Biang Keroknya adalah Kapitalisme

Dunia memiliki biang kerok masalah yang disebut Kapitalisme. Dunia tidak bisa menyingkirkan itu. Telah dicoba sekali tetapi revolusinya dibajak oleh marxisme, namun gagal dan berasimilasi. Islam adalah satu-satunya kekuatan yang dapat dan akan menamatkan riwayat kapitalisme. Kami tidak akan gagal karena kami yakin pada Allah sementara Proudhon tidak . Freemasonri bukanlah lengan tersembunyi kapitalisme, tetapi berperan melayani kepentingan kapitalisme. Pertama adalah filosofi toleransi, dan kemudian esoterisasi agama, menggulingkan otoritas dibalik larangan riba. Freemasonri memasuki dunia Muslim, tetapi kapitalisme telah masuk terlebih dahulu dengan efek yang lebih merusak. Muslim tidak tahu bagaimana bereaksi menghadapinya. Perbankan memiliki kekuatan besar dan tidak ada di masa itu yang mampu menanganinya. Hasilnya adalah akhir Kekhalifahan. Selama seratus tahun kita hidup tanpa Kekhalifahan. Selama masa itu reformasi telah diperkenalkan ke dalam Islam pada dua front yang dimaksudkan untuk melumpuhkan Islam, satu-satunya kekuatan yang bisa mencegah kapitalisme dari mencapai tujuan akhir, negara dunia.

- Satu front adalah modernisme eksoteris dan yang
- Kedua adalah esoteris tradisionalisme atau perenialisme.

Keduanya dipengaruhi oleh freemasonry dan dihasut oleh Freemason. Saat ini kedua front itu telah bergabung jadi satu. Penyimpangan esoterik ini sedang mempersiapkan Islam untuk memasuki fase akhir kapitalisme. Kami akan mencegah hal itu terjadi. Buku ini merupakan langkah awal untuk memberantas wabah berumur seratus tahun ini. Insya’Allah. Saya bertawakkal kepada Allah. Buku ini akan mengkaji apa yang kita sebut penyimpangan esoteris, upaya sia-sia untuk merusak Islam dengan seikat ide-ide palsu dan doktrin. Tujuan kami adalah untuk menetralisir racun supaya terbuka pikiran dan dapat menghasilkan perangkat yang bisa digunakan untuk meninggalkan kapitalisme. Kami tidak bermaksud untuk meledakkan bank, kami hanya ingin membuat bank tidak dibutuhkan. Ini adalah prasyarat untuk perang melawan kapitalisme. Allah telah mengharamkan riba dan karenanya menyatakan perang kepada para kapitalis. Dunia harus dan akan segera tahu mulai dari sekarang bahwa Islam adalah musuh mematikan bagi kapitalisme. Untuk waktu yang lama di Barat, ekonomi telah didewa-dewakan. Broker dan bankir adalah ulama tingginya. Ekonomi telah merambah semua aspek kemasyarakatan melebihi politik, merubah negara nasional menjadi sekedar industri jasa; privatisasi ilmu dan informasi , dengan konsekuensi mengkhawatirkan karena mengetahui bahwa segala sesuatu dari pembelajaran dunia untuk obat-obatan yang kita semua berbagi adalah milik perusahaan dan dipatenkan; dan agama telah secara universal didefinisi ulang untuk menerima kapitalisme dan riba. Hanya Islam yang dapat datang untuk menyelamatkan.

Agama lain? Apa itu agama lain? Toleransi telah menamatkan mereka sejak lama. Agama lain itu telah disaring, dikurangi, dihomogenisasi sekalipun tidak diakui oleh pemeluknya. Yang tertinggal hanyalah tuhan pribadi dan perasaan pribadi. Kami lebih suka memiliki kerajaan Kristen dan Kekhalifahan Muslim, daripada Kekaisaran Soros Dunia. Kejahatan itu adalah sinkretisme. Muslim hanya dapat berkembang ketika membedakan diri dari kufur. Yahudi dan Kristen telah berkembang di bawah Islam atau melawannya. Dan Atheis? Mereka adalah orang kristen murtad di jalan menuju Islam. ‘Tuhan’ yang tidak mereka percayai, kita pun juga sama tidak percayai. Tetapi mereka baru berkata setengah: ‘la ilaha’, yang di dalamnya absurd, kecuali jika anda menambahkan ‘illa Allah’.

