PLURALISME

Pluralisme menganggap bahwa sistim konstitusional monistik dengan kritisisme dan oposisi adalah penjamin terbaik dari kebebasan dari etnik plural dan keragaman budaya dari negara modern. Satu-satunya alternatif selalu dilihat sebagai chaos. Dalam proses ini individu harus terutama mendapatkan identitas mereka dari negara yang menuntut abstraksi dari manusia dikosongkan dari setiap identitas bertentangan lainnya yang menciptakan pengelompokan kohesif berbagi nilai-nilai dan keyakinan umum, yaitu dengan rasa identitas yang berbeda, seperti yang ada di masa lalu. Karenanya hal itu mengimplikasikan bahwa negara adalah peminta utama dari kesetiaan, di atas agama, dan memberikan identitas, juga di atas agama. Pluralisme dapat juga disebut homogenisasi negara, karena negara membatalkan identitas lain untuk meneguhkan identitasnya sendiri. Di bawah rejim pluralis identitas agama direndahkan menjadi sekedar persoalan komunitas dan personal tidak melibatkan isu politik dan ekonomi secara menyeluruh.

Unsur fundamental lain dari filosofi ini adalah teori kepribadian fiktif dari korporasi. Fenomena ini diasosiasikan dengan prinsip-prinsip kepemilikan mayoritas (sesuai dengan formula politik kedaulatan mayoritas) diperbolehkan untuk pembenaran yang tangguh dari aturan dan kontrol oleh minoritas bagian yang besar dalam ekonomi. Minoritas ini adalah anonimus dan tersembunyi dari publik.

Ketika berada dalam nama pluralisme identitas ekonomi dan sosial dari individu dibuang dia direndahkan kepada mahluk homogen . Dia hanya diperbolehkan untuk menjadi aneh dalam perilaku seksual atau agamanya (agama yang didefinisikan oleh mereka), tapi tidak di bantalan ekonominya. Anda diperbolehkan melakukan keanehan apapun selama Anda membayar pajak dan hipotek Anda. Pluralisme adalah homogenitas. Prinsip ini bermakna ketidakmungkinan mendirikan dan menegaskan otonomi dan perbedaan politik. Pluralisme juga berarti kurangnya diskriminasi dan itu mengakibatkan ketidakmampuan untuk mengidentifikasi keputusan ekonomi minoritas yang benar di tengah-tengah non-diferensiasi.

Ini mengikuti bahwa gagasan pluralisme Islam termasuk dalam kategori yang sama dengan bank syariah atau hak asasi manusia Islam: kesemuanya adalah kontradiksi dalam istilah. Identitas Muslim kita dan aliansinya adalah milik Allah, dan Rasul-Nya. Agama kita adalah di atas identitas lain apapun.

Orientalis dan kemudian modernis telah mencoba untuk berdamai dengan kemustahilan ini untuk membawa umat Islam di bawah payung humanis ini.

Orientalis melihat dalam resistansi kita sejenis arogansi, sementara modernis melihat jejak skolarsip abad pertengahan. Kita ingat tulisan-tulisan Charles Malik yang menyatakan bahwa tidak seorang sarjana Muslim tunggal dalam sejarah telah menulis sebuah esai 'otentik' tentang kristen sedangkan sarjana kristen telah menulis karya otoritatif tentang Islam dan agama-agama lain. Dia berpendapat bahwa sementara orang kristen dapat beridentifikasi dengan budaya Islam, umat Islam tidak mau membalas karena mereka berpegang bahwa 'agama mereka superior'. Dan karena superioritas ini, mengikuti, kita Muslim tidak dapat masuk kepada bingkai konstitusional modern yang ‘beradab’. Apa yang ditunjukkan oleh pandangan ini adalah bahwa agama kristen telah menyerah kepada pandangan dunia pagan dan cara hidup yang dominan hari ini. Hal itu menunjukkan derajat esoterisasi di mana agama mereka tunduk. Dan itu menunjukkan bahwa meskipun semua kesulitan yang dihadapi oleh umat Islam dan upaya untuk meng-esoteriskan Islam, posisi predominan di antara kita tetap, tidak seperti kristen, keteguhan dalam keyakinan bahwa Islam adalah agama terakhir yang sejati.

Kita melihat pluralisme sebagai abstraksi dari manusia yang muncul dengan negara-bangsa yang sekuler yang memudarkan pengelompokan kohesif yang ada sebelumnya dan berbagi nilai-nilai dan keyakinan, dan rasa identitas yang sama dan masyarakatnya yang dipupuk terus-menerus, misalnya, dalam Islam. Pluralisme menyamakan disintegrasi masyarakat dan keterasingan individu dalam masyarakat yang tidak lagi dianggap sebagai memiliki tujuan ilahi tetapi hanyalah proses mekanistik.

