Kitab Suci Dunia

Sebuah Kitab Suci Dunia, yang “mengumpulkan pesan-pesan dari kitab-kitab suci dari bermacam agama dan tradisi pada topik-topik tertentu” diuraikan oleh pertemuan puncak tokoh agama multi-kepercayaan termasuk Shaykh Kuftaro dan Dr. Inamullah Khan, pendiri dan sekjen Modern World Muslim Congress dan wakil presiden Konstitusi dan Asosiasi Parlemen Dunia. Pendeta Sun Myung Moon, kepala unifikasi gereja (the moonies) dan orang yang mengumumkan diri sendiri sebagai Mesiah, pertama kali menyusun ide Kitab Suci Dunia dan penugasan persiapannya. Pengantar Kitab Suci Dunia mengatakan:

“Gerakan untuk “ekumenisme yang lebih luas” telah mulai, membawa bersama dialog para pemimpin dan sarjana dari semua agama-agama dunia. Para ahli teologi dari semua kepercayaan menegaskan nilai positif agama lain dan berusaha menanggulangi prasangka dari masa silam. Sekarang luas diketahui bahwa pencarian manusia akan Tuhan, atau untuk Realitas yang Tidak Terbatas, apapun disebutnya, adalah akar dari semua agama-agama.

... Dialog antar agama di jaman sekarang sudah berada di luar langkah pertama menghargai agama lain guna mengembangkan pengenalan bahwa agama-agama dunia memiliki banyak kesamaan. Partisipan kristen bisa jadi menemukan sesuatu dalam Islam, misal, yang bisa memperdalam kekristenannya, dan partisipan Muslim bisa menemukan suatu perintah dari pengajaran Budhisme. Dasar kesamaan antar agama-agama menjadi lebih tampak karena partner-partner dialog menembus batas-batas ketidaksepakatan doktrin.

Sekarang seruan untuk sebuah “teologi dunia” telah disuarakan oleh banyak sarjana, termasuk Wilfred Cantwell Smith, John Hick, dan Raimundo Panikkar.”

Perlunya mengatur kitab suci adalah mengatur ‘rasa hormat’ bagi semua agama yang berbeda tanpa perasaan kontradiksi apapun saat menyatakan keperluan inti mereka, penyatuan agama-agama:

“Semua agama tidak mengajarkan risalah yang sama. Kontributor telah memberikan bagian yang cukup mewakili kekuatan utama dari ajaran masing-masing agama. Namun, karena ajaran masing-masing agama yang dibawa, keluar dari bingkai umum acuan mereka, akibatnya ada bahaya salah tafsir. Karena itu, adalah salah membaca Kitab Suci Dunia seolah-olah memproklamasikan pengajaran monolitik universal agama-agama. Tetapi lebih kepada, persamaan dan tema-tema umum yang digarisbawahi dalam antologi ini hendaknya dipandang terhadap pesan khas masing-masing agama. Pembaca diperingatkan: sampai salah satu mengambil langkah pertama untuk memahami masing-masing agama dalam kekhasan sendiri, kontribusinya pada penyatuan agama-agama mungkin disalahartikan.” [cetak miring dari penulis]