TESIS BUKU INI

Para kapitalis juga menginginkan keselamatan, atau setidaknya tidak ingin dibilang kriminal. Masalahnya adalah untuk memberikan keselamatan kepada kapitalis atau membuatnya tidak dibilang kriminal, agama harus dirubah. Yaitu melakukan reformasi supaya agama dapat menerima atau tidak melakukan apapun terhadap kapitalisme. Tidak melakukan apapun terhadap kapitalisme berarti agama dipisahkan dari ekonomi dan politik: Sekuler . Dalam pandangan ini Anda dapat menjadi orang yang sempurna menjalankan ajaran agama sekaligus orang berpaham kapitalis dalam kehidupan sehari-harinya. Agama yang dihasilkan dari perubahan ini kita sebut agama kapitalis, karena setiap hal, setiap hukum, setiap ajaran dapat dirubah kecuali kapitalisme itu sendiri. Mekanisme perubahan ini adalah esoterisasi agama. Esoterisasi agama mengarah kepada sinkretisme , artinya introspeksi agama ke dalam agama itu sendiri dalam bentuk prinsip-prinsip dan kiasan yang terbuka kepada pembaruan penafsiran, sebuah bentuk agama tunggal dalam wujud banyak wajah yang akan membenarkan kapitalisme.

Kami bersikukuh bahwa kapitalisme adalah kejahatan. Kami diwajibkan untuk memberitahu penganut kapitalis puritan, yang berfikir bahwa dia adalah orang yang shalih karena moralitas seksual pribadinya tidak rusak (biasanya bermakna istrinya berkelakuan baik), tapi mengunjungi bank adalah kejahatan yang dosanya empatpuluh kali lebih besar daripada berzina dengan ibu sendiri, tidak dipedulikan. Dan ketika dia hampir berteriak putus asa bahwa dia bukan penjahat, kami dapat memberitahunya, “Lihat ada jalan keluar dari kapitalisme. Anda belum melihatnya dan Anda harus bertapa untuk dapat melihatnya, tetapi jalan itu adalah benar adanya. Waktunya telah tiba untuk meninggalkan agama berhala dan bergabung kepada satu-satunya agama yang menawarkan jalan keluar dari kejahatan kapitalisme, jalan itu adalah agama Allah yang disebut Islam.” “Tetapi saya pikir Islam adalah sesuatu yang berbeda,” dia akan keberatan. “Tidak, agama esoterik itu telah dijual kepada Anda dan dunia sejak keruntuhan Kekhalifahan, agama itu adalah penyimpangan dari Islam,” kami akan menjawab. Tanda bahwa Islam kembali akan menjadi kemenangannya, dalam bentuk restorasi Dar al-Islam di mana Islam secara sempurna akan direstorasi (Tidak ada kapitalisme, atau bank akan hidup di dalamnya) saat itulah Kekhalifahan telah dikembalikan untuk memerintah rakyat Muslim.

Peristiwa ekonomi dan politik selama tigaratus tahun terakhir adalah penciptaan negara modern. Tidak satupun peristiwa yang menyamai keganjilan, pendirian dan gembar-gembornya. Negara tersebut dilahirkan dari perpaduan pemerintah dan perbankan. Pemerintah menyadari bahwa kekuatan besar perbankan dapat menjadi milik mereka. Alih-alih melawan, mereka memutuskan untuk menyerapnya. Pemerintahan menjadi perbankan, dan perubahan riba ini melahirkan negara modern.

Negara modern kapitalis tersebut mengeluarkan atau mengizinkan dicetaknya nota bank atau uang kertas di bawah otoritas negara hukum, menyalahi aturan hukum agama. Bahkan hukum kristen juga melarang riba. Pengeluaran uang kertas menyediakan instrumen pengumpulan pajak yang jauh lebih efisien dari sebelumnya, dan uang kertas juga mendefinisikan ulang hubungan luar negeri, segera setelah negara menemukan bahwa membuang uang busuk mereka ke luar negeri memiliki efek yang sama seperti memajaki orang luar negeri dan lebih murah daripada mengirim pasukan penakluk.

