Parlemen Dunia

PARLEMEN PERTAMA TAHUN 1893

‘Parlemen Agama-agama Dunia’ ( ‘Parliament of the World’s Religions’ ) pertama berlangsung di Chicago di tahun 1893, diselenggarakan selama Eksposisi Kolombia di Chicago, merayakan perayaan ke-400 ekspedisi Christopher Columbus’ ke Amerika. Walaupun kumpulan ini dominan kristen, baik itu delegasi yang hadir dan tema acaranya, dan tidak benar-benar global (karena mayoritas agama-agama dunia tidak diwakili), menyediakan kesempatan yang sangat menguntungkan guna memperkenalkan agama tertentu dari Timur dan Timur Dekat kepada Barat (misal hinduisme, buddhisme dan kepercayaan bahai (baha'i faith).

Salah satu bintang pada parlemen pertama adalah Swami Vivekananda. Vivekananda adalah seorang murid India berumur 30 tahun dari Sri Ramakrishna (1836-86), seorang ‘titisan’ yang dihormati (tuhan-manusia) yang mengklaim telah mengikuti pengajaran kebaktian dari beberapa agama (termasuk kristen) dan menemukan agama-agama itu secara esensial sama sebagaimana orang-orang dengan keyakinan hindu mereka. Vivekananda mengembangkan tema ini dengan kesuksesan besar di parlemen, berbicara dengan hormat tentang Yesus bahwa tuhan yang disembah dengan banyak nama pada agama-agama dunia adalah satu dan sama. Setelah Parlemen itu, Vivekananda mendirikan ‘Vedanta Societies’ (berafiliasi dengan Ramakrishna Order di India) di beberapa kota-kota di Amerika. Ini adalah pos terdepan misionaris pertama dari sebuah agama Timur di Amerika Serikat.

Parlemen pertama ditandai juga sebagai awal dari gerakan lintas agama, dengan mengejar dialog formal dan kerjasama antar agama di dunia.

PARLEMEN 1993

Setelah se-abad berlalu, 'Parlemen' lain diselenggarakan di kota Chicago pada bulan Agustus / September 1993. Acara ini menarik 8000 peserta dari hampir semua agama di dunia. The first plenary address Parlemen disampaikan oleh Robert Muller di bawah judul ' Pemahaman Antar-kepercayaan'. Pesannya adalah zaman baru klasik:

“Ada satu tanda setelah tanda lain, di manapun anda melihat, bahwa kita berada pada malam menjelang dari Jaman Baru yang akan menjadi zaman spiritual. ...Kita memasuki sebuah jaman universalisme. Kemanapun engkau berpaling, orang bicara tentang pendidikan global, informasi global, komunikasi global — setiap profesi di bumi sekarang memerlukan dimensi global. Seluruh umat manusia menjadi saling bergantung, menjadi satu...Parlemen ini dan apa yang terjadi sekarang pada dunia...adalah renaisance, titik balik sejarah manusia. Sehingga bahkan ahli nujum mulai memberitahu kita bahwa akan terjadi perubahan fundamental.”

Muller mengamati bahwa PBB telah berubah dari penyedia bantuan materi kepada bangsa-bangsa menjadi penyedia bingkai kerja etik bagi masalah-masalah internasional (semisal hak asasi manusia):

“Tetapi tahap akhir belum dilakukan oleh PBB, dan itu adalah tahap yang Sri Chinmoy ['guru hindu di PBB'] dan banyak dari kita di PBB telah janjikan; yaitu, kita harus menambahkan dimensi terakhir kepada hal ini, yang merupakan yang tertinggi, yang merupakan yang terbesar, yang merupakan suatu hal yang akan meletakkan sesuatu ke tempatnya; yaitu, dimensi spiritual....Itulah sebabnya kenapa Parlemen ini begitu penting. Parlemen itu didirikan di saat yang tepat.”

Muller menasihatkan bahwa kesimpulan dan rekomendasi dari Parlemen didaftarkan ke PBB sebagai kontribusi kepada pemikiran dilakukan pada tatanan dunia baru. Dia mengajukan bahwa Parlemen Agama-agama Dunia lainnya diselenggarakan di tahun 2000 untuk melihat di mana kita berdiri, dan — membuat pengamatannya yang terpenting sebagai mantan pegawai resmi PBB — dia mendesak untuk diciptakan institusi permanen:

