PENYIMPANGAN ESOTERIC DALAM ISLAM

Segala puji bagi Allah, yang Maha Pengasih, yang paling Penyayang, Tuhan seluruh alam, Raja Hari Penghakiman, yang telah mengumpulkan semua pengetahuan dalam Dzat-Nya dan Yang Mencipta semua pengetahuan untuk selamanya. Semoga kedamaian dan rahmat atas Nabi yang dikasihi-Nya, Muhammad, yang tidak diajari oleh manusia tetapi oleh-Nya. Dia adalah yang terakhir dan Nabi paling dihormati, yang terakhir dalam rantai kenabian yang dibawa ke dunia ini dan yang telah menuntun kita ke jalan yang benar. Semoga berlimpah kedamaian dan rahmat atas Keluarganya dan para sahabat nya, yang dipilih di antara yang baik dan murah hati.

Tentu saja yang paling berharga, permata paling bernilai, keuntungan yang paling besar dari perdagangan manusia adalah pengetahuan. Hanya dengan kebijaksanaan kita mencapai Tauhid, sumber dari semua pengetahuan lainnya. Hanya dengan hikmat bisa kita mengerti dan mengikuti-Nya dan juga Rasulullah, sallallahu 'alaihi wa sallam. Orang-orang dengan pengetahuan yang terbaik dari para hamba yang telah menyerahkan diri kepada Allah dengan imbalan kebijaksanaan. Allah berfirman dalam Al-Qur'an: "Allah membimbing siapapun yang dikehendaki-Nya kepada Cahaya-Nya" (24, 35). Pengetahuan tentang hal ini adalah keseimbangan antara harapan dan ketakutan, dalam keinginan kita untuk dipilih. Dan Allah berfirman dalam Al-Qur'an: "Hanya hamba-hamba yang berpengetahuan yang takut kepada Allah" (35, 28). Pengetahuan ini adalah mengetahui bahwa taqwa adalah pintu pengetahuan.

Dalam menghadirkan buku ini saya menegaskan bahwa Islam adalah satu-satunya Deen yang diridhai di sisi Allah. Setiap orang harus tahu bahwa Islam adalah kebenaran yang tiada duanya yang menyiratkan bahwa Islam berada di atas agama dan kepercayaan spiritual lainnya. Semua kepercayaan lain mengandung penyimpangan dari ajaran asli para Nabi yang diutus sebelum Rasul terakhir, sallallahu ‘alayhi wa sallam, atau sekedar penemuan baru dari guru palsu. Rasul terakhir, sallallahu ‘alayhi wa sallam, membawa bentuk akhir Deen Allah dan Deen ini adalah Islam. Semua bentuk terdahulu Deen Allah, baik itu yang masih asli atau yang sudah menyimpang, dibatalkan oleh Islam. Muslim tidak butuh untuk kembali kepada kenabian masa lalu maupun naskah agamanya karena semua pengetahuan berguna ada di dalam Qur’an. Qur’an, karenanya, membatalkan semua kitab-kitab kenabian yang sebelumnya. Islam adalah benar dalam keseluruhannya, bukan hanya bagian tertentunya saja atau dalam beberapa jenis esensi yang diduga atau dalam bentuk terdahulu sebelum lengkap penyampaiannya pada akhir hidup Rasulullah, sallallahu ‘alayhi wa sallam. Muslim harus memeluk Islam secara utuh tanpa terkecuali, terkurangi atau tertunda.

Setiap orang wajib mematuhi Allah, subhanahu wa ta‘ala. Alhamdulillah, Muslim mampu memahami hal ini. Dengan kepatuhan (Taqwa) Muslim menyadari bahwa yang halal adalah mungkin. Hanya orang munafiq yang berkata bahwa yang Halal tidak mungkin. Dengan kepatuhan, keraguan yang dibuat-buat akan musnah dan cahaya la hawla wa la quwwata illa billah membuat seorang Muslim lebih jauh memahami apa tugasnya didunia dan bagaimana harus bertindak.