Genealogi dari moral baru

Beberapa orang mendukung ide bahwa universalisme religius trans-denominational, atau hanya universalisme — melampirkan nilai yang sama kepada semua agama — adalah reaksi dari protestanisme kepada filosofi sesat bahwa Gereja Katolik mempraktekkan pada masa lalu terhadap semua denominasi non-katolik lainnya. The War of Independence dan akibat lahirnya Amerika Serikat, seperti halnya Revolusi Perancis dan akibat dari lahirnya Republik Perancis, adalah peristiwa-peristiwa krusial dalam konsolidasi ide ini dalam tatanan hukum baru. Lahirnya Amerika Serikat adalah bagian dari ulah freemasons yang dididik dalam prinsip esoteris. George Washington, Benjamin Franklin dan Alexander Hamilton semuanya adalah yang memprakarsai. Kenyataannya, mereka mempertahankan tradisi esoterik 'murni' bertentangan dengan unsur-unsur freemasonry Eropa yang mereka lihat adalah bertanggung jawab untuk penyesatan itu.

Proses dari ‘harmonisasi religius’ dan ‘kebebasan agama’ disajikan di bawah umbul-umbul hak asasi manusia perlu dianggap penting, tanpa keraguan, tetapi hanya sampai batas tertentu. Apa yang lebih penting adalah metamorfosis bahwa institusi pemerintah yang dihasut oleh sarana revolusi, dimana simbiosis sadar pemerintah dan perbankan terjadi, melahirkan negara modern. Sebuah institusi jauh lebih penting ketimbang institusi agama apapun yang ada sebelumnya, yang memberi supremasi kepada perbankan sebagai pertukaran bagi kekuatan teknis yang hampir tidak terbatas dari negara untuk menarik segala kekayaan dari rakyatnya. Kekuatan teknis yang tidak terbatas ini dimungkinkan oleh selembar kertas dari penyihir, sistim uang kertas, yang merupakan fondasi perbankan dalam melakukan revolusi yang paling menonjol dalam cara hidup manusia seluruh dunia. Hak asasi manusia sanggup untuk eksis bersama riba sementara hukum agama yang telah ada sebelumnya, dan yang karena itu dihapus, telah mencegah ko-eksistensi semacam itu. Oleh karena itu pengenalan kuat dari sistem perbankan, suatu sistim riba berdasarkan standar Islam, kepada cara hidup manusia dan ‘proses dari harmonisasi agama’ memiliki sukacita kenyamanan bersama. Riba, dalam bentuk perbankan, diam-diam menetap sebagai agama universal baru dari umat manusia yang bersatu.

Ekpresi ‘kebebasan agama’ disajikan sebagai moral baru tidak seperti tampaknya. Itu adalah ekspresi yang datang sebagai hasil langsung dari statist philosophy . Dalam konteks dari statist atau hukum konstitusional, kebebasan bermakna ‘non interferensi (campur tangan)’. Dan interferensi dan non-interferensi dari negara dipahami dari prinsip bahwa ‘ketika perbuatan saya hanya mempengaruhi diri saya negara tidak memiliki hak untuk campur tangan dengan perbuatan saya’. ‘Saya tidak menyakiti orang lain’ adalah suatu pembenaran lengkap. Dengan demikian ‘kebebasan agama’ harus diinterpretasikan sebagai non interferensi dengan aspek-aspek tersebut dari agama Anda yang hanya mempengaruhi diri Anda. Segala sesuatu yang lain bukan urusan agama. Anda dibolehkan untuk memiliki pendapat (hanya mempengaruhi diri Anda sendiri) tetapi yang terpenting adalah pendapat negara. Mengikuti cara berfikir seperti ini, agama direndahkan kepada urusan pribadi. Ungkapan moral yang sama dari ‘kebebasan agama’, seperti halnya toleransi dan pluralisme, memiliki interpretasi statist yang sama dan karena itu perlu dilihat dalam hal pengesahan yang terlebih dahulu dari negara yang aslinya adalah perbankan.