“Apa yang dibutuhkan adalah tempat di mana anda memiliki sejumlah orang yang cukup banyak ... bekerja sama setiap hari. Ini adalah keajaiban yang telah saya lihat di PBB... Dan ketika anda melakukan hal ini pada berbagai agama — jika membentuk sekertariat internasional, atau sebuah parlemen tetap, atau sebuah agen spiritual dunia — jika anda melakukan hal ini, segala sesuatu akan berubah....Ini adalah, dalam pendapat saya, hasil tunggal yang terpenting yang dihasilkan oleh parlemen ini.” Sebelum parlemen di tahun 1988, sekelompok akademisi dan pemimpin agama di Amerika mendirikan sebuah Dewan untuk Parlemen Agama-agama Dunia, dengan tujuan mengorganisir perayaan seratus tahun Parlemen. Di antara para pendiri Dewan ini adalah seorang Indian Muslim yang lulus dari Aligarh Muslim University yang bermukin di Chicago, dengan nama Dr. ‘Irfan Ahmad Khan. Dr. ‘Irfan Ahmad Khan adalah profesor di American Islamic College di Chicago, juga Wali dari Parlemen Agama-agama Dunia, Ketua komite antar kepercayaan, dan perwakilan PBB di Muslim World League di Saudi Arabia.

Tidak seperti Parlemen pertama di tahun 1893, di Parlemen kali ini sejumlah sarjana Muslim yang signifikan, berpartisipasi. Di antara duapuluhlima presiden di Parlemen tahun 1993 empat adalah presiden Muslim:

1. Imam Warith Deen Muhammad, Juru bicara International American Muslim.
2. Hon. Sayed Shabuddin, anggota parlemen dan editor Muslim India.
3. Dr. Asad Husain, Presiden, American Islamic College di Chicago.
4. Shaykh Kamel al-Sharif, mantan menteri pendidikan Yordania.

Institut Urusan-urusan Muslim Minoritas yang berbasis di Jeddah adalah salah-satu sponsor parlemen, dan Muslim World League (MWL) memberikan kontribusi finansial kepada Parlemen, dan Prince Muhammad al-Faisal bin Turki adalah salah satu pembicara di Parlemen. MWL nya wahabi diwakili oleh sekjennya Abdullah Omar Naseef. Partisipan lain adalah Dr. Inamullah Khan.

Salah satu presiden parlemen, Asad Husain dilaporkan telah berkata:

“Saya sangat banyak membantu urusan PBB yang berkenaan dengan agama-agama. Kami akan memberikan sebuah kepemimpinan ... bagi kebangkitan agama yang akan memberi harapan nyata dan kebahagiaan kepada orang-orang di dunia.”

PARLEMEN DI TAHUN 1999

Karena ‘sukses’ nya Parlemen di tahun 1993, Dewan tersebut memutuskan untuk mengumpulkan kembali Parlemen setiap lima tahun di berbagai belahan dunia yang berbeda. Setelah perubahan-perubahan politik yang sangat penting yang berlangsung di Afrika Selatan di tahun 1994 dan peran inspirasional semua agama pada gerakan Anti Apartheid diputuskan untuk mengumpulkan kembali Parlemen Agama-agama Dunia yang Ketiga di Cape Town, Afrika Selatan. Pada bulan Juli 1998, setelah dua tahun kerja awal sebuah komite tuan rumah yang disebut Parlemen Agama-agama Dunia, Afrika Selatan, tahun 1999 didirikan. Parlemen tersebut meminta agama-agama untuk terlibat hal lain dalam “menangani masalah-masalah kritis dunia”. Kumpulan di Cape Town itu memiliki dua tujuan, menurut para penyelenggaranya, “melibatkan para pemimpin agama di seluruh dunia dalam dialog antar agama dan mendorong mereka berkolaborasi bagi perubahan sosial dengan pemerintah, buruh, perdagangan, ilmu pengetahuan, bisnis, media, pendidikan dan bidang-bidang berpengaruh lain.”

Kongres Muslim Dunia (Mu’tamar al-‘Alam al-Islami) di Pakistan mengadopsi sikap militan yang mendukung Parlemen, dan selama 1998 mengambil sebuah resolusi untuk menyeru Muslim mendukung Parlemen tahun 1999. Sejumlah sarjana Islam internasional diundang untuk ikut ambil bagian di Parlemen Cape Town yang berlangsung 8 hari dari 1 - 8 Desember 1999. Di antara mereka adalah:

1. Dr. Maneh al-Johani, Sekjen World Assembly of Muslim Youth (WAMY).

2. Ataullah Siddiqi, Islamic Foundation, Leicester, Britain (sebuah badan yang dibuat untuk dialog antar agama dipimpin oleh Khurshid Ahmad, anggota Jamaat al-Islamiyah dan pengikut Maududi yang bersemangat).

3. Dr. Mustapha Ceric, Mufti of Bosnia. Mr. Ceric sering mengikuti kumpulan dialog antar agama, suatu undangan yang kontradiktif bagi orang bernegara Muslim yang saat ini menderita begitu banyak dari orthodok dan katholik kristen.