Inisiatif Penyatuan Agama-agama

Inisiatif Penyatuan Agama-agama (IPA) | The United Religions Initiative (URI)

Dari ekonomi hadirlah toleransi, dari toleransi hadirlah hak asasi manusia, dan dari hak asasi manusia hadirlah Inisiatif Penyatuan Agama-agama, IPA, yaitu agama esoterik yang dianjurkan hari ini oleh PBB. IPA didirikan pada tahun 1995 oleh uskup pemerintahan episkopal William Swing dan dimaksudkan untuk menjadi sebuah “komunitas global” yang didedikasikan untuk kerjasama antar kepercayaan. Inisiatif itu telah berubah menjadi ‘agama dunia’ dengan piagamnya sendiri, hukum dan tatanannya. “IPA, pada masanya, bercita-cita untuk memiliki visibilitas dan perlembagaan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa,” demikian klaim mereka. Dalam pembukaan piagam tertulisnya:

“Kami, orang-orang dari agama yang beragam, ajaran kepercayaan (spiritual) dan tradisi adat di seluruh dunia, dengan ini mendirikan Inisiatif Penyatuan Agama-agama untuk mempromosikan yang abadi, kerjasama harian antar kepercayaan, untuk mengakhiri kekerasan dengan motivasi agama dan menciptakan budaya damai, keadilan dan penyembuhan bagi Bumi dan semua makhluk hidup.” Sebagai bagian dari inisiatif ini PBB mengorganisir Millennium World Peace Summit di tahun 2000, yang dihadiri lebih dari 1000 pemimpin agama dan spiritual dari berbagai kelompok pecahan yang berbeda, termasuk hinduisme, sikhisme, shintoisme, judaisme, taoisme, kristen, jainisme, buddhisme, zoroastrianisme, konfusianisme, agama-agama adat dan, tentu saja, beberapa Muslim yang selalu bersedia yang menurut dugaan mewakili Islam. Pertemuan itu dibiayai besar-besaran oleh yayasan-yayasan swasta seperti Ted Turner’s Better World Fund dan the Templeton, Carnegie dan yayasan Rockefeller Brothers, secara ironis mewakili kelompok-kelompok pro-aborsi yang paling kuat, pro-lobi global pengendalian populasi di dunia. Walaupun secara teknis acara ini bukan event resmi PBB, tetapi acara itu diadakan di Majelis Umum dan sekjen PBB Kofi Annan memberikan kata sambutan di pertemuan tingkat tinggi agama itu. Pertemuan itu berlangsung beberapa hari sebelum para pemimpin politik dunia berkumpul untuk menghadiri pertemuan tingkat tinggi PBB Millennium Heads of State Summit tanggal 6 - 8 September 2000, yang dihadirkan sebagai pertemuan terbesar kepala negara dalam sejarah manusia.

Pertemuan tinggi itu secara resmi sebagai penyelidikan supaya para pemimpin agama supaya berhenti berkonflik. Tetapi pertemuan itu sebenarnya adalah untuk mencari cara agar agama dunia dan komunitas spiritual yang ada, dapat bekerja bersama sebagai sekutu antara gerakan antar-kepercayaan dengan PBB pada persoalan-persoalan tertentu seperti perdamaian, kemiskinan dan inisiatif perbaikan lingkungan.

Para pemimpin agama yang hadir termasuk Francis Cardinal Arinze, presiden dewan Vatican untuk dialog antar agama; Konrad Raiser, sekjen World Council of Churches; Rabbi Israel Meir Lau, kepala rabbi Israel; Shaykh Abdullah Salaih Al-Obaid dari Muslim World League dari Saudi Arabia; Shaykh Ahmad Kuftaro, Mufti Besar Republik Arab Syiria; pemimpin agama shinto Kuni Kuniaki dari Jepang; Skarekin II, patriark dari gereja ortodok armenia; pemimpin agama budha Samdech Preah Maha Gosananda dari Kamboja; pemimpin hindu Sri Jayendra Saraswathi Swamigal; dan pemimpin agama asli Amerika Oren Lyons. Coretta Scott King, janda Martin Luther King, dan pemimpin gerakan hak-hak sipil Jessie Jackson juga hadir.

Hal apa yang membuat para anti-Sufi dari golongan wahabi, seperti kepala Rabitah Shaykh Abdullah Salaih Al Obaid dan Sufi esoterik seperti Shaykh Ahmad Kuftaro hadir bersama? Tidak ada, kecuali forum PBB yang membahas ide kafir 'persaudaraan umat manusia'. Tetapi ini bukan satu-satunya forum yang mereka hadiri bersama.

“Bahkan gereja katolik, yang secara terbuka terkait dengan dialog antar iman merasa bahwa hal-hal ini sudah terlalu jauh dan mencemaskan di mana IPA mengarah pada satu gerakan menyeluruh antar-kepercayaan, dengan demikian mengekspresikan keperluan ‘...menghindari resiko sinkretisme dan dari irenisisme menipu yang terburu-buru.’”

