusiawi atau tidak etis. Pandangan subjektif semacam itu dapat mengakomodasi setiap tingkah laku. Itu adalah penyerahan implisit tatanan kekuasaan teknis dari masyarakat kebanyakan yang dibentuk oleh negara. Setiap reformasi atau variasi dari tingkah laku harus menyerah kepada kekuasaan teknis negara. Hal ini menambah kebingungan dan ketidakberdayaan individu.

Menyeru Allah adalah satu-satunya cara meninggalkan penjara humanistik ini. Menyeru Allah adalah satu-satunya cara memperoleh kembali kapasitas untuk bertindak. Hal itu mengimplikasikan penolakan atas istilah dan bahasa konseptual yang digunakan untuk membenarkan yang tidak dapat dibenarkan: riba dan negara. Bahasa baru kita harus didasarkan pada Qur’an dan tingkah laku kita harus meniru model Rasulullah, sallallahu ‘alayhi wa sallam.

Kebebasan agama tidaklah ada, hanya kebebasan dari kesadaran beragama. Tidak ada kebebasan untuk mempraktekkan Islam dalam negara apapun, karena Islam menyiratkan penghapusan negara. Apa yang mereka sebut kebebasan beragama adalah untuk membatasi Islam kepada tingkah laku personal dan kultural. Menerima istilah ‘toleransi’ sama seperti memperkuat dominasi teknis negara atas Islam, yang menunjukkan pengakuan langsung bahwa hukum negara dapat mengesampingkan Hukum Islam. Ketika kita diminta untuk menjadi toleran kita diminta untuk menyerahkan agama kita dan menyerahkan agama mereka: humanisme.

Hak asasi manusia adalah fondasi abad ke-20 bagi negara dunia dan agama dunia. Marc Fumaroli dari the Académie Française memandang bahwa hak asasi manusia telah menjadi “agama hak asasi manusia” di atas keruntuhan nihilis dari Eropa tradisional:

“Perancis dan bahasa universalnya dari tahun 1784, dalam semangat dari salah satu mata pelajaran yang paling setia kepada raja, bagaimanapun memisahkan diri dari akar kerajaan. Mereka secara abstrak siap menerima energi baru dari agama hak asasi manusia.”

Esoterisisme dan filosofi hak asasi manusia Sekali dikatakan bahwa melawan hak asasi manusia tidak berarti menjadi tidak manusiawi, kita sudah melihat kepada filosofi hak asasi manusia lagi dan itu sebenarnya dapat dibayangkan bahwa filsafat seperti ini, yang mencoba untuk berada di atas Wahyu Allah dan penerapan Hukum-Nya, tentu, dalam kenyataannya, tidak manusiawi. Ide dari hak asasi manusia Islam, seperti rekayasa modernis lainnya seperti bank Syariah, adalah sebentuk usaha, untuk menyesatkan Muslim kepada Penyimpangan Esoterik. Dan lagi, untuk menyangkal keberadaan hak asasi manusia Islam tidak berarti bahwa Islam tidak menghadirkan yang terbaik bagi umat manusia, sebaliknya, kebenaran adalah bahwa hanya Hukum Allah yang dapat menjaga martabat dari laki-laki dan perempuan yang beriman. Hak asasi manusia digunakan secara legal di atas semua negara bangsa seolah-olah itu adalah konstitusi dunia, menunggu tegaknya negara dunia untuk diterapkan. Sudah diketahui bahwa ide-ide Liberté, egalité, fraternité hendak dioperasikan di Republique Universel, yaitu negara dunia. Sekarang hak asasi manusia sebagai instrumen negara dunia adalah cukup untuk membuat kita berfikir ulang mengenai keseluruhan filosofi mereka sekali lagi.

Tetapi tidak semua orang sekarang setuju dengan hak asasi manusia. Del Valle menulis:

“Percampuran dari terorisme intelektual leninis-stalinis ini dan dari moralisme puritan-protestan yang diadaptasi ulang kepada agama humanitaris baru telah bangkit, pada akhirnya, apa yang Akademisi lain Alain Peyrefitte, namai “fundamentalisme Hak Asasi Manusia”, benar-benar senjata subversi dirancang untuk mendiskreditkan semua sentimen patriotik dan seterusnya, untuk menghancurkan legitimasi negara bangsa. Fundamentalisme universalis ini, ...bermakna di atas semua, mengakhiri kebebasan berekspresi dan juga, mengarahkan kesadaran dalam diri mereka untuk mendirikan sebuah semangat kediktatoran, dengan cara cuci otak mediatik.”

Pemaksaan hak asasi manusia telah dikecam sebagai kediktatoran ideologi dan moral, dengan karakteristik menghilangkan dikotomi teman / musuh klasik ke dalam bingkai yang lebih legalistik polisi / kriminal memberikan kapasitas implisit untuk menjelekkan ide yang cenderung untuk mendiskualifikasi visi dunia mereka. Dengan demikian, sebuah prinsip dari ‘kebenaran politik’ telah diperkenalkan untuk melambangkan kesatuan pikiran dari filosofi humanis ini. Toleransi mereka berhenti ketika orang lain tidak menerima fundamentalisme mereka. Mereka sendiri dapat mendefinisikan siapa yang tidak toleran. Riba bank adalah tidak dapat ditoleransi atau disebut manusiawi. Namun, mereka adalah kriminal bagi Allah dan bagi Muslim. Tidak membayar pajak, tidak membayar bunga atas hipotek, atau tidak menerima tatanan negara dunia didefinisikan sebagai tidak manusiawi dan dapat membawa siapapun kepada penjara atau kematian — jika dia menolak penjara. Moral mematikan Marat dan Robespierre, ‘tidak ada kebebasan bagi musuh kebebasan’ yang dihadirkan sekarang di bawah formula ‘tidak ada toleransi bagi musuh toleransi’ atau yang lebih lazim ‘tak ada demokrasi bagi musuh demokrasi’ — berfikir akan Algeria — akan mendukung pendirian negara dunia dan cabang Bank Dunia akan ada di sana.

Apa hukuman yang diperuntukkan bagi mereka yang masih berpikir agama mereka adalah benar dan mereka ingin mempraktekkannya? Mereka diberitahu bahwa ‘secara politik tidak benar’ pandangan mereka harus dirubah untuk keuntungan mayoritas yang memiliki pandangan lain. Validasi argumen ini menjadi universal, saya tidak memiliki pilihan kecuali meninggalkan agama saya. Argumen ini tidak membolehkan seseorang untuk berargumen bahwa perbankan adalah praktek agama. Ekonomi, berada di luar benua kata agama yang mereka ciptakan, adalah di luar kritisisme. Ekonomi tidak dapat ditetapkan oleh ukuran yang sama. Ekonomi adalah di atas agama dan karenanya di atas isu toleransi. Ekonomi bertempat pada domain yang secara ilmu pengetahuan (science) benar yang pada domain lain menjadi dogma. Memungut riba adalah dogma, dan mengambil penegakan universal negara dunia sebagai dogma, pandangan mereka berbeda dari setiap agama lain yang fundamentalismenya harus dijinakkan oleh toleransi. Tetapi hal ini tidak dapat terjadi karena ‘persaudaraan umat manusia’ dan hak asasi manusia tidaklah netral, keduanya adalah agama tersamar dan toleransi adalah senjata untuk mengutuk orang yang tidak setuju kepada keduanya.