Kami ingin mengatakan bahwa: sepak terjang kapitalisme yang lancar dalam lima abad terakhir membutuhkan penghapusan hukum yang menentang riba. Itu berarti penghapusan kekuatan normatif agama. Ini seperti halnya mengatakan kepada Muslim: ‘Hukum Allah tidak sah atau tidak universal’. Implikasi moral bagi penetrasi kapitalisme adalah: ‘riba, walaupun diharamkan oleh Allah, harus diterima’. Maksudnya adalah mengatakan bahwa Muslim harus menerima kapitalisme. Ada tiga jawaban yang mungkin bagi hal ini: menerima kapitalisme, menolak kapitalisme, tidak menerima sekaligus tidak menolak. Yang pertama hanyalah sekedar penerimaan pasif hidup di bawah motto ‘agama tidak ada hubungannya dengan ekonomi’; tapi yang terakhir adalah yang paling berbahaya karena menyamarkan Islam sebagai reformasi. Mereka menemukan ‘Ekonomi Syariah’. Reformasi ini dimulai oleh Al-Afghani, ‘Abduh dan Reda. Ini menyebabkan fundamentalisme Islam dan modernisme Islam. Lambang mereka adalah ‘bank Islam/Syariah’, ‘konstitusi Islam’ dan ‘negara Islam’. Islam pasca fundamentalis bermakna penolakan kapitalisme berikut segala institusi- institusinya. Esoterisasi Islam memiliki rencana yang bersifat metafisika: monoteisme menggantikan Tauhid; dan rencana sosial: Prinsip Islam menggantikan Hukum Islam. esoterisisme terjadi melewati beberapa tahap:

Tahap pertama esoterisisme terdiri dari penghapusan masa lalu: penghilangan madzhab fiqih dan Tasawwuf. Secara politik juga mewakili perlawanan terhadap Kekhalifahan Ustmani, khususnya Sultan Abdulhamid II Yang Agung.

Tahap kedua esoterisisme adalah fase utilitarian di mana Hukum Islam menjadi subjek untuk dievaluasi secara menyeluruh dalam istilah sosial, politik atau pragmatisme ekonomi. Tasawwuf sejati dibuang dan tasawwuf modern muncul sebagai bentuk esoteris Islam. Madzhab digantikan dengan prinsip-prinsip Islam. Prinsip Islam memungkinkan asimilasi Islam kepada masyarakat kafir: bank Islam, negara Islam, bursa saham Islam, konstitusi Islam, dan lain-lain. Sambil menegaskan bahwa Allah adalah yang paling berkuasa, mereka mengakui bahwa kafir Barat (yang mereka pandang sebagai iblis) kenyataannya lebih praktis, dan mereka bersemangat meniru kekufuran yang mereka bilang sangat mereka benci (misal, Republik Islam Iran).

Tahap akhir adalah asimilasi. Perenialisme adalah metafisika baru mereka. Persaudaraan umat manusia dan universalitas agama diterima secara luas sebagai doktrin Islam. Tasawwuf diesoterisasi dan diterima sedangkan Syariah secara esoterik diperlembut dan dibuat siap untuk menjadi hak asasi manusia ala Islam. Hal itu mengikuti penerimaan tersirat Deklarasi Hak Asasi Manusia, dan Negara Dunia sebagai mesiah kafir baru. Secara progresif, segala sesuatu yang membedakan agama-agama didefinisikan sebagai domain eksoterik (kecelakaan eksternal dan periferal) sementara domain esoterik (internal, esensial dan central) menjadi hal yang membawa mereka bersama.

Kapitalisme menghendaki keseragaman dan kebebasan bagi riba. Esoterisasi menyediakan keduanya. Merangkul semua agama adalah teknik menipu mereka. Riba secara esoterik ditafsirkan ulang. Pertama dibatasi artinya hanya sebatas ‘bunga’ kemudian menjadi ungkapan moral ‘iblis perdagangan’. Riba tidak lagi menjadi praktek eksistensial, tetapi sebagai prinsip moral. Dari persoalan Riba kepada etika dan moralitas, di mana prinsip-prinsip dan hak-hak mendominasi kenyataan.