Adalah benar bahwa protestantisme segera mengadopsi jalan dari reformasi pragmatis yang berkelanjutan, dan dengan demikian hal itu ditinggalkan, karena sesungguhnya gerakan tersebut memprotes larangan asli kristen atas riba. Paralel kepada relaksasi dari moral ekonomi dan toleransi terbuka kepada riba, protestantisme sungguh-sungguh terlibat dalam aksentuasi yang tidak proporsional dari satu set kecil moral puritan pribadi yang orientasinya wajar kaku dan didominasi seksual. Moral puritan yang muncul dari kejang agama ini mengubah fokus dari apa yang benar dan salah. Calvinis yang memeluk riba dan protestan pada umumnya memiliki sikap yang lebih santai untuk perbankan dari Eropa selatan yang katolik. Ini menciptakan kesenjangan ekonomi yang terlihat di Eropa, yang dapat dijelaskan dalam istilah lokasi geografis dan perkembangan dari ekonomi finansial yang berhasil luar biasa. Riba dengan cepat ditutup dengan sebuah legitimasi moral berpeluang untuk kekayaan yang memiliki sedikit respek untuk hukuman serius kristen atas para pelaku riba beserta praktek-praktek mereka selama berabad-abad. Ekspresi seperti ‘laissez-faire’ dengan cepat muncul dimana sebelumnya istilah kejahatan diterapkan, seperti halnya istilah matematika netral seperti ‘bunga’ menggantikan istilah cermat ‘riba’ dan ‘inflasi’ menggantikan ‘pencurian’ dan ‘penipuan’. Beberapa berpendapat bahwa moral baru didasarkan pada argumen teologis sebanyak argumen itu ditujukan terhadap Gereja Katolik. Tapi moral baru adalah kemenangan pragmatisme ekonomi atas integritas agama. Analisis ini didukung oleh transformasi tingkah laku sosial yang mengikuti. Misalnya, sulit untuk menerima bahwa reformasi anglican disebabkan oleh argumen teologis melawan Roma, ketika itu berasal dari seseorang seperti Henry VIII, yang memiliki sedikit minat dalam agama jika diukur oleh standar orang kebanyakan. Kebingungan antara sebab dan akibat dalam kasus ini bukanlah kebetulan. Hal itu muncul dari kegagalan mengenali penampakan kuat poros penggerak moral baru dari sifat pragmatis‘non-ilahi’ yang menggantikan agama.

Persetujuan penuh tanpa proses dari pergeseran historis ini dari standar moral masih menunjukkan manifestasi hari ini. Muslim Melayu secara resmi ditunjuk untuk menjadi intelektual dari negara yang menghadapi dilema yang tidak nyaman keharusan mengakomodasi Deen Islam bersama dengan protokol PBB yang merupakan suatu lembaga di mana negara tersebut harus terdaftar untuk menjadi sebuah negara, dan yang berhubungan kepada hak sejumlah besar minoritas non-Muslim di Malaysia — masalah yang dirancang dan diciptakan oleh Inggris. Dokumen baru-baru ini yang ditulis di Malaysia tentang masalah kemurtadan, subjek yang dalam istilah Islam tidak menawarkan dilema, meniadakan Hukum Islam demi apa yang dipandang oleh penulis dokumen sebagai argumen yang lebih tinggi: “Hal terakhir yang Melayu butuhkan adalah kurangnya kepercayaan investor.” Kepercayaan investor adalah argumen teologis berat. Argumen itu adalah deklarasi nihilistik yang unggul sekali atas nilai-nilai.

Contoh lain dari sikap nihilis yang dibawa ke titik absurditas adalah tren terbaru dari apa yang disebut ekonomi Islam. Tak perlu dikatakan bahwa ekonomi Islam tidak ada hubungannya dengan Islam; rujukan mereka kepada Deen, telah kena kepada beberapa lapisan representasi simbolik hanya memiliki karakter estetik. Berikut adalah contoh lucu oleh ekonom Islam terkemuka Masudul Alam Choudhury:

“Daripada konfigurasi Euclidean-nya dari aksioma dalam kaitannya dengan ruang ekonomi, setiap dari aksioma ini dampak terhadap variabel ekonomi secara independen dan aditif untuk memberikan makna etis. Etika kemudian tampak menjadi output dari hubungan independen vektorial ini antara setiap aksioma dan variable ekonomi yang diambil sendiri-sendiri atau dalam vektor dan matriks.” Kita telah paham bahwa mendeklarasikan bahwa semua agama identik dalam nilai adalah sama seperti penghapusan agama. Moral pragmatik baru yang dihasilkan dari kejadian itu dibentuk sesuai cetakan ekonomi. Sama-sama dapat dikatakan bahwa pragmatisme ekonomi adalah inti dari moral baru yang dihasilkan dari memberikan kepada semua agama nilai yang sama. Moral agama harus menjadi moral kedua karena kalau tidak perbankan akan diharamkan. Ini adalah moral orang-orang yang telah menyerah karena paganisme. Moral pragmatis ini adalah agnostik, meskipun kata ini mungkin menyinggung perasaan banyak orang yang mempertahankannya. Apakah Thomas Paine, yang menulis Rights of Man, seorang deis yang bersemangat, atau seorang agnostik yang bersemangat — atau keduanya adalah hal yang sama?