Paus bahkan dipaksa untuk membuat beberapa pernyataan mengenai hal-hal berikut:

“Bermacam agama yang ada tidaklah sama. ...Paus menunjukkan ambiguitas tertentu yang telah timbul dalam lingkaran teologi, yang mempertimbangkan dialog antar agama sebagai pembenaran sinkretisme. Bapa Suci mengatakan bahwa “dalam beberapa lingkungan eklesial, sebuah sikap mental telah muncul dalam beberapa tahun kebelakang yang cenderung untuk merelatifkan wahyu Kristus dan mediasi uniknya yang universal berkenaan dengan penyelamatan.” Jika hal ini dijinkan, Gereja juga akan kehilangan alasan untuk dapat bertahan.”

Pada tahun 1998 penulis katolik Lee Penn menulis dalam artikelnya The United Religions Initiative, a Bridge Back to Gnosticism: “Saya menantang para pendukung IPA untuk menunjukkan contoh-contoh dari Injil, dari Dewan Ekumenikal, atau pengajaran-pengajaran Paus, Orang Suci, atau Doktor dan para Bapa dari Gereja, yang memanggil para pemeluk kristen untuk beribadah bersamaan dengan gnostik (new agers), animis dan politheis (agama adat banyak bangsa Asia), atau atheis dan agnostik. (Ibadah bersama tampaknya tidak memiliki preseden sebelum Parliament of the World’s Religions pada tahun 1893, dan merupakan sebuah fenomena berbeda dari dialog antar-kepercayaan atau berbagi kasih sayang — yang konsisten dengan pengajaran Gereja sebagaimana diungkapkan pada Vatican II.) ... Hendaknya dicatat bahwa dokumen-dokumen IPA dan pernyataan-pernyataan para pendukungnya menunjukkan beberapa kejahatan yang dikecam oleh Paus: “sebuah religiusitas yang samar-samar, tidak mampu datang untuk mengatasi dengan pertanyaan kebenaran dan persyaratan konsistensi,” “hilangnya rasa transenden kehidupan manusia,” “kebingungan dalam bidang etika, bahkan tentang nilai-nilai fundamental penghargaan atas kehidupan dan keluarga,” “relativisme etika,” “pandangan teologis yang keliru,” dan “persetujuan ditunjukkan oleh banyak orang Kristen mengenai pelanggaran hak asasi manusia oleh rezim totaliter.”” Namun demikian sulit untuk menghindari membuat paralel antara pertemuan Paus dengan beberapa anggota agama-agama dunia sebagaimana dia lakukan di Assisi pada tahun 1986 (juga di Rome pada tahun 1999) dan ketika the United Nations Millennium World Peace Summit diselenggarakan pada skala yang lebih besar pada bulan Agustus tahun 2000. Kebetulan, Shaykh Kuftaro berpartisipasi dalam kedua forum.

Kewarganegaraan Global

Pada bulan April 1997 di Vancouver, British Columbia, Kongres Pemuda Kewarganegaraan Global diorganisir oleh, yang salah satunya oleh, Dr. Desmond E. Berghofer, mantan asisten Wakil Menteri Pendidikan Lanjutan di Pemerintah Alberto, Kanada. Dia menyatakan: “...orang sudah lupa bahwa pikiran sadar mereka adalah bagian dari kesadaran universal, yang menyertakan bumi, ibu kita. Dengan melihat mereka terpisah dari bumi, orang menggunakan energi hidup mereka untuk berjalan dalam konflik dengan paksaan hidup universal... ketika kesadaran manusia tiba ke dunia, kesadaran itu datang sebagai energi...”

Dr. Berghofer menulis buku, The Visioneers, di mana dia melukiskan sebuah dunia tanpa batas nasional, agama yang satu, dan kedamaian di bumi melalui hubungan dengan planet, yang telah diperbarui. ‘Visioneering’ adalah sebuah konsep evolusioner yang mengangkat kemanusiaan melalui ‘kewarganegaraan global’. Kosa kata dan konotasi agama dari ide-ide ini adalah luar biasa. Salah satu peserta yang hadir di acara tahun 1997 adalah perwakilan PBB, Dr. Robert Muller, seorang tokoh terkemuka jaman baru yang menyatakan keyakinannya dalam kesadaran kosmis yang terus berkembang global, dengan cara sebagai berikut:

“...bersikap secara benar terhadap Bumi...Anda bukanlah anak Kanada, anda adalah unit kosmos yang hidup karena bumi adalah fenomena kosmik...kita semua adalah unit kosmik. Itulah sebabnya kenapa agama memberitahukan kepada anda, anda adalah istimewa (divine). Kita semua adalah energi istimewa...”