Manfaat perbuatan ibadah murni telah direndahkan dan diperlemah berdasarkan pemahaman praktis atas manfaat. Kelakuan ini menyerupai kelakuan agnostik . Dalam konteks ini penting untuk dicatat bahwa umat semua agama saat ini mengikuti kurang lebih cara hidup yang sama. Kita semua memiliki bank, uang kertas, dipajaki dengan aneka rupa pajak tak bertepi, dengan kartu tanda penduduk dan sistem pendaftaran. Muslim, kristen dan orang-orang agnostik secara esensial harus hidup dengan cara yang sama. Perbedaannya diredusir sebatas moral pribadi dan perilaku seksual, yang menciptakan dialektika puritan/liberal, dan hari apa mereka pergi ke kuil. Moralitas direndahkan menjadi ‘saya melakukan apa yang saya bisa’. Kami mengusulkan perubahan dalam mentalitas yang dihasilkan oleh tuntutan utilitarian ‘apa yang dapat kita lakukan?’ Kita dapat bertindak jika kita hanya mematuhi Allah.

Perbuatan manusia tidak dapat dinilai hanya dari manfaatnya. Hal itu bermakna kemenangan teknik atas ketaatan kepada Allah. Hal itu bermakna bahwa perintah sistem perbankan ditempatkan di atas kepatuhan kepada Allah. Ini adalah kalimat yang dikatakan oleh orang-orang yang menyimpang: “Allah adalah Yang Maha Kuasa, tetapi sistemnya para bankir lebih praktis. Kita hendaknya mengikuti sunnah para bankir.” Ini adalah ironi dualisme kaum yang menyimpang itu. Mereka menyebut bank sebagai ‘syaitan’, namun mereka bersegera mengislamkan bank (bank Syariah ). Hal itu menunjukkan ketidakberdayaan visi mereka dan menjadi jelas bahwa mereka menyerah. Bank adalah institusi yang diharamkan oleh Allah dan menerima bank berarti mencoba untuk memasukkan bank kedalam ibadah artinya beribadah kepada selain Allah. Ini yang lazimnya sekarang disebut sebagai praktis. Mereka berkata “kami praktis”, tetapi mereka hanya membohongi diri sendiri. Cara membela diri bahwa mereka praktis adalah bukti ketidakberdayaan mereka yang menghasilkan ketidakmampuan bertindak sesuai cara Islam. Salah satu ide yang paling umum dalam pemikiran esoterik adalah bahwa ‘kita tidak dapat mematuhi Allah’ karena ada kekuatan lain yang tidak mengizinkan kita untuk bertindak. Kekuatan yang dimaksudkan ini adalah para syaitan. Sehingga para syaitan — mereka berkata — tidak mengizinkan mereka untuk bertindak. Para syaitan adalah semua musuh politik mereka. Tetapi orang-orang ini tidak menyadari bahwa satu-satunya hambatan yang mereka punya adalah diri mereka sendiri. Buktinya adalah bahwa ketika akhirnya diberi kesempatan untuk bertindak mereka meniru syaitan yang mereka benci: Bank Syariah. Mereka berfikir bahwa apa yang halal tidak mungkin, dan pemahaman ini membutakan mereka. Perilaku Muslim adalah mematuhi Allah, dan kepatuhan ada di atas tujuan apapun (manfaat atau kegunaan). Di dalam kepatuhan ada tujuan. Mematuhi Allah mengesampingkan setiap tujuan berdasarkan manfaat (utilitarian). Hal ini bebas dari setiap gangguan disebabkan oleh diri sendiri. Bertindak di jalan kepatuhan tidak dibatasi oleh batasan pribadi. Bertindak di jalan kepatuhan adalah menginginkan apa yang Allah inginkan. Seseorang yang pasrah kepada Allah dapat menghilangkan sistem perbankan seketika.

Sistem perbankan tidak memiliki kekuatan di mata kaum Muslimin. Sistem perbankan memiliki kekuatan hanya di mata kaum utilitarian esoterik/eksoterik. Ini adalah kegilaan.

Kemenangan kaum Muslim adalah dengan mematuhi Allah. Patuh, dan hanya patuh, memberi mereka rasa akan nikmatnya ibadah dan Muslim dapat menghargai hadiyah itu. Tanpa kepatuhan, ibadah menjadi ritual dan budaya dan Masjid diperlakukan sebagai kuil Jum'at karena terputus dari aktifitas sosial dan ekonomi.