Moral keagamaan telah dibuat kuno oleh hukum. Sejak Deklarasi Hak Asasi Manusia menjadi mengikat secara hukum dan semua denominasi agama dibuat secara hukum sama, bicara agama belumlah sama. Ini bukan sekedar proposisi intelektual, melainkan proposisi hukum. Masalah-masalah ekonomi telah dikeluarkan secara hati-hati terus-menerus dari wacana agama, sehingga orang yang menginginkan keadilan bagi dunia tidak menemukan sarana di antara apa yang tertinggal dari moral-moral agama. Dia perlu melihat ke tempat lain. Misal, ‘apa itu uang di saku kita?’ menurut cara pikir dominan bukanlah pertanyaan agama. Tetapi itu adalah pertanyaan Islam. Untuk mendeklarasikan kejahatan perbankan dan pencurian dari uang kertas adalah sebuah perintah Islam. Untuk membakar kertas ini adalah pemahaman baru tentang pemberontakan terhadap sistem perbankan, karena dalam Hukum Islam uang kertas adalah tidak berharga. Artinya adalah bahwa Islam lolos dari batas-batas dari apa yang dipahami oleh agama sejak kedatangan hak asasi manusia. Ini juga berarti bahwa Islam menumbangkan tatanan ekonomi dan politik yang ada sekarang dengan kehadirannya saja. Negara kapitalis (pernikahan institusional dari kapitalisme dan statisme) lahir di Eropa menuntut kohesi sosial yang tidak dapat diganggu oleh perbedaan agama. Untuk menjamin kedamaian di antara agama-agama, moral sinkretik menempatkan lebih rendah semua moral lainnya, baik itu moral agama atau bukan, yang sifatnya eksklusifisme, intoleran, sektarianisme, atau hanya diatur oleh iman mutlak. Sebaliknya segala sesuatu yang mempersatukan kepercayaan-kepercayaan yang berbeda dan bentuk-bentuk keyakinan ‘nilai-nilai positif’ dari seperangkat moral pragmatik ini. Basis dari moral sinkretik ini adalah esoterisisme.

Menolak hukum murtad adalah unsur lazim dari esoterisisme. Sangat menarik untuk dicatat bahwa, sampai sekarang, Hukum Murtad dalam Islam tetap menjadi unsur hukum Islam yang paling tidak dapat diterima bagi orang-orang kafir. Maka, agar Islam dapat ditoleransi oleh kekufuran, ia harus menyangkal dirinya. Hal ini cukup wajar karena ini adalah apa yang kuffar sukai. Hal itu mendemonstrasikan bahwa toleransi didasarkan pada asimilasi agama ke dalam hierarki superior dari nilai-nilai. Ditoleransi sebagai seorang Muslim tidak sama dengan diizinkan untuk mempraktekkan Islam. Ditoleransi bermakna bahwa sistim nilai lain yang ditempatkan adalah di atas Islam, di atas apa yang Allah telah perintahkan. Ini adalah apa yang kuffar sebut kebebasan agama. Kebebasan agama, kebebasan berbicara, kebebasan asosiasi, dan lain-lain yang merupakan bagian dari definisi baru kebebasan yang didirikan di atas konstitusi. Kebebasan tersebut di atas selembar kertas dan didefinisikan oleh selembar kertas. Tetapi sebagaimana Burke meletakkannya, “kebebasan rasional tidak memiliki eksistensi”:

“Properti dari Perancis tidak mengaturnya. Tentu saja properti dimusnahkan, dan kebebasan rasional tidak memiliki eksistensi. Semua yang telah Anda dapat saat ini adalah perputaran kertas, dan konstitusi makelar saham.”

Penggambaran apa itu kebebasan oleh Thomas Paine menawarkan indikasi yang jelas sifat politik dari moral baru: “Tapi dengan cara apapun bagian yang terpisah dari konstitusi dapat diatur, ada satu prinsip umum yang membedakan kebebasan dari perbudakan, yaitu, bahwa semua turunan pemerintah atas seorang rakyat bagi mereka adalah spesies perbudakan, dan pemerintahan perwakilan adalah kebebasan.”