Tema yang akan selalu berulang dalam buku ini adalah ayat Qur'an “Satu-satunya Deen di sisi Allah adalah Islam.” Kami benar-benar sadar akan makna ini sehingga semua agama tidak diterima bagi Allah dan dengan demikian kami menganggap agama lain sebagai palsu. Bagi kami menegaskan kebenaran Islam adalah perenungan mendalam dari kepercayaan sejati kami. Karena kebenaran hanyalah satu. Bagi kami mustahil memberikan kesahihan kepada agama lain yang menegaskan ‘kebenaran lain’ (yang akan kita sebut ‘selain-Allah’). Selama berabad-abad penganut kristen telah mengklaim ambisi universalnya. Kami sungguh memahami hal itu. Untuk memberikan nilai identik kepada semua agama adalan nihilisme sejati: tidak ada yang lain. Kalimat ‘Semua agama sama benar’ adalah identik dengan kalimat ‘Semua agama sama salah’. Kami tidak dapat menerima itu. Kami bukanlah penganut paham nihilisme. Penganut kristen dengan reformasinya melewati proses bertahap transformasi yang kita definisikan dalam buku ini sebagai esoterisasi, yang mencapai nihilisme murni dengan Dewan Ekumenikal (ekumenisme) Vatikan Kedua. Kristen rupanya cemburu kepada agungnya pribadi seorang Muslim dan hanya melihatnya sebagai arogansi tanpa mengerti apa sebenarnya kepribadian Muslim itu. Tetapi dari ajaran nihilisme nya ‘hak asasi manusia’ tidak ada kemungkinan untuk memahami apa itu Islam sama sekali. Doktrin universal Hak Asasi Manusia, yang juga mengklaim kesahihan universal, dibuat untuk melawan agama. Ungkapan seperti hak asasi kristen adalah sama dengan ungkapan hak asasi Muslim. Ungkapan-ungkapan itu adalah produk kebingungan dan kesalahpahaman. Ungkapan-ungkapan itu adalah usaha untuk mereformasi agama di bawah keortodokan hak asasi manusia. Hak asasi manusia dipandang sebagai ortodok sementara agama dipandang sebagai hal yang kebetulan. Memberikan kepada Islam pandangan seperti itu berarti mengevaluasi ulang hak asasi manusia. Bagi penganut nihilisme kristen untuk memahami posisi kami, dia harus menjalankan perubahan.

Bagi orang-orang yang menganut keyakinan nihilisme semacam itu sulit bagi mereka memahami Muslim seperti kita, yaitu orang-orang yang menyatakan Islam satu-satunya Deen yang diterima di sisi Allah. Mereka tidak dapat masuk kepada pengalaman kita dengan nihilisme yang mereka anut. Ajaran relativisme yang mereka anut mencegah mereka dari melakukan yang demikian. Mereka hanya dapat melihat kita di permukaan, tanpa mengerti bahwa orang-orang yang menolak tunduk kepada Allah akan hancur, sebagaimana yang dimaksud oleh Islam. Mereka hanya dapat melihat dari halangan, tetapi mereka tidak mampu mengetahui apa makna bagi seorang Mukmin untuk menegaskan Kebenaran (sebagai Satu-satunya). Tetapi poin kami adalah bahwa keyakinan mereka yang sudah 'disetel' benar-benar sudah tidak mampu memahami hal itu lagi. Keyakinan yang mereka punya itu bukanlah beriman kepada Allah. Bahkan berhubungan dekatpun tidak. Keyakinan yang tidak membuka diri terhadap pengalaman hidup yang tidak terbatas dan ketundukan total kepada Allah, bukanlah Iman tapi hanya sekedar mencari kesenangan hidup. Keyakinannya kaum nihilis hanya sekedar menyetel pikirannya untuk melanggengkan warisan kapitalisme yang didukung oleh ajaran nihilismenya hak asasi manusia. Dari pandangan kaum penganut nihilisme, Islam kita dianggap sebagai kesombongan. Namun perbedaan antara Muslim dan non-Muslim adalah Rahmat dari Allah di dunia.

Dengan Menyangkal bahwa manusia harus Tunduk kepada Allah', sama saja dengan menurunkan derajat manusia menjadi sekedar benda dan nilai manfaat dari benda itu (utilitarian). Paham ini mulai mendominasi. Entah itu manusia dipandang sebagai pengukur dan penentu keadilan di dunia atau dia melihat dirinya sebagai sesuatu yang diukur dan diadili (ini adalah ajaran Ihsan). Pandangan bahwa manusia adalah sumber pengukur, adalah humanisme yang menghancurkan dunia saat ini.