Pragmatisme adalah khayalan diri yang dipaksakan dan adanya pada inti etika humanis. Ini adalah produk dari metafisika Kantian , metafisika logika praktis yang tersusun hanya semata dari akal belaka, dan teori yang menentukan rute praksis . Ini adalah metafisika prinsip objektif dan subjektif. Terlepas dan lolos dari ideologi yang menjebak ini adalah salah satu tujuan Islam. Hasilnya adalah Muslim dapat patuh dan dapat berdagang dengan benar, dapat berjihad fisabilillah, dan dengan demikian dia dapat beribadah. Dan ini adalah apa yang kita inginkan. Kaum kuffar telah melarang kepatuhan kepada Allah, menghapuskan perdagangan, menghilangkan jihad fisabilillah, dan merendahkan ibadah menjadi sekedar 'manfaat' belaka. Tetapi Allah Yang Maha Menentukan apa itu ibadah yang sejati. Allah berfirman dalam Qur’an: “Engkau tidak melempar. Ketika engkau melempar, itu Allah yang melempar.” (8, 17). Allah juga berfirman: “Perangilah mereka! Allah akan menghukum mereka melalui tanganmu.” (9, 14) Satu-satunya tujuan kita dalam hidup adalah beribadah kepada Allah. Kewajiban kita adalah mematuhi-Nya dan Allah dengan jelas berfirman dalam Qur’an: Wahai Nabi! Tunjukkanlah takut kepada Allah dan jangan patuhi kafirun dan munafik. Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Rabb mu. Allah Maha Waspada atas segala sesuatu yang kau lakukan. Dan bertawakkallah kepada Allah. Cukuplah Allah sebagai pelindung. (Qur’an 33, 1-3)

Humanisme dan perangkat hukumnya, hak asasi manusia, sambil berpura-pura menolong agama , kenyataannya menghapuskan semua agama. Tetapi ini tidak berarti tidak ada agama sama sekali. Agama barunya adalah sistem perbankan. Bank memerintah berdasarkan mata uang buatan. Sistem ekonomi dunia di mana setiap orang wajib menggunakan US dollar adalah jelas sebuah tirani yang memenjarakan semua bangsa lain di dunia, dan terutama umat Muslim. Semua kelompok politik Muslim selama seratus tahun terakhir telah mendukung sistem uang kertas, tak peduli apapun yang mereka katakan, telah mendukung sistem tirani yang dengan sistem itu kuffar memerintah dunia. Pemahaman Islam mereka menyimpang karena mereka tidak dapat memahami apa yang ditolak oleh Syariah, dan alasan dari penolakan itu adalah karena mereka sudah teracuni oleh pragmatisme utilitarian yang merupakan hasil dari metafisika esoterik. Buku ini adalah cerita fundamentalisme berumur seratus tahun. Kenapa fundamentalis tidak berhasil dalam seratus tahun terakhir? Kenapa mereka kalah dalam setiap aspek politik? Karena mereka tunduk kepada agama modern, yaitu agama riba. Pendirian bank Syariah menunjukkan iman mereka yang rusak. Kelompok ini adalah kelompok yang sama dengan pseudo-Sufic yang mendukung riba karena mereka pikir bahwa riba tidak mempengaruhi ‘transendensi’ mereka.

Selembar selimut moral baru telah menggantikan kekuatan normatif agama. Hak asasi manusia, toleransi dan demokrasi adalah spanduk moral yang digunakan untuk mengatur dunia. Mereka menghadirkan wacana palsu. Di latar belakang, tak seorangpun mampu untuk mempertanyakan moral alamiah riba, saham atau uang kertas. Mereka tidak mau diragukan, tidak mau didebat, tidak mau ditolak, tidak mau disangkal. Hal ini adalah kepastian mutlak riba, bahkan oleh kritik kapitalisme (Marx menerima riba sebagaimana Friedman telah lakukan) membuktikan fondasi kudus kapitalisme.

Kapitalisme adalah cara hidup yang dominan hari ini dan Islam adalah satu-satunya jalan keluar. Islam adalah jalannya Mukminun, Islam adalah satu-satunya strategi yang bukan hanya melawan tetapi menawarkan alternatif bagi sistem kapitalis. Kapitalisme secara keseluruhan berdasarkan pada riba, dan ini adalah kejahatan, karena ditakdirkan demikian oleh Allah. Muslim diminta untuk menerima hak asasi manusia, toleransi dan demokrasi, tetapi mereka tidak diminta untuk menerima kapitalisme, namun dengan sendiri menerimanya. Semua perdebatan humanistik adalah penipuan untuk menyembunyikan sifat dasar kriminal kapitalis.