Perenungan mendalam kepada peristiwa riba yang luar biasa ini memaksa kita untuk membuat pengamatan awal berikut ini:

- Dengan memeluk sistem perbankan, pemerintah menjadi entitas kapitalis yang kita sebut negara
- Entitas kapitalis ini adalah kapitalisme, menuntut identitas baru dari masyarakat. Identitas agama menjadi nomor dua dibandingkan identitas negara, atau subjek sebagai langganan pembayar pajak.
- Menghapus identitas agama disebut toleransi dan menjadi persoalan hukum dalam semua konstitusi baru, dan sistem hukum baru dari negara baru.
- Proses perendahan agama menjadi kelaziman yang dapat diterima semua umat manusia adalah yang kita sebut esoterisasi. Proses ini adalah penyesuaian yang didukung oleh kapitalisme.
- Masalah identitas merupakan isu kunci penting. Dalam Islam Deen adalah identitas dominan. Kebangsaan, ras, dan kelas bukanlah isu. Isu Kebangsaan lenyap di bawah kekhalifahan. Isu Ras larut dalam poligami, dan pembedaan kelas menghilang dengan pendirian gilda.
- Pembubaran identitas agama dapat dilakukan dalam dua cara; satu, cara agnostik, 'semua agama adalah salah' atau dua, cara esoterik, 'semua agama adalah benar'.
- Pembubaran identitas agama berarti bahwa agama dipandang sebagai kekolotan. Ketika agama mempertanyakan persoalan pajak pembayaran atau penerimaan mata uang nasional maka agama akan dianggap sebagai suatu kesesatan. Karenanya disebut kekolotan.
- Sedangkan dalam Islam, identitas ekonomi direndahkan untuk disesuaikan dengan Hukum Islam. Orang miskin, budak, orang merdeka, orang kaya, majikan dan cantrik semuanya berbagi dengan posisi setara yang membolehkan hubungan timbal balik dan perubahan.
- Islam adalah pemerintahan tanpa negara dan perdagangan tanpa riba. Kedatangan Islam akan berimplikasi, secara otomatis, hancurnya sistem perbankan dan industri jasanya: negara.

Kami percaya bahwa jika peristiwa ini tidak dipahami dengan benar maka tidak mungkin untuk memformulasikan sebuah alternatif bagi bentuk kekufuran ini. Masalahnya bukanlah kufr yang sulit dibedakan, karena kufur tetap akan kufr. Masalahnya adalah ketidakmampuan untuk membedakan kufr. Kita harus menemukan, setelah kegagalan ratusan tahun, apa yang salah dengan kita. Allah telah menjanjikan kemenangan kepada Muslim namun selama seratus tahun kita telah menjadi korban di dunia ini. Karena kita tidak dapat menyalahkan agama kita, kita harus menyalahkan diri kita sendiri. Kita perlu tahu bahwa apa yang kita lakukan salah. Ini bukanlah pertanyaan mudah untuk ditanyakan, kita jawab masing-masing saja.

Kita dapat melihat sekarang bahwa kapitalisme, supaya dapat berkembang, harus menyelewengkan aturan-aturan agama, dengan kata lain merubah agama demi kepentingan dan keberadaan kapitalis. Penyimpangan kapitalis ini yang kita sebut penyimpangan esoterik, berdasarkan pengejawantahan oleh kapitalisme itu sendiri. Kapitalisme tidak menyangkal agama, tetapi mengasingkannya ke ‘zona khusus agama’ supaya agama tidak berbuat apa-apa dalam masalah ekonomi. Sejenis aliran kepercayaan (spiritualitas), dikembangkan yang menyarankan bahwa kebangkitan spiritual dipisahkan dari tanggungjawab sosial. Dengan nama Tasawwuf versi esoterik yang dipromosikan gencar dan berbicara dengan konsep freemason yaitu ‘toleransi’ dan ‘persaudaraan umat manusia’, atau hal lain yang telah mereka rubah secara esoterik untuk menggantikan Syariah dan Jihad. Dalam bentuk ekstrimnya mereka tidak merasa perlu untuk mengikuti Syariah untuk menjadi Sufi esoterik, seperti gerakan Inayat Khan. Dalam beberapa bentuk membuat sebuah usaha sadar menciptakan agama lain seperti subud atau gerakan bahai. Tidak satupun dari gerakan penyimpangan esoterik ini yang menganggap ekonomi sebagai masalah spiritual. Ini adalah kejahatan. Mereka menganut jalan spiritual yang palsu.

