Pengantar

Tidak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah, bahwa kepemilikan atas informasi telah menjadi kekuatan yang sangat meyakinkan. Kepemilikan, penggunaan dan pengendalian informasi telah menjadi tema sentral dari elit pemerintahan. Akan tetapi kelemahan kekuatan berbasis informasi ini dapat dilihat dalam cara memandang kritik. Tidak ada kritik yang membuat takut penguasa kecuali kritik: ‘anti demokrasi’ atau kritik untuk ‘menjadi tidak toleran’ yang mana kedua kritik itu didefinisikan sebagai kejahatan . Akibatnya, bahasa telah menjadi instrumen yang menyediakan kendali. Kata-kata yang tidak terkendali secara tetap dipandang lebih berbahaya bagi kekuasaan ketimbang pasukan bersenjata. Sebaliknya, kata-kata mitos yang melayani kekuasaan telah merubah bahasa menjadi perisai untuk melanggengkan kekuasaan.

Sebagaimana halnya mitos di Jaman Pertengahan mengijinkan masyarakat dalam cara yang sederhana untuk membedakan kebaikan dari kejahatan, serta mendefinisikan ke-tabu-an dan ketakutan yang tidak masuk akal. Dan sekarang hal yang sama dilakukan terhadap bahasa. Kata seperti ‘toleransi’ dan slogan seperti ‘hak asasi manusia’ dan ‘persaudaraan umat manusia’ telah melebihi berat timbangan yang melampaui agama, pemerintah, bangsa, dan budaya. Kata-kata ini digunakan sebagaimana halnya kesatria jaman pertengahan menggunakan senjatanya. Kata-kata itu diarahkan dengan tepat kepada segala sesuatu yang dapat mengancam kekuasaan elit, yang secara hati-hati mengendalikan penggunaan kata-kata itu untuk menjamin kata-kata itu tidak pernah diarahkan menuju diri mereka sendiri. Kekuatan mereka bergantung kepada kata-kata itu. Ini juga bisa berarti bahwa kekuatan mereka bergantung kepada ilusi.

Sebuah peradaban yang tidak dapat membedakan kenyataan dengan ilusi, adalah sebuah peradaban yang berada di ujung akhir hayatnya. Peradaban Barat telah kehilangan kapasitas mengkritik secara mendalam masyarakatnya sendiri. Kata ‘kebebasan’ dan ‘demokrasi’ telah kehilangan kemampuan mengkritik diri sendiri secara keras dan secara rasional telah membantu membenarkan institusionalisasi tidak paralel dan permanen kekerasan negara dan pemajakan. Bahasa yang digunakan untuk melawan penyalahgunaan yang dilakukan oleh negara dan perbankan telah hilang dalam mendukung nilai-nilai ukur baru. Dengan demikian, jenis pajak seperti pajak pertambahan nilai dapat terus-menerus naik tanpa rasa takut sama sekali karena orang terpesona dengan demokrasi yang dia nikmati, tidak seperti orang lain dari ‘dunia ketiga’. Secara ironis ketika kita bicara tanpa akhir tentang individualisme, pandangan sekilas pada beberapa isu besar mengungkap bahwa kita hidup di jaman paham konformisme besar-besaran.

Dalam menguji fenomena esoterik kita mendapati ‘kata-kata bertuah’ berikut ini terutama, ‘toleransi’ dan ‘hak asasi manusia’. Konsep-konsep ini bukanlah kecelakaan sehingga artinya menjadi seperti sekarang ini. Kata-kata itu dipilih dan dimajukan untuk diselaraskan dengan kehidupan modern saat ini. Karena fenomena fundamental yang menegakkan masyarakat saat ini adalah kapitalisme, fungsi pokok dari nilai-nilai yang disebutkan di atas adalah untuk melanggengkan kapitalisme. Tanpa membongkar kejahatan kata-kata ini, kita seperti sedang mencari hantu, karena nilai-nilai dan lembaga-lembaga yang mewakili kata-kata itu berfungsi melanggengkan kapitalisme, dan esoterisasi itu adalah kapitalisme juga, dan bukan kata-kata itu sendiri yang harus diuji melainkan penggunaannya dan asasnya. Kita tidak dapat menyepelekan kenyataan ini, sementara asas-asas ini dihadirkan dengan gencar kepada dunia yang belum pernah dilakukan sebelum ini dalam sejarah, kapitalisme meluncurkan revolusi terakhir dalam pencariannya untuk mendominasi dunia. Evolusi kapitalis dalam bentuk de-regulasi finansialnya sekarang ini — digunakan saat ini di seluruh dunia untuk merangsang pertumbuhan melalui spekulasi kertas-kertas — perang bebuyutannya IMF melawan emas, dan penetrasi sungguh-sungguh lembaga pemerintahan dunia, semua berasosiasi dengan kebangkitan toleransi dan hak asasi manusia. Dua wacana ini dijaga terpisah dan pemisahan wacana toleransi dari hak asasi manusia ini adalah penipuan. Walaupun kata-kata itu secara intelektual terpisah dari wacana resmi, Pada kenyataanya tidak dapat dibantah bahwa asas-asas itu memiliki pertumbuhan paralel yang saling berhubungan. Pertumbuhan etika esoterik dan ekonomi dengan krisis. Kita telah mencapai titik krisis akibat Pemerintahan Dunia yang artinya akhir kejayaan kapitalisme beserta akhir semangat toleransi.

Toleransi dan ekonomi dilahirkan di ranjang yang sama. Locke, Turgot, Bentham, Smith and Mill menciptakan ide toleransi yang kita miliki saat ini. Mereka bukanlah para biarawan, mereka adalah para pemuka dalam bidang ekonomi. Mereka adalah para penemu ilmu ekonomi yang merajalela dan mengatur masyarakat kita. Mereka melihat toleransi sebagai tuntutan esensial bagi perkembangan negara modern, yaitu negara kapitalis. Kita lupa betapa pentingnya toleransi sebagai sebuah instrumen formasi negara. Toleransi digunakan untuk menghapus segala sesuatu yang mencegah warga negara mengenali kejahatan sebuah negara. Jika anda tidak menerima toleransi, anda akan kehilangan 'identitas menyimpang' anda. Dan ini tentu saja mempengaruhi umat Muslim dan apa akibatnya jika Muslim ada di bawah payung toleransi? Edward Freeman memandang, pada tahun 1876 dalam tulisannya History and Conquest of the Saracens:

“Ada orang-orang di jaman kita ini yang mempelajari dengan sungguh-sungguh bahwa pemerintahan berbasis ajaran Muhammad, supaya menjadi benar-benar toleran, harus berhenti menjadi pemerintahan Muhammad ... Selama pemerintahan tetap berbasis ajaran Muhammad, maka selama itu juga akan dikendalikan oleh Jihad berupa sikap tegas menawarkan kepada wilayah-wilayah yang diekspansi, untuk memilih salah satu ‘Ikuti Qur'an (masuk Islam), Bayar Upeti (jizyah) atau Pedang (diperangi sampai tunduk mau mengikuti salah satu; Qur'an atau Bayar Upeti)’.”

Adalah alami bagi Freeman menyimpulkan bahwa untuk menjadi toleran anda harus berhenti menjadi Muslim. Dalam bahasa saat ini kita akan berkata, “menjadi Muslim artinya menjadi toleran.” Ini karena pengikut Freeman sekarang merasa bahwa mereka memiliki kekuatan merubah Islam. Dan ini adalah kekuatan baru ketika kata-kata ini telah mengambil alih kendali masyarakat berbasis informasi kita. Kata-kata itu memiliki kekuatan untuk mengesampingkan segala sesuatu yang menghalangi jalan mereka. Siapapun yang menggunakan kata ini, apakah dia Muslim atau bukan, apakah dia menyangkal toleransi atau tidak, sudah terjerat dalam permainan makna yang ditetapkan sebelumnya, baik itu aturannya maupun akibatnya. Siapapun yang bersifat ‘toleran’ saat ini harus berhenti dari menjadi apapun. Ini adalah nihilisme.

Menjadi toleran bukanlah pilihan. Hans Küng, ahli teologi terkemuka agama Katolik, dalam bukunya Global Responsibility: In Search of a New World Ethic (1990) menetapkan sebagai berikut:

“Setiap bentuk konservatisme gereja harus ditolak... Untuk membuatnya blak-blakan: tidak ada agama regresif atau represif — apakah itu Kristen, Islam, Yahudi atau darimanapun asalnya — memiliki jangka panjang. ...Jika etika berfungsi untuk memperbaiki perbuatan, etika itu harus tidak terpisahkan. Dunia yang tidak terbagi semakin memerlukan sebuah etika yang tidak terpisah. Laki-laki dan perempuan pasca-modern memerlukan nilai umum, tujuan, hal-hal yang ideal, pandangan. Tetapi pertanyaan besar yang masih diperselisihkan adalah: tidakkah semua ini tidak mencontohkan keyakinan agama? ... Apa yang kita butuhkan adalah sebuah tatanan dunia ekumenis.”

Ekonomi juga bukan hal yang dapat dipilih. Salah satu dari ekspresi nihilis dengan salah satu latar belakang ekonomi yang jelas adalah ‘pasar’. Kenneth Arrow, ekonom pemenang hadiah nobel, mengamati bahwa ada tiga cara dasar bagi masyarakat apapun untuk menjatahkan sumber dayanya dan untuk membuat pilihan 'sosial dasar' lainnya. Di negara-negara berkembang paling ekonomis, keputusan sosial kalau tidak “bersifat politis” maka keputusan dibuat melalui “mekanisme pasar”. Namun pada bangsa-bangsa yang lebih terbelakang, Arrow menemukan bahwa pilihan sosial masih sering dibuat melalui “aturan tradisional yang luas cakupannya”, biasanya “aturan agama”. Hanya sebagai bangsa masuk lebih penuh ke dalam dunia modern yang menggantikan prosedur demokrasi dan pasar untuk keyakinan agama seperti itu. Diikuti dengan implikasi bahwa bagi sebuah masyarakat untuk menerima bahwa mengikuti ‘pasar’, hendaknya juga berhenti mengikuti agama.

Nilai-nilai ini telah berjalan bersama uang kertas yang tidak menandakan apapun. Hal itu tidak berarti bahwa nilai-nilai tersebut tidak membangkitkan gairah yang luar biasa. Tetapi nilai-nilai itu adalah simbol yang terputus dari kenyataan kekuasaan. Nilai-nilai itu adalah penghubung dan penjaga masyarakat yang diatur di bawah struktur rumit yang mengkhususkan pada keahlian ekslusif yang rumit yang mempersulit pemahaman universal sesulit-sulitnya. Sanjungan mereka berarti bahwa orang takut berkata bahwa mereka bukan apa apa karena diri mereka terlepas dari realitas kekuasaan. Paul Morand dari Academie Française berbicara dan mendefinisikan uang kertas dalam sebuah cara yang cerdas:

[... uang kertas itu bukanlah sesuatu yang benar-benar memiliki nilai; uang kertas adalah lambang dari lambang, yang akhirnya tidak ada nilainya sama sekali.]