Kapitalisme bukanlah humanitarian, atau toleran atau demokratik. Tetapi karena Anda tidak dapat mengkritik moral dengan perangkat moral itu, maka perangkat itu tidak cukup baik. Perangkat-perangkat itu tidak berguna. Riba telah memperbudak dunia dengan cara merubah sifat dasar uang, membuatnya secara artifisial produktif (bunga) dan secara artifisial bernilai (uang fiat). Tiada guna berkata, kajian ini ada di atas dialektika palsu kiri dan kanan, dan kita menganggap marxist sosialisme sebagai bentuk lain kapitalisme.

Pertarungan yang akan terjadi adalah antara Muslim dengan bank. Informasi sepihak bermakna bahwa kebanyakan orang tidak mengetahui apa itu Islam dan penyelenggaraan negara Islam tidak menyediakan contoh sah untuk ditiru. Tetapi Islam adalah lebih besar daripada selimut yang menutupinya (kufr). Ketika Allah membuka gerbang Islam, orang akan paham dan mereka akan memeluk Islam dalam jumlah yang besar. Islam bukan milik orang Arab, Islam adalah agama dunia yang sejati dan kita akan memerlukan orang baru untuk mengambil tantangan ini bersamaan dengan orang-orang Arab terbaik.

Selama riba dibiarkan, tidak akan ada pemerintahan Muslim yang bangkit. Kekuatan ekonomi yang dimiliki oleh bank melampaui institusi sipil dan politik lainnya. Karenanya setiap usaha untuk menciptakan masyarakat yang layak dan adil mengharuskan penghapusan sistem perbankan dan penggantiannya dengan sistem uang dan pembayaran baru yang tidak terlibat riba. Melawan realitas kapitalis-riba saat ini, hanya ada satu realitas lain yang dapat menyingkirkannya, dan itu adalah Islam.

Untuk memahami politik kita Anda harus memahami aksioma ini: Tidak memiliki agenda ekonomi adalah untuk memiliki agenda ekonomi. Semua jalan agama dan spiritual yang tidak memiliki agenda ekonomi memiliki sebuah agenda ekonomi, untuk mengatur status quo saat ini dan karenanya untuk melestarikan kapitalisme. Semua jalan agama dan spiritual yang tercemar oleh esoterisasi tidak memiliki agenda ekonomi, karena dalam pandangan mereka hal ini tidak penting. Kami memandang bahwa sikap esoterik mereka memberikan dukungan diam-diam kepada kapitalisme, dan karenanya kami tidak terkejut menemukan bahwa kapitalisme telah mendorong pandangan esoterik. Esoterisisme adalah agama batin kapitalisme, seperti halnya kapitalisme adalah praktek cara hidup dari esoterisisme.

Tetapi, Allah memiliki agenda ekonomi untuk kita. Allah berfirman dalam Qur’an (2, 274): “Allah telah menghalalkan perdagangan dan mengharamkan riba.” Ini bermakna Allah telah mengharamkan perbankan. Karena itu pilihannya bank yang disingkirkan atau hukum Allah yang disingkirkan. Dan karena Hukum Allah tidak dapat disingkirkan, maka bank yang harus ditendang. Adalah alami jika bank berusaha mempertahankan status mereka, termasuk mencoba untuk meredam atau bahkan membatalkan Hukum Islam.

- Mereka akan mempertahankan diri dengan berkata bahwa agama Allah tidak memerlukan penerapan Hukum Islam, artinya penerapan Hukum Islam bukan esensi agama Allah;
- alternatifnya mereka akan berkata bahwa penerapan Hukum Islam tidak memerlukan Allah, artinya tidak memerlukan ketawakalan kepada Allah dan dapat dirubah atau diambil dengan alasan praktis — inilah orang-orang yang akan mengajukan bank Islam/Syariah. Posisi pertama dipertahankan oleh kelompok esoterik dan posisi kedua oleh kelompok eksoterik. Walaupun kedua kelompok ini saling berlawanan satu sama lain, kenyataannya mereka adalah sama.