Kami akan mendemonstrasikan di dalam buku ini, gerakan Islam abad ke-20 yang dilahirkan dari freemason militan yang aktif bergerak dan keseluruhan gerakan itu tercemar oleh pemikiran freemason, yang isinya pemikiran Barat disertai pemelintiran aturan-aturan. Pemikiran ini bukan hanya mempengaruhi ide-ide mereka tetapi juga cara bergeraknya. Kami akan menunjukkan bahwa dari para tokoh freemason yaitu Al-Afghani dan ‘Abduh, ada ‘isnad’ yang tidak terputus, guru ke murid, hingga sampai ke jaman kita. Kami akan menunjukkan bahwa orang-orang ini semuanya saling berhubungan, mengetahui dan saling belajar satu sama lain. Mereka berbicara menggunakan bahasa simbol yang sama, konsep simbol yang sama beserta kodenya yang semuanya mengarah menuju penciptaan ‘Islam baru’ (yang mustahil) yang terdiri dari islamisasi cara hidup berhala yang simbol terbesarnya adalah ‘bank syariah’. Kami akan menunjukkan anggota freemason lain, René Guénon (Abdalwahid Yahya), reformis besar fremasonri di abad terakhir, yang menjadi Muslim yang memulai madzhab baru filsafat perenial, juga membawa ajaran menyimpang ke dalam Islam. Dan kami akan menunjukkan bahwa dua gerakan freemason ini mencapai nihilisme total di akhir abad ke-20, dan bukan hanya menggabungkan perbuatan dan kata tetapi, dalam ambisi pragmatis mereka, menjadi terasimilasi kepada cara hidup pagan yang awalnya mereka kritik.

Tesis kami adalah: Reformasi Islam yang sekarang disebut Kebangkitan Islam, bukanlah seperti yang mereka klaim, kembali kepada Islam Salaf generasi pertama. Ide bahwa ‘Islam yang direformasi’ adalah kembali kepada Islam murni dan bahwa orang yang bertanggungjawab atas reformasi ini adalah pahlawan yang tidak dipertanyakan adalah jauh dari kenyataan. Yang terjadi adalah, reformis Islam dan kebangkitannya mewakili perjuangan politik untuk mengendalikan negara dan institusinya. Mereka tidak bermaksud untuk menghilangkan negara dan bank yaitu kapitalisme, tetapi untuk mengambil alih dan mengislamisasi negara dan bank dengan mencomot atau mereformasi Syariah untuk membenarkan tujuan politik mereka.

Perjuangan politik untuk mengendalikan negara ini melibatkan respon interaktif kepada perubahan keadaan kapitalisme, yang secara bertahap memaksa gerakan ini menjadi lebih pragmatis dalam mengejar hasil politik. Usaha mereka untuk mencapai kendali negara gagal total. Ketika beberapa negara mendeklarasikan diri sebagai negara Islam, dan hukum negara beserta mesin institusi dan bank ‘diislamkan’, maka bukti kegagalan mereka terungkap dengan sendirinya, mereka telah menjual model kehidupan Islam dan secara keseluruhan menjadi terasimilasi ke dalam tatanan kapitalis.