Peran baru agama

Apa yang menarik tentang kebebasan hari ini dari agama adalah bahwa Anda dapat mengikuti agama ini atau agama itu, menjadi Muslim atau atheis, tetapi apa yang dijamin adalah bahwa cara hidup Anda akan tetap dasarnya sama. Ini adalah konsekuensi langsung dari doktrin politis esoterik sebagai ditegakkan hari ini. Jika kita berpikir tentang agama dalam arti klasik sebagai cara hidup, maka kita menemukan secara ironis bahwa tidak ada banyak pilihan saat ini. Cara yang umum hidup kita telah berubah menjadi ortodoksi baru, agama dalam arti praktis, yang berada di atas interogasi atau pemeriksaan kritis. Oleh karena itu tidak mengherankan bahwa orang-orang saat ini merasa bahwa diskusi tentang agama hanya omong kosong, dengan sedikit konsekuensi. Ini karena, yang disebut kebebasan beragama itu, memiliki sangat sedikit hal untuk dilakukan berkenaan dengan cara hidup. Cara hidup tetap menjadi tak tertandingi, dan tidak dipertanyakan. Satu-satunya cara untuk merubah hal ini adalah menghadapi cara kita hidup, dan merubahnya. Dengan keprihatinan ini dalam pikiran, Islam tiba-tiba muncul dengan kekuatan yang luar biasa.

Hal yang sangat pengikut esoteris inginkan untuk capai dengan wacana universalis mereka adalah menghancurkan proses memperolehnya. Agama direndahkan kepada seperangkat pernyataan-keyakinan, membuatnya untuk membandingkan dan membedakan satu agama dari yang lainnya, sementara memiliki dampak yang kecil pada pembedaan urusan mendasar hidup. Hal ini menjelaskan lagi mengapa, meskipun Muslim, kristen dan budha dapat beridentifikasi dengan keyakinan yang sepenuhnya berlawanan, secara fundamental mereka hidup di cara hidup yang sama. Agama dari abad keduapuluh adalah sistem abstrak dari doktrin yang tidak memiliki bantalan yang signifikan atau hubungan untuk mewujudkan bentuk praktek.

Tahap akhir dari proses ini datang dengan upaya legislator 'untuk memvalidasi doktrin universalis: Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia. Keadaan baru ini tidaklah seperti apa yang diklaimnya. Agama-agama dihapuskan oleh legislator yang mencoba untuk membuat semua agama itu sama nilai. Terikat secara hukum untuk undang-undang tersebut, agama lama tidak lagi ada dan membuat jalan bagi agama yang baru muncul. Islam khususnya tidak bisa eksis di bawah validasi hukum Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (UDHR ). Mereka tidak kompatibel.

Mari kita mulai dari pernyataan eksistensial: ‘praktek bukan merupakan pernyataan’, atau ‘sebuah tindakan bukanlah hal atau benda, hanya dapat eksis dalam pelaksanaannya’. Hal ini menempatkan kita ke pijakan yang berbeda, dari mana kita dapat melihat melampaui tabir label dan mengenali sifat agama baru kita bersama. Cara memandang seperti ini adalah lebih informatif mengenai bagaimana orang hidup ketimbang menguji apa keyakinan dan kepercayaan mereka. Di mana keyakinan agama berada jika Anda dipaksa membayar pajak kepada pemerintah Indonesia? Dari perspektif eksistensial mentah, agama belum musnah (takkan musnah), agama baru sekedar diganti oleh agama lain. Bingkai hukum yang disediakan oleh Deklarasi Hak Asasi Manusia belum menghapuskan agama, yang dilakukannya, baru sebatas, menggantikan agama.

Islam tidak cocok masuk ke dalam bingkai sempit agama sebagaimana dipahami oleh Deklarasi tersebut. Islam adalah di atas deklarasi ini. Itulah sebabnya mengapa kata Arab ‘Deen’ yang merujuk kepada Islam hampir tidak dapat diterjemahkan sebagai ‘agama’ sebagaimana dipahami hari ini. Deen bermakna transaksi, antara manusia dan Allah. Islam terdiri dari praktek yang tidak dapat dirubah, dengan demikian memaksakan otoritas atas segala praktek lainnya — sebagaimana praktek perbankan adalah sebuah ortodoksi yang tidak dapat dipertanyakan dalam cara hidup modern.

Akan menjadi kesalahan luar biasa gagal memahami bahwa Islam adalah tentang cara hidup yang berbeda. Dan Islam adalah satu-satunya cara yang dapat diterima di sisi Allah. Kesalahan terbesar kita sebagai Muslim adalah mencoba mengakomodasi Islam ke ruang yang tersisa untuk agama, artinya untuk mentransformasikan Islam kepada suatu agama yang dapat dibandingkan kepada kristen, yudaisme atau ateisme. Ini adalah tujuan modernisasi dalam Islam. Esoterisisme memiliki tujuan yang sama, only on a metaphysical plane.