Di bawah topik populer hak asasi manusia, toleransi dan persaudaraan umat manusia, doktrin esoterik telah mendominasi semua wacana agama dan politik sementara promosi gencar tata ekonomi dunia baru mengambil alih. Agama telah dipaksa masuk kepada proses homogenisasi dan introspeksi. Proses ini adalah esoterisasi. Dan tidak lebih, kecuali memahami mekanisme yang digunakan dalam proses ini. Proses ini adalah paralel dengan eksternalisasi kapitalisme, yang telah berinvasi tidak hanya kepada keseluruhan wilayah geografis dunia tetapi juga setiap aspek keberadaan manusia. Ide Filsafat Esoterik telah ditempa untuk mencoba menciptakan sesuatu di luar segala sesuatu. Nama ini telah diberikan kepada sejenis sintesis di luar ilmu pengetahuan, agama dan filsafat yang bermakna menyediakan pandangan baru untuk membentuk ulang masa depan peradaban, budaya, politik dan ekonomi, atau untuk bertahan hidup ketika dibentuk ulang. Ide filsafat esoterik ini diberi sejarah, prinsip-prinsip, hukum-hukum dan bahkan nilai moral yang mengklaim membimbing proses pembentukan potensi manusia.

Dinamika esoterisasi menyiratkan adanya pemisahan dari suatu domain dan pergerakan ke satu domain lain. Dua domain ini didefinisikan sebagai eksoterik atau eksterior dan esoterik atau interior. Dua tatanan ini diwakili secara simbolik oleh lingkaran eksterior dan pusat lingkaran. Karenanya proses bergerak secara esoterik menuju pusat, yaitu esoterisasi; atau secara eksoterik menuju lingkaran, yaitu eksoterisasi. Pusat domain esoterisisme dan konsep esoterik atau perkara, dan lingkaran eksterior adalah domain eksoterisme dan konsep atau persoalan-persoalan eksoterik. Untuk ‘menjadi esoteris’ atau untuk ‘menjadi eksoteris’ tergantung definisi yang telah diuraikan di atas. Karenanya para esoteris adalah orang-orang yang memuji perkara esoterik di atas eksoterik, dan para eksoteris adalah orang-orang yang buta kepada esoteris yang menyangkal mereka sambil memuji eksoterik. Mengingat ini adalah proses-proses dinamis, salah satu dari mereka selalu bereaksi untuk mendominasi. sehubungan dengan esoterisisme, eksoterisme adalah ‘reaksi’ nya dan sebaliknya. Apa yang menjadi isu di sini bukanlah arah proses ini, apakah itu esoterik atau eksoterik, tetapi lebih kepada proses itu sendiri.

Perkembangan kapitalisme menuntut penghapusan nilai normatif agama, dan ini adalah proses esoterik, esoterisasi. Tanpa henti dan terus-menerus, perbedaan agama dan implikasi konfliknya telah dihapus karena agama-agama ini telah didefinisi ulang dalam sebuah proses yang dapat digambarkan sebagai ‘bergerak’ menuju pusat yang tidak dibedakan. Ini adalah proses yang telah kita sebut esoterisasi. Saat proses ini dominan, pada waktu apapun masa lalu tampak eksoterik dan masa depan lebih esoterik. Reformasi kristen adalah esoterik sehubungan dengan yang ada sebelumnya, tetapi ini adalah eksoterik sehubungan dengan deisme ; deisme adalah eksoterik sehubungan dengan perenialisme . Dalam proses ini eksoterisme adalah masa lalu sekaligus reaksi bagi masa depan. Reaksi tersebut telah dieksploitasi sebagai konflik guna menutupi perkembangan kapitalisme. Hal ini telah dipengaruhi oleh persepsi sejarah kita. Kita memiliki perang agama tetapi tidak pernah memiliki perang kapitalis. Namun semua konflik ini telah menjadi alat kapitalisme yang semakin berkembang. Cara bagaimana konflik-konflik ini didefinisikan, termasuk alasan konflik dan pemilihan medan pertempurannya, didesain untuk menguntungkan kapitalisme, lebih jauh lagi, konflik-konflik itu sehakikat dengan kapitalisme. Bahkan perang dunia kedua didefinisikan dengan menyedihkan oleh ahli sejarah profesional dalam istilah personalitas, dan tidak ada usaha yang dibuat untuk menjelaskan konsekuensi perang: yaitu lahirnya kapitalisme pembiayaan modern. Untuk menghilangkan jejak kapitalisme, perang harus didefinisikan ulang. Kita akan membahas perkara ini nanti. Yang penting adalah menyadari tuntutan kapitalisme yaitu menyingkirkan semua agama lain atau esoterisasi mereka untuk mengklaim bahwa agama adalah universal, dan tidak dapat dipertanyakan. Kapitalisme adalah satu-satunya eksoterisasi yang dibolehkan. Hanya kapitalisme sendiri yang dapat memaksakan ritualnya, karena dengan bersendiri itu tidak akan ada konflik. Kedamaian kapitalis bermakna dominasi total kapitalisme dan eliminasi dengan merendahkan semua agama lain.