Reformasi Islam belum menyelesaikan masalah kita. Reformasi itu gagal menghasilkan pemimpin tunggal yang dapat menunjukkan kepada kita jalan kemenangan. Alasan kegagalan mereka adalah penyimpangan parah yang membuat mereka berfikir bahwa Islam perlu direformasi atau di-modernisasi. Abad ke-20 adalah abadnya para reformis. Programnya para reformis adalah menghancurkan Kekhalifahan dan kemerosotan umat Muslim. Cetak biru bank Islam bukanlah persoalan netral, bukan pula salah paham, itu adalah alat untuk melanggengkan kapitalisme dan menindih Muamalah Islam supaya tidak pernah bisa bangkit. Reformasi Islam mereka secara Islam adalah kejahatan dan penyimpangan. Kalau kita tidak mengenali orang-orang yang menjadi sumber kejahatan ini dan menendang mereka dari alam pikiran kita, mereka akan menjadi hantu yang menghantui masa depan kita. Kita perlu melakukan pembongkaran kejahatan ini agar dapat bergerak. Karenanya kejahatan Reformasi Islam harus dibongkar terlebih dahulu agar kita dapat mengenali mana yang Hak. Buku ini bertujuan untuk menendang para hantu yang berasal dari masa lalu itu. Hantu lain adalah negara Saudi Arabia. Selama sekian lama, tidak boleh mengungkit kepada dunia bahwa Saudi Arabia dilahirkan sebagai negara pemberontak. Negara itu dilahirkan sebagai hasil langsung serangan kepada Kekhalifahan Muslim menggunakan dukungan militer kafir Inggris. Biasanya pembaca Barat tidak mengetahui bahwa wahabi, sekte yang saat ini memerintah Saudi Arabia, adalah pemberontak dan bandit yang mematikan di Arabia di jaman Kekhalifahan. Wahabi secara jahat melawan Kekhalifahan Ustmani dan pemberontakan mereka juga yang menjadi salah satu kejatuhan Kekhalifahan. Sembari mengambil ‘musuh Islam’ sebagai pendukung dan kawan, mereka mendeklarasikan Jihad kepada umat Muslim. Mereka melakukan pemberontakan kepada otoritas Khalifah, menyangkal kesetiaan dan ketaatan yang diwajibkan kepadanya (yang Allah telah perintahkan dalam Qur’an). Mengambil Saudi sebagai otoritas pemimpin Islam murni adalah seumpama mengambil Stalinisme untuk mewakili jalan sejati Kaisar (Tsar) Rusia. Inggris menawarkan Arabia kepada kepada keluarga Saud karena Inggris melihat dalam keluarga Saud ada sebuah jaminan untuk memastikan perlawanan terus-menerus terhadap restorasi Kekhalifahan. Karena itu jalan kepada Kekhalifahan menghendaki negara Saudi dan ideologinya harus dihilangkan. Fatwa yang secara resmi dikeluarkan oleh rejim Saudi juga harus dibatalkan , di semenanjung Arabia atau tempat lain, dan orang-orang yang dididik di universitas mereka harus diteliti dengan curiga. Semua keputusan Islam yang secara resmi berasal dari mereka harus diperlakukan dengan kecurigaan serta dilabeli ‘made in Saudi Arabia’.

Kami berharap buku ini dapat membersihkan ladang untuk menanam bibit baru, guna membangun komunitas baru, mencapai tujuan baru, menciptakan kepemimpinan baru dan, dengan pertolongan Allah, merestorasi Kekhalifahan, insya’Allah. Pertanyaan kunci yang ada sebelum buku ini dan, kami harap, akan tetap berdiri bahkan setelah buku ini: “Adakah alternatif bagi kapitalisme?” Dalam menjawab pertanyaan ini banyak orang terikat untuk menemukan Islam dalam cara yang tidak tersedia bagi mereka sebelumnya, bagi kami, kapitalisme adalah wajah kufur jaman sekarang.

Dalam proses menulis buku ini saya diwajibkan untuk menguji tulisan-tulisan dari orang-orang yang menyebarkan ide-ide menyimpang ini. Dalam membaca tulisan-tulisan itu saya merasa seperti seorang dokter yang menguji tahi untuk mendiagnosa penyakit dan menghasilkan obat. Saya telah banyak mengutip dari naskah-naskah mereka dalam usaha menghadirkan ide mereka sebanyak mungkin sebagaimana yang dimaksudkan oleh penulisnya. Dengan demikian, kita dapat melihat semua pengarang ini, dan dapat mengenali, mungkin pertama dan kesekian kalinya, mereka semua berbagi ‘penyimpangan primordial’ yang erat berhubungan kepada freemasonry. Usaha tertentu telah dibuat untuk mengidentifikasi ekspresi simbolik mereka dan menemukan maksud sejati mereka dengan mengekspos pola berulang yang sering melibatkan beberapa pengarang. Saya juga telah menyoroti kelalaian mereka yang kadang lebih berarti ketimbang pernyataan mereka.

Penting bagi kita untuk mengklarifikasi bahwa bukan orang-orang ini yang menjadi masalah, dan mereka juga bukan solusi. Sebagaimana saya tunjukkan sebelumnya, masalah sesungguhnya bukan orang-orang ini, tetapi kapitalisme itu sendiri.