Kapitalisme berlanjut

Apa yang sesungguhnya terjadi di sela kumpulan berskala global dan universal ini adalah bahwa usaha untuk meng-abstrakan masalah yang sesungguhnya, guna menghasilkan prinsip bersama dan menjaga diskusi ‘kedamaian, toleransi dan perbedaan’ tetap dikemukakan dan guna menyebarkan ide jaman baru | new age. Mempercayai kebenaran kumpulan semacam itu secara teguh berarti mempercayai bahwa kedamaian dapat dibuat undang-undangnya atau bahwa, jika kedamaian tidak dapat diundang-undangkan, hendaknya berlanjut di tangan sejenis kekuatan yang saat ini dimonopoli oleh perusahaan multinasional dan pemerintahan dunia. Jika kumpulan ini dibuat guna melayani supaya kapitalisme tetap hidup untuk satu hari saja lagi, maka kumpulan-kumpulan itu mengabdi kepada kapitalisme. Ini berarti bahwa di belakang motto ‘perbedaan, toleransi dan kedamaian’, kita harus melihat melalui lensa kebalikannya dari praksis kapitalis, sesuatu yang sangat berbeda: kewarganegaraan, ketidakacuhan, dan penindasan.

Para pemimpin dunia dikumpulkan di tahun 2000 di New York, dalam jumlah yang tidak dapat ditiru, untuk menyaksikan parodi lain pelanggengan sistem kapitalis. Bukti bahwa kumpulan-kumpulan tersebut tidak bertujuan sesuai dengan isi klaimnya, yaitu salah satu pembicara adalah Stephen Covey (pengarang buku Tujuh Kebiasaan dari Manusia yang sangat Efektif | Seven Habits of Highly Effective People ). Dia berkata kepada para pemimpin bahwa mereka “harus meluruskan sistim-sistim nilai mereka sendiri” dan “harus melepaskan pemberdayaan” melalui “visi, disiplin dan nafs (passion) mereka” yang dihubungkan kepada “per-modelan, penemuan jalan (pathfinding), pelurusan [sistem-sistem nilai] dan pemberdayaan”. Covey kemudian menunjukkan tiga video dengan pesan-pesan semacam “apakah anda mendengar yang tidak terdengar (do you hear the unheard)?” dan “Para pemimpin mampu memahami saling keterkaitan (connections)” yang muncul di atas sebuah layar seperti halnya kupu-kupu yang mengepakkan sayap-sayapnya dan matahari terbenam yang berkelap-kelip layaknya keindahan musik piano.

Ada kumpulan lain yang tidak pernah berlangsung. Pesta-pesta itu adalah: kapitalisme industri, kapitalisme finansial, kapitalisme monopoli dan kapitalisme perusahaan multinasional. Sejak kapitalisme-kapitalisme itu merobek-robek dunia, mereka perlu bersetuju menghentikan kekerasan dan kesengsaraan. Kapitalisme industrial, dengan negara yang bertugas sebagai penjaga malamnya dan organisasi-organisasinya yang seperti militer, bertanggung jawab untuk penaklukan kekaisaran sektor-sektor yang luas seperti populasi dunia dan sumber-sumbernya, dan juga industrialisasi dari peranan dan fungsi perempuan di masyarakat. Kapitalisme Finansial, dengan negara yang berhutang kepada bank yang menggagahinya serta institusi-institusi finansial, adalah pemiskinan setengah penghuni benua Afrika dengan konsekuensi langsung pada kesehatan dan kualitas hidup orang-orangnya. Kapitalisme monopoli, dengan campur tangan negara dan administrasi birokrasi, menghancurkan bentuk-bentuk industri dan perdagangan tradisional, dan juga mengurangi kecakapan laki-laki dan perempuan kepada bentuk aktifitas ekonomi terendah: perburuhan. Kapitalisme perusahaan multinasional, dengan negara bangkrut yang menyerupai otoriter dan administrasi intens angkatan kerja, mengubah agresi utamanya melawan massa populasi yang tidak diinginkan, yang tidak berharga untuk dieksploitasi, sementara orang-orang itu tidak diberi kesempatan untuk berdiri di atas kaki sendiri. Dominasi kapitalis berarti keberlanjutan penaklukan kapitalis, eksploitasi beserta penindasannya. Agama-agama, dalam budaya toleransi saat ini hanyalah kambing hitam. Setelah membuat agama tidak relevan dengan proses politik dan ekonomi, kemudian mereka menyarankan bahwa mereka dapat mempertanggungjawabkan sikap tidak toleransi dan kekerasan adalah penipuan sinis dan usaha jelas untuk mengalihkan perhatian jauh-jauh dari para pelaku yang sesungguhnya harus bertanggung jawab.

Pernikahan budaya antara populisme dan esoterisisme tampak menggantikan debat intelektual secara keseluruhan. Namun kecenderungan kepada refleksi esoterik dan abstrak ini bukan sepenuhnya tak berarti. Arti dari kecenderungan itu tidak seperti yang mereka katakan; tetapi harus ditemukan dalam pengelakan tema yang disaring oleh bahasa-bahasa pengelakan itu. Tujuan dari analisa anti dogma yang 'mendalam' ini, tentu saja adalah bertindak. Sementara narasi buku ini menyita waktu berharga perdebatan di antara para pemimpin dunia, genggaman kapitalisme (riba) kepada dunia semakin mengendor. Ketidakjelasan dan makna ganda bahasa universal di buku ini bukan dimaksudkan untuk menyinggung perasaan. Yang menyinggung adalah keyakinan buta yang ditempatkan pada bahasa-bahasa itu oleh tatanan yang sudah mapan. Hal ini terutama melibatkan Muslim.