Ketika esoterisasi diterapkan kepada Islam implikasinya adalah terputus dengan masa lalu, sering dihadirkan sebagai reformasi 'jinak'. Inilah yang kita pahami sebagai penyimpangan. Reformasi atau penyimpangan esoterik diterapkan kepada Syariah dan Tasawwuf.

Esoterisasi Syariah berimplikasi pada penggalian prinsip-prinsip yang dipandang sebagai simbol yang dengannya dapt memformulasikan ulang hukum menurut timbangan seorang manusia atau umat manusia. Hukum umat manusia adalah formulasi esoterik Hukum Islam. Umat manusia dipandang sebagai persaudaraan tunggal, ‘persaudaraan umat manusia’. Unsur-unsur yang 'membedakan' dari Syariat Islam secara bertahap dihapus dengan formula seperti ‘Laa iqraaha fi Deen (tidak ada paksaan dalam agama)’ atau ‘persaudaraan umat manusia’. Hal ini tidak dapat diterima oleh kita, karena Hukum Islam tidak dapat direformasi, hanya masyarakat kita yang hendaknya direformasi. Formulasi esoterik mereka mengganti atau mendefinisikan ulang Jihad dan persaudaraan Islam.

Esoterisasi Tasawwuf mengimplikasikan pemisahannya dari Syariah , yaitu dengan mengatakan, pendefinisian ulangnya sebagai ‘Islam esoterik’, sementara Syariah didefinisikan ulang sebagai ‘Islam eksoterik’. Ini adalah absurd bagi Muslim, karena ide Tasawwuf tanpa Syariah adalah tidak berdasar sebagaimana halnya Syariah (Fiqih) tanpa Tasawwuf . Para penganut esoterisisme mengklaim bahwa Tasawwuf mendukung ‘persatuan transedental semua agama’ dalam basis metafisika kepercayaan kepada Tuhan. Persoalan ‘eksterior’ sehubungan dengan perbuatan dan kewajiban atas keyakinan kepada Tuhan (fiqih) dipandang sebagai urusan nomor dua. Domain absolut adalah bersifat metafisik dan domain contingent adalah bersifat ritual.

Simbolisme membolehkan para esoteris untuk bertindak atas nama Islam sementara kenyataannya mereka menyangkalnya. Hal itu membolehkan mereka berkata, “Kami percaya kepada Allah sama sepertimu,” padahal kenyataannya mereka percaya kepada tuhan lain. Tuhan mereka dapat memiliki beberapa nama. Itu adalah simbol. Menurut beberapa perspektif, anda dapat menemukan sebuah gambar yang berbeda. Penting untuk memahami bahwa para esoteris tidak menyangkal kepercayaan kepada Allah dan mereka akan berkata mereka Muslim walaupun mereka juga menegaskan bahwa semua agama dan jalan spiritual beriman pada tuhan yang sama. Beberapa freemason, misalnya, berkata bahwa yang Muslim adalah yang tinggal di negara Muslim dan mereka berkata yang kristen adalah yang tinggal di negara kristen. Ini karena mereka memandang diri sendiri sebagai berada di atas ‘penafsiran kaku’ agama. Freemason menerima semua agama dalam persaudaraannya dan mereka semua menyembah tuhan yang mereka sebut ‘Arsitek Agung Alam Semesta’. Posisi mendua ini adalah lebih menipu ketimbang penyangkalan terang-terangan atas Islam. Untuk alasan ini kita akan menguji secara terperinci sejarah dan keyakinan freemasonry.

Para esoteris juga berkata bahwa mereka mendukung Syariah tetapi pada saat yang sama mereka ingin mereformasinya , atau mengikisnya, atau tidak menginginkannya di sini atau sekarang. Mereka berkata menginginkan keselamatan bagi umat manusia, tetapi jelas bahwa keselamatan itu hanya dapat dicapai oleh mereka sendiri — kelompok yang terpilih. Semua reformasi ciptaan mereka membimbing mereka kepada filosofi hak asasi manusia, toleransi dan persaudaraan umat manusia. ‘Syariah yang telah direformasi’ yang harus memenuhi prinsip-prinsip esoterik bukanlah Syariat Islam. Itu adalah sesuatu yang baru tetapi mereka ingin menggunakan nama Syariah. Karena itu mereka merujuk kepada institusi dan peralatan kafir dan mereka menambahkan nama Syariah. “Kami menginginkan Syariat Islam, kami menginginkan pemerintahan yang diperintah oleh Syariah.” Namun yang mereka inginkan adalah versi baru yang telah direformasi, karenanya mereka bicara tentang hak asasi manusia ala Islam dan toleransi Islami. Ketika mereka tidak dapat lagi merentangkan Syariah, setelah menolak madzhab dan fiqih yang mapan, mereka menyerukan ‘semangat hukum’ dan ‘prinsip-prinsip Islami’. Ini adalah teknik esoterik yang dikenal sebagai simbolisme. Syariah diwakili oleh simbol atau prinsip-prinsip yang membolehkan tingkat lebih lanjut penafsiran introspektif. Akibatnya mereka memperkenalkan penjelasan simbolik tentang arti Jihad dan riba.

Pada akhirnya apa yang ada dibelakang prinsip-prinsip Islam itu dan hak asasi manusia Islami buatan mereka, adalah dorongan yang tidak tanggung-tanggung untuk melestarikan sistem perbankan. Tugas mereka adalah untuk ‘mengislamkan bank, dengan demikian melestarikan kapitalisme dan lebih jauh lagi memikat Muslim untuk menerima kapitalisme. Mereka menyangkal perbankan tetapi mereka mendorong perbankan Islam. Mereka menegaskan kejahatan kapitalisme tetapi mereka siap untuk ‘mengislamkan’ kapitalisme . Menurut mereka, bank bukanlah institusi kapitalis melainkan hanya sekedar jasa. Menurut mereka kapitalisme adalah salah, tetapi kapitalisme Islam dapat diterima. Kapitalisme Islam mereka adalah kapitalisme dengan nilai moral Islam, di mana bank Islam telah menggantikan bank yang tidak Islam. Menurut mereka, riba adalah simbol yang, tanpa memperhatikan aturan Syariah, sekedar bermakna bunga. Hasil dari semua ini adalah praktek riba yang kejam, bengis, dan intoleran, artinya kapitalisme, dilestarikan dengan esoterisasi agama ini. Untuk alasan ini, penting untuk mengenali siapa mereka dan apa yang mereka katakan, supaya dapat mengenali setidaknya wajah yang berbeda dari yang biasanya orang percayai. Ingat, Kufur adalah satu kesatuan sistem.

Ada unsur lain karakteristik esoterisisme: messianisme . Messianisme adalah pembebasan dari kerusakan jaman saat ini beserta tanggungjawabnya. Sang Penyelamat Messiah yang datang untuk menyelesaikan semua masalah saat ini dapat memiliki berbagai rupa mulai dari messiah kristen, sampai kepada imam Mahdi, demokrasi dan negara dunia. Dalam prakteknya, sama saja berkata: “jangan bertindak sekarang, kita menunggu.” Mahdisme, artinya menunggu kedatangan imam Mahdi sebagai tindakan penundaan atau meniadakan kewajiban dalam bentuk apapun untuk melakukan perubahan terhadap keadaan zalim yang terjadi saat ini, adalah bagian dari apa yang kita sebut penyimpangan esoterik. Penggunaan politik doktrin Syiah ‘menunggu turunnya imam Mahdi di akhir zaman’ sepanjang sejarah Muslim telah digunakan untuk membenarkan pemberontakan di bawah satu dari banyak Mahdi atau bahkan lebih buruk menunda restorasi Islam sekarang karena ‘menunggu kedatangan imam Mahdi’.