Kepercayaan kristen kepada satu tuhan dengan tiga kepribadian, ibu dari tuhan dan trans-substansi dari biskuit suci, terlepas dari apakah pernyataan-pernyataan itu benar atau salah, tidak menawarkan akses kepada ketundukan kepada Allah yang dimaksud oleh Muslim (Islam). Sebaliknya, kalimat-kalimat itu mewakili pengganti, sebuah hiburan. Seseorang yang berkeyakinan kristen menyibukkan diri sendiri, terkadang menunjukkan minat pada keyakinannya, tetapi dia tidak dapat tunduk kepada Allah. Kristen sedemikian teresoterisasinya sehingga dia dapat dengan mudah masuk kepada ajaran hak asasi manusia tanpa kehilangan fokus atau bertentangan dengan keyakinan kristennya dan juga nilai-nilainya. Walaupun tidak semua penganut kristen menyetujui ajaran hak asasi manusia dan humanisme demokratis sebagai kebenaran di atas agama, faktanya adalah mereka tidak dapat melakukan apapun sehubungan dengan nihilisme ajarannya. Ungkapan kristen Tuhan Yang Maha Kuasa jika dibandingkan kepada dua ungkapan Islam La ilaha illa’llah dan la hawla wa la quwwata illa billah, tidak menawarkan jaminan untuk mencegah simbolisme atau spekulasi teologis, sebaliknya kristen terbuka untuk itu. Sedangkan Islam menolak setiap fondasi teologis.

Islam bukanlah sebuah teologi. Karenanya Islam tidak dapat disebut monoteistik, atau politeistik atau ateistik. Orang Kristen tidak dapat memahami Islam dengan cara ini. Islam menyeru kepada ajaran non-fundamentalis, rasa kebebasan. Jika orang kristen ingin mengetahui apa yang kita maksud dengan testimoni ‘sombong’ Kebenaran mutlak, dia harus melucuti terlebih dahulu dirinya dari paham nihilisme. Dia harus melompati penghalang dan tidak hanya bertanya secara intelektual. Diperlukan sesuatu yang lebih mendalam. Dia harus merasakan Islam. Ini bermakna secara eksistensial, ketimbang secara mental, untuk mengalami ketundukan kepada Allah, yang tidak ada sekutu bagi-Nya (Ahad) dan Pemelihara Dunia (Samad). Orang yang mampu merasakan kehadiran Allah melalui shalat dan dzikir adalah orang yang berbeda. Orang ini dapat berbuat di dunia. Bagi orang yang beruntung ini Islam adalah mutlak benar. Izinkanlah kami lebih jelas, pengalaman ini adalah mustahil bagi orang yang menganut paham nihilisme. Dia telah dikondisikan untuk tidak bebas lagi, dan karenanya, mematuhi Allah akan melepaskannya dari ketidakbebasan itu, karena tidak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Kaum nihilis hanya dapat berdiam di dalam bangunan kenyamanan. Orang Kristen, terutama setelah Nietzsche, hanya memiliki satu pilihan yaitu memeluk Islam.

Bagaimana dengan agama lain? Hindu, budha, zoroaster, dll, semuanya adalah musyrikun tanpa Kitab. Maksudnya keyakinan mereka adalah fiksi dan mereka telah kehilangan hubungan dengan Nabi asli mereka. Ini bukanlah persoalan yang dapat dinegosiasikan. Dan adapun untuk yahudi, walaupun mereka adalah ahli Kitab, sebagian besar mereka adalah agnostik.

Islam adalah satu-satunya agama yang sah, agama lain tidak dapat diterima di sisi Allah. Untuk alasan ini, Muslim memandang kepada agama lain dengan ketegasan dan belas kasihan. Hukum Islam mengizinkan non-Muslim untuk hidup di bawah perlindungan Dar al-Islam dengan status dzimmy. Hukum Dzimmy adalah hal yang sangat penting bagi Deen Islam. Di bawah umbul-umbul humanistik dan esoterik, Hukum Dzimmy dihapuskan, dan saat itu menandakan titik balik dalam kehidupan Kekhalifahan